Xenoblade Chronicles 2 – Ulasan Game RPG Nintendo Switch

xenoblade chronicles 2

Tahun 2017 adalah tahun milik Nintendo, kalimat yang satu ini memang tidak bisa lagi dibantah. Untuk memastikan diri tidak mengulang kesalahan sama yang terjadi di Nintendo Wii U, Nintendo berhasil membuat jajaran game rilis tahun pertama Switch berakhir fantastis. Tidak hanya dihujani dengan game-game indie yang menjajal peruntungannya di sini, tetapi juga proyek game eksklusif dengan kualitas yang tidak bisa dipkamung sebelah mata. Kerennya lagi? Hal ini terjadi sepanjang tahun. Dibuka dengan Breath of the Wild, diisi dengan Splatoon 2, diperkuat dengan Super Mario Odyssey, dan akhirnya ditutup dengan salah satu game eksklusif yang paling diantisipasi untuk gamer pencinta JRPG – Xenoblade Chronicles 2. Sebuah game dengan dengung popularitas yang lemah, namun memancing rasa penasaran besar.

kamu yang sudah membaca preview crew domain terkait Xenoblade Chronicles 2 sepertinya sudah punya gambaran yang cukup jelas soal game yang diracik oleh Monolith Soft ini. crew domain memberikan perhatian khusus bagi desain karakternya, terutama untuk sosok protagonis wanita yang menggoda, sekaligus sistem pertarungan yang menyerupai MMO namun dengan pacing yang lebih lambat. Trope anime klise bertebaran dan terasa begitu familiar, di atas sebuah dunia yang menyimpan misteri dan sekaligus tantangan yang menunggu untuk ditaklukkan. Ada banyak kesibukan pula yang bisa kamu kejar lewat serangkaian misi sampingan yang ditawarkan. Harus diakui, eksekusi ini memang tidak sempurna. Beberapa terasa tepat sasaran, namun yang lain pantas memicu kritik tersendiri.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 2 ini? Mengapa crew domain menyebutnya sebagai game tak sempurna yang tetap menggoda? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Walaupun mendapatkan nama “2” di dalamnya, Xenoblade Chronicles 2 tidak punya hubungan cerita langsung dengan Xenoblade Chronicles yang sempat dirilis untuk Nintendo Wii dan juga Xenoblade Chronicles X yang dilepas untuk Nintendo Wii U. Akan ada satu benang merah jelas yang mengaitkan setidaknya dua seri, namun tidak seberapa signifikan untuk memaksa kamu harus, mencicipi kesemuanya terlebih dahulu. Ini adalah sebuah game dengan garis cerita terpisah yang jelas.

Di sebuah dunia yang disebut sebagai Alrest, kehidupan memang tidak lagi aktif dan tumbuh di atas permukaan tanah. Hampir semua makhluk hidup, termasuk manusia di dalamnya, hidup di atas punggung dan bagian tubuh monster raksasa bernama Titan yang tidak pernah lelah, untuk bergerak di atas lautan awan. kamu berperan sebagai seorang Scavenger bernama Rex, yang seperti nama pekerjaannya, bertugas untuk “menyelam” ke dalam peradaban masa lampau untuk menggali teknologi yang bisa dijual ke penadah. Rex sendiri hidup di atas sebuah Titan dalam ukuran lebih kecil yang ia panggil sebagai “Gramps” atau kakek.

Namun sayangnya, Alrest adalah sebuah dunia yang menuju kehancuran. Bahwa seperti makhluk hidup lainnya, para Titan yang berukuran besar ini merupakan makhluk hidup yang bisa menua dan tewas. Sementara di sisi lain, peradaban dan negara-negara yang terbentuk juga tidak membuat segala sesuatunya lebih baik. Perang terus berkecamuk dan justru beresiko kian mempercepat tewasnya para Titan ini. Dengan sisa Titan yang terbatas dan perang yang masih terjadi, harapan untuk bisa mencari sebuah solusi untuk menyelamatkan Alrest muncul di benak Rex. Legenda menyebut bahwa satu-satunya cara untuk melakukannya adalah memanjat sebuah pohon raksasa menjulang tinggi yang terletak di tengah dunia – World Tree. Kabarnya, di puncak pohon tersebut hiduplah seorang misterius bernama Architect yang menjadi sumber dari segala jenis kehidupan di Alrest dan dipercaya bisa mengembalikan kembali kondisi dunia ke bentuk yang seharusnya.

Mimpi Rex untuk mencapai World Tree dan menyelamatkan Alrest menjadi sebuah mimpi tidak rasional menjadi sesuatu yang mungkin dalam waktu singkat. Sebuah pekerjaan yang menjanjikan uang dalam jumlah besar menempatkannya dalam sebuah kelompok berisikan karakter seperti Jin, Malos, dan Nia. Ketiga anggota baru ini menyewa Rex untuk mengambil sebuah harta di dalam puingan peradaban kuno. Perjalanan ini membuka mata Rex untuk sebuah teknologi yang tidak pernah ia tahu. Di ujung, ia melihat sesosok wanita anggun yang terkunci di balik kaca. Sebelum bisa menggali informasi lebih jauh, pedang Jin menghunus jantungnya, dan Rex pun tewas.

Namun persinggungan Rex dengan sang wanita di balik kaca memunculkan sebuah kesempatan kedua yang terdengar layaknya keajaiban. Wanita yang punya nama Pyra tersebut ternyata adalah seorang Blade – sebuah “senjata hidup” yang memang dipresentasikan dalam begitu banyak bentuk dan jenis. Pyra siap merelakan setengah nyawa yang ia miliki untuk menghidupkan kembali Rex, dan keduanya akan berbagi sebuah hubungan yang tidak lagi terpisahkan. Sebagai gantinya? Rex harus berjanji untuk membawa Pyra ke World Tree untuk sebuah alasan yang juga tidak ia mengerti. Keduanya setuju, dan Rex “lahir kembali” sebagai Driver – seorang pengendali Blade, yang dalam skenario ini, tentu saja adalah Pyra. Keduanya berhasil memukul mundur Jin namun berakhir cedera dan terdampar di sebuah Titan berbeda.

Menyelamatkan diri dan menemukan Nia sebagai anggota tim yang juga ikut membelot untuk menolong Pyra di konflik terakhir yang terjadi, sebuah petualangan baru dimulai. Pelan tapi pasti, Rex menyadari bahwa ia telah menjadi seorang Driver untuk sebuah Blade yang tidak biasa. Blade yang dikejar oleh semua orang, Blade yang disebut-sebut memiliki kemampuan yang fantastis, Blade yang juga kabarnya telah membunuh banyak Titan ratusan tahun yang lalu. Pyra menjadi magnet untuk masalah.

Lantas, siapa sebenarnya Pyra? Mengapa ia begitu berambisi untuk mengunjungi World Tree? Tantangan seperti apa yang harus dihadapi Rex? Siapa pula Jin? Mampukah Alrest diselamatkan? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kamu dapatkan dengan memainkan Xenoblade Chronicles 2 ini.

Pendekatan “Anime”

Sepertinya sudah bukan rahasia lagi bahwa Nintendo Switch bukanlah konsol yang bisa kamu kamulkan untuk mendapatkan game dengan pendekatan visual yang realistis. Keterbatasan performa ini kemudian diakali dengan menciptakan game yang punya visualisasi yang lebih ringan dan kartun, tetapi tetap mempertahankan ciri khas warna, desain karakter, hingga sekedar tema utama yang diusung dengan cerita yang ada. Hal yang sama juga terjadi dengan Xenoblade Chronicles 2 ini. Ia memang lahir dari tangan developer Jepang, namun dari semua game JRPG yang crew domain cicipi selama beberapa tahun terakhir ini, ia yang mungkin mengusung trope anime yang paling kental. Kita tidak hanya sekedar bicara dari sisi cerita saja, tetapi juga desain karakter.

Karena sulit untuk mengakui bahwa yang kamu temukan di sini, memang desain karakter yang tidak hanya punya proporsi tubuh yang begitu berlebihan, tetapi juga memenuhi trope yang biasanya kamu temui di seri animasi Jepang tersebut. kamu bisa melihat Pyra misalnya, yang mengenakan sebuah pakaian ketat dengan ukuran payudara besar, atau mungkin alter egonya yang lain – Mythra yang mengusung konsep serupa dengan pakaian yang bahkan lebih terbuka. Hampir sebagian besar desain Blade unik lainnya juga hadir dengan pendekatan yang sama, walaupun tidak kesemuanya selalu terbuka. Yang terlihat jelas justru kenginan untuk memenuhi jenis karakter wanita para penggemar anime dari beragam skala. Dari yang punya karakter kepribadian yang unik, hingga ukuran tubuh dan tinggi badan yang spesifik. Dari yang berpakaian terbuka, hingga yang tertutup dan sopan. Secara singkat, kamu bisa menyebutnya sebagai sebuah “Waifu Simulator”. Dan seperti yang bisa diprediksi, tidak ada yang istimewa dari desain karakter pria yang ia usung.

Namun ada sesuatu yang aneh dari desain karakter para Blade sampingan atau musuh yang kamu hadapi di game yang satu ini. Desain karakter-karakter pendukung di Xenoblade Chronicles 2 terasa seperti sebuah hasil kolaborasi dari begitu banyak ide dan desainer, alih-alih hanya satu orang dengan satu otak yang sama. Mengapa? Karena kamu bisa memerhatikan dan menemukan bahwa ada beberapa desain yang tidak konsisten satu sama lain. Contohnya? Ada salah satu Blade bernama Vess misalnya, yang jelas terinspirasi atau didesain oleh bukan desainer sama yang merancang Pyra. Kasus ini juga terjadi di Blade yang lain. Bagian paling parah? Dua tokoh antagonis utama yang bergabung dalam sebuah organisasi bernama Torna yang diracik oleh otak di balik seri Kingdom Hearts III – Tetsuya Nomura. Nomura selalu punya identitas rancang karakter yang khas, dan ketika melihat karakternya hidup dan berdampingan dalam cerita bersama dengan Rex atau Pyra, kamu bisa dengan jelas melihat bahwa keduanya lahir dari tangan yang berbeda.

Setidaknya, ada konsistensi di masalah dunia yang kamu temukan. Berbeda dengan seri X dimana dunia yang ada terhubung satu sama lain secara berkesinambungan, seri kedua ini memecahnya mengingat plot yang ditawarkan memang menyebut bahwa kota-kota hidup di atas Titan yang berbeda. Setiap kota dengan Titan ini tentu saja hadir dengan tema yang berbeda, dengan luas wilayah yang terhitung cukup luas. Seperti kebiasaan Xenoblade, mereka juga hadir dengan ekosistem yang berbeda pula. Walaupun seperti tipikal game JRPG yang seringkali menghadirkan desain dasar monster yang sama namun dengan status, warna, nama, dan sedikit struktur tampilan yang berbeda, ekosistem ini memang terasa hidup. Tidak peduli dengan level karakter yang ada, kamu akan bisa menemukan monster yang punya level berkali-kali lipat bergerak bebas dan bukan tak mungkin, menerkam dan menghabisi kamu begitu saja sebagai serangan kejutan.

Satu hal yang menarik adalah bagaimana game ini memperlakukan lingkungan yang ditawarkan ini. Bukan sekedar memuat ragam monster yang bisa kamu bunuh, ia juga memuat ragam aktivitas lain yang bisa kamu lakukan di dalamnya. Dari sekedar menghabisi monster spesial yang muncul dengan logo khusus dan menawarkan tantangan yang lebih signifikan hingga beragam material yang bisa kamu tambang. Dunia ini juga akan menawarkan dua hal yang lain: yakni puzzle dengan segudang rahasia yang bisa diakses dengan menggunakan field skill milik Blade kamu hingga kebutuhan untuk melakukan aksi platforming untuk mencapai area tertentu. Kita akan membicaarkan keduanya nanti. Beberapa Titan yang tinggal di garis lautan awan juga akan punya daerah yang bisa diakses atau tidak bisa diakses tergantung pada ketinggian awan di kala itu. Untungnya, cara mengubahnya cukup sederhana, dengan hanya melakukan tidur panjang di Inn terdekat saja.

Maka dengan semua trope anime yang ia usung, ada satu hal yang jadi konsekuensi jelas. Bahwa gmae ini akan jauh lebih nyaman dinikmati dengan menggunakan bahasa Jepang untuk voice acting yang ada, dibandingkan bahasa Inggris. Bahkan harus diakui, Xenoblade Chronicles 2 sepertinya merupakan salah satu game JRPG dengan dubbing bahasa Inggris terburuk yang pernah crew domain temui. Ditangani oleh Nintendo Eropa, kamu bisa mendengar aksen yang masih tersisa di beberapa karakter utama, bahkan Rex sekalipun. Bahasa Inggris ini juga gagal memotret karakterisasi trope banyak karakter, seperti Mythra yang sedikit “tsundere” misalnya, atau Pyra yang walaupun tegas, tetapi masih punya kelembutan sendiri. Satu yang pasti, pilihan untuk menggunakan bahasa Jepang juga akan membantu kamu lebih menoleransi kehadiran ras bernama PonPon yang memang identik dengan gaya bicara yang menyebalkan. Setidaknya di bahasa Jepangnya, kamu masih bisa menemukan keimutan tersendiri. Berita baiknya? kamu bisa mengunduh DLC Bahasa Jepang ini secara cuma-cuma lewat Nintendo Eshop tanpa perlu mengeluarkan sepeserpun.

Dengan kombinasi seperti ini, presentasi yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 2 memang terinspirai dari banyak produk kreatif Jepang terutama di manga dan anime. Begitu kamu menyelami cerita yang ada, termasuk beragam trope yang ia usung untuk karakter, konflik, hingga solusi yang ada, maka kesan tersebut akan semakin kuat. Apakah ini membuatnya buruk? Tentu saja tidak. Namun bagi mereka yang familiar, garis cerita dan karakterisasi seperti ini selalu bisa disambut dengan tangan yang lebih terbuka.

Kesederhanaan yang Tetap Butuh Strategi

Lantas, bagaimana dengan sisi gameplay sendiri? Terlepas dari kesan di permukaan bahwa ia adalah sebuah game action RPG yang akan secara konsisten meminta kamu untuk menekan tombol untuk menyerang dan bertahan, Xenoblade Chronicles 2 sebenarnya adalah sebuah game JRPG turn-based yang disajikan dalam sebuah user-interface yang berbeda. kamu akan dibekali dengan satu tombol serangan normal yang akan dieksekusi secara otomatis setelah serangan pertama dengan interval yang pasti. Sisanya? kamu akan mendapatkan format permainan ala game MMORPG.

Seiring dengan serangan biasa yang terus terjadi, karakter dalam party yang dibatasi 3 orang akan secara bertahap memenuhi skill aktif mereka. Setiap serangan biasa akan menyumbang satu porsi cooldown untuk skill yang ada. Begitu sudah penuh, kamu bisa mengaktifkan skillt tersebut untuk tidak hanya menghasilkan damage lebih besar saja, tetapi juga berkesempatan untuk mengaktifkan efek unik tertentu. Jika kamu menekan tombol skill ini tepat setelah sebuah serangan biasa dilakukan, kamu bisa menghasilkan efek “Cancel” yang akan mendorong damage untuk serangan skill kamu.

Seperti yang crew domain bicarakan sebelumnya, skill ini tidak sekedar berfungsi untuk menghasilkan damage lebih besar dari serangan biasa saja. Beberapa di antaranya juga bisa menghasilkan efek status tertentu yang tentu saja akan membuat kamu lebih mudah memenangkan pertempuran yang ada. Ada serangan yang bisa menghasilkan potion kecil yang jika dipungut akan menyembuhkan sedikit porsi HP kamu, ada serangan yang jika dieksekusi pada timing tertentu bisa membuat musuh terjatuh dengan mengalami masa stun dalam waktu singkat, hingga varian efek status lain yang misalnya, bisa membuat musuh tidak bisa memanggil companion untuk membantu mereka. Namun ingat, apapun yang bisa kamu lakukan pada musuh, juga bisa dilakukan musuh pada kamu.

Satu yang unik adalah fakta bahwa pertarungan di daerah terbuka, tidak akan pernah “aman”. Jika kamu sekedar berusaha menghabisi monster di ruang tertutup yang jumlahnya terbatas, tidak akan ada ancaman yang datang dari musuh yang berusaha kamu tundukkan. Namun begitu kamu masuk bertempur di area terbuka, ada satu ekstra hal lagi yang harus kamu perhatikan – lingkungan sekitar. Bukan atas nama karena lingkungan itu sendiri punya desain yang berbahaya, tetapi mencegah kemungkinan kamu diserang oleh monster dengan level lebih tinggi yang biasanya mondar-mandir mengabaikan kamu begitu saja. Entah bagaimana sistem aggro yang diterapkan Monolith di sini, namun bukan pemkamungan yang asing untuk melihat monster-monster level yang sembari lewat tiba-tiba terlibat dalam aksi pertarungan kamu melawan monster yang lain. Hasilnya? Bukan tak mungkin pertarungan menjadi terasa lebih alot.

Karena monster-monster di Xenoblade Chronicles 2 bukanlah tipe monster yang bisa kamu pkamung sebelah mata begitu saja, walaupun ia sudah berada di level lebih rendah dari rata-rata Party yang kamu pilih. Sebagian besar monster ini, sesuai dengan ukuran pula, punya jumlah HP besar yang bisa memakan waktu pertarungan hingga menitan untuk bisa diselesaikan. kamu mungkin berpikir dan bertanya, bahwa bukankah seharusnya Party berisikan setidaknya 6 orang yang secara aktif bertarung mengingat setiap Driver dalam Party selalu membawa Blade mereka sendiri-sendiri? Sistemnya tidak demikian.

Para Blade yang ikut dalam pertempuran dan menemani Driver tidak secara aktif menghasilkan damage untuk musuh yang dihadapi. Mereka berperan tak ubahnya karakter support di bagian belakang yang tugasnya hanya satu – membantu si Driver dengan kemampuan yang mereka miliki. Bergantung pada jenis Blade yang kamu bawa, mereka terkadang bisa melindungi kamu dengan sebuah selimut perisai, membantu kamu menghasilkan damage lebih besar, hingga sekedar menawarkan buff yang akan mempermudah pertarungan yang ada. Para Blade ini juga tidak akan secara otomatis mengeluarkan kemampuan penuh mereka sejak awal pertarungan. Seiring dengan waktu berjalan, hubungan antara Driver dan Blade yang diperlihatkan lewat sebuah benang warna biru antara keduanya akan perlahan tapi pasti, berubah menjadi warna emas. Ketika hal ini terjadi, ini berarti koordinasi yang terjadi ada di level yang paling optimal dan Blade akan mendukung kamu aksi Driver-nya dengan lebih baik.

Tentu saja, mengingat monster yang tetap menantang walaupun sudah berada di level lebih rendah, susunan Party juga menjadi sesuatu yang cukup esensial di Xenoblade Chronicles 2. Untungnya, ada sistem peran di sini. Bergantung pada Blade yang kamu sematkan untuk masing-masing karakter, dimana mereka bisa menggunakan setidaknya 3 Blade per karakter, kamu bisa menentukan peran yang ada. Ada tiga peran utama di sini – Striker untuk damage, Tanker untuk tanking, dan Healer untuk menyembuhkan. kamu yang cukup familiar dengan konsep RPG sepertinya tidak akan asing lagi dengan peran dan bagaimana kombinasi ketiganya bekerja. Satu hal yang cukup menarik di Xenoblade Chronicles 2 adalah seberapa pentingnya mengatur aggro yang ada. Mengingat Healer dan Striker tidak punya cukup banyak HP dan sistem pertahanan dari serangan yang ada, musuh yang mengabaikan Tanker dan mengejar mereka akan dengan mudahnya menghabisi kedua peran tersebut dan membuat pertarungan kamu lebih sulit. Mengatur Aggro menjadi sesuatu yang lebih esensial di sini.

Maka seperti game-game RPG pada umumnya, ada kesempatan untuk memperkuat karakter di sini, walaupun tidak berada di level sekompleks yang kamu bayangkan. Penguatan ini dibagi ke dalam beberapa kategori. Untuk urusan equipment misalnya, kamu bisa menyematkan beragam aksesoris dengan ragam efek ke para Driver. Sementara para Blade harus diperkuat dengan sesuatu yang disebut dengan Chip Core yang juga akan berpengaruh pada status Driver dan kemampuan bertarung mereka. Baik Driver dan Blade juga masing-masing akan diperkuat dengan pohon skill cukup besar yang masing-masing juga menuntut resource berbeda. Bagi Driver, resource tersebut bisa didapatkan dengan menghabisi cerita di misi utama, sekedar membunuh monster yang kamu temui, atau menyelesaikan misi sampingan yang ada. Progress untuk skill yang diusung Blade sendiri atau yang disebut sebagai “Affinity” lebih menitikberatkan pada keharusan untuk memenuhi syarat tertentu, seperti menggunakan skill dalam jumlah yang sudah ditentukan, atau sekedar melakukan aktivitas sampingan yang ada.

Seiring dengan pertambahan level yang juga akan menentukan daya tahan dan kemampuan serangan kamu, kamu akan lebih “aman” untuk bergerak mengeksplorasi setiap dunia yang ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 2 ini. Walaupun harus diakui, berbeda dengan seri X yang memungkinkan kamu untuk bergerak dengan mecha dan bertarung cepat dengannya, pacing di Xenoblade Chronicles 2 ini memang terasa cukup lambat. Animasi pertarungan terasa lambat, HP musuh yang tebal juga membuat pertarungan melawan satu monster bisa memakan waktu lama, hingga fakta bahwa kamu harus menyelusuri segala sesuatunya dengan berjalan kaki yang tentu saja, butuh waktu. Pacing pertarungan game ini di mata crew domain, memang jadi salah satu kelemahan terbesar.

Gacha

Blade adalah intisari dari Xenoblade Chronicles 2. Karakter utama ataupun karakter pendukung kamu yang notabene merupakan Driver tidak akan banyak berguna jika tidak ditemani oleh Blade yang ada. Mengingat setiap karakter bisa menggunakan setidaknya tiga orang Blade, ada sebuah mekanisme yang unik muncul di sini. Walaupun tidak digunakan secara aktif dan kamu mungkin berakhir hanya menggunakan satu Blade saja, eksistensi mereka dalam Party kamu tetap akan berkontribusi. Ia muncul dari sistem status boost dari pemilihan Blade dan ragam peran yang ia hadirkan. Jika kamu menggunakan tiga buah blade bertipe Healer misalnya, maka buff pasif peran “Healer” seperti membuat proses healing lebih sering dan efektif akan muncul. Jika kamu menggunakan tiga buah Blade dengan tipe Striker misalnya, maka damage yang akan naik signifikan. kamu juga bisa mengkombinasikan Blade dengan peran berbeda untuk mencapai buff yang juga bervariasi. Ingin seorang Striker dengan aggro yang lebih kecil? Pasangkan dua buah Blade bertipe Striker dan sebuah Blade dengan peran Healer, misalnya.

Dengan peran yang begitu penting dalam gameplay, Xenoblade Chronicles 2 justru menyuntikkan Blade dengan sistem penuh rasa frustrasi. Benar sekali, RNG aka Gacha, dengan bentuk yang sebenarnya juga bisa diasosiasikan dengan lootbox. Berita baiknya? Format ini tidak dieksploitasi dengan skema berbayar ala game-game raksasa lainnya. Berita buruknya? Ia juga hadir dengan semua masalah lootbox yang terkait dengan masalah progress permainan itu sendiri.

Seperti yang kita tahu, Blade memang jadi inti permainan Xenoblade Chronicles 2 itu sendiri. Game ini membaginya ke dalam dua kategori besar: Common dan Rare. Common Blade akan berakhir menjadi Blade “stkamur” dengan tampilan tidak istimewa yang bisa saja hadir dengan variasi senjata dan jenis kelamin yang akan punya pengaruh tidak langsung (akan kita bicarakan nanti), sementara Rare berakhir menjadi sebuah “karakter” pendukung terpisah yang masing-masing juga punya peran. Ada dua cara mendapatkan Blade: dengan menggunakan sebuah item bernama Core yang bisa kamu dapatkan secara acak di pertarungan, atau dengan menyelesaikan quest tertentu. Dengan pendekatan seperti ini, kamu tentu saja ingin selalu mendapatkan Blade langka dengan karakteristik tertentu.

Bukan sekedar atas nama keren dan unik saja, tetapi karena performa mereka akan lebih baik dibandingkan Blade pada umumnya. Blade langka dengan bentuk dan karakter unik ini selalu punya elemen Affinity lebih kompleks, yang memungkinkan mereka untuk membawa dan memuat field skill yang bisa kamu gunakan dengan lebih optimal. Tidak hanya itu saja, sebagian besar dari mereka juga mengusung status bawaan lebih tinggi, punya fungsi lebih efektif sesuai peran lewat skill-skill yang dibawa, hingga fakta bahwa mereka terlihat keren dari sisi fisik. Sekarang bayangkan, jika ada puluhan Blade seperti ini yang bisa kamu dapatkan dan kuasai, namun sebagian besar dari mereka dikunci di balik sistem gacha. Maka seperti sistem lootbox pada umumnya pula, tidak ada informasi transparan soal kepastian Blade seperti apa yang akan kamu dapatkan, kebutuhan seperti apa yang layak untuk dikejar untuk memperbesar kemungkinan tersebut, atau elemen apa saja yang memang benar-benar perlu diperhatikan.

Pelan tapi pasti, yang kamu dapatkan hanyalah sebuah rasa frustrasi. Bagian yang bahkan lebih buruk? Game ini tidak mengizinkan kamu untuk melakukan proses membuka Core atas nama “RNG” ini secara instan dalam jumlah banyak. Jadi, kamu harus melakukannya satu per satu, melihat animasi singkat berdurasi 10 detik yang memperlihatkan bagaimana karakter kamu membuka setiap Core ini dengan sedikit godaan tampilan Blade potensial di awal. Mengapa hal ini pantas untuk dikeluhkan? Karena percaya atau tidak, ketidakjelasan RNG membuat kamu berakhir harus membuka setiap Core yang kamu dapatkan, terlepas dari tingkat kelangkaan yang tertulis di sana. Tidak jarang kamu bisa tiba-tiba beruntung dan mendapatkan Blade langka dari Core yang “biasa”, atau justru mendapatkan Blade umum dari Core yang punya level “Legendary”. Tidak ada yang bisa menebak dan memprediksi apa yang kamu dapatkan di setiap bukaan Core ini. Sekarang bayangkan, apa jadinya jika setelah menempuh proses menyelesaikan side quest misalnya, kamu menemukan sekitar 70 Common Core, 20 Rare Core, dan 2 Legendary Core, misalnya? Benar sekali, selamat menikmati animasi membuka Core ini satu-satu.

Masih belum terlihat menyebalkan di mata kamu? Sekarang bayangkan jika sistem Core ini juga punya limitasi yang desainnya juga membingungkan. Pertama, Blade yang didapatkan dari Core hanya bisa digunakan oleh karakter yang membukanya. Sebagai contoh? Jika Rex yang membuka sebuah core dan berakhir mendapatkan Blade “Rare” misalnya, maka ia tidak akan bisa dipindahtangankan ke karakter lain jika kamu tidak memiliki sebuah item langka bernama “Overdrive”. Hanya Rex yang bisa menggunakan Blade tersebut. Maka secara logika, apalagi jika kamu penggemar JRPG, maka kamu akan secara otomatis berusaha mendistribusikan Blade “langka” ini merata ke semua karakter yang ada, atau setidaknya – untuk tiga karakter utama yang kamu gunakan dalam party. Di sinilah, gacha mulai bermasalah.

Seperti yang crew domain tuliskan sebelumnya, dengan item Overdrive untuk memindahkan hak guna blade yang langka dan sistem peran yang esensial dalam pertempuran, sistem RNG untuk core Blade ini menjadi pedang bermata dua. Mengapa? Karena tidak ada yang tahu jenis Blade seperti apa yang kamu dapatkan. Bukan tidak mungkin, Blade langka yang setengah mati kamu dapatkan dengan keberuntungan justru berakhir sia-sia karena tidak sesuai dengan peran karakter yang berhasil membukanya. Sebagai contoh? crew domain memosisikan karakter bernama Morag sebagai seorang “Tanker” misalnya. Setelah dua karakter yang lain – Rex dan Nia mendaptkan masing-masing Blade langka, crew domain menggunakan semua Common Core yang crew domain dapatkan di tangan Morag semata-mata untuk menyeimbangkan kekuatan yang ada. Setelah puluhan core terbuka dengan animasi yang lambat di setiap darinya, Morag akhirnya mendapatkan satu Blade spesial yang langka. Berita buruknya? Blade ini ternyata memuat peran sebagai “Healer”. Strategi kamu untuk menjadikan Morag seorang Tanker yang berfokus untuk memancing aggro musuh sejak awal permainan kini otomatis mengecil karena sesuatu yang sifatnya acak.

Tetapi bukankah kita tinggal menggunakan item bernama Overdrive yang sempat disebutkan tadi saja? Satu-satunya cara kamu tahu bahwa Overdrive itu penting dan esensial untuk mengatur distribusi Blade langka mengakar dari tulisan review ini atau mungkin walkthrough yang kamu baca di dunia maya. Xenoblade Chronicles 2 tidak pernah menggarisbawahi seberapa penting item Overdrive ini, seberapa esensial dia untuk strategi peran kamu, dan seberapa kamu harus memperlakukannya sebagai item yang tidak main-main. Komunikasi menjadi sesuatu yang dipertanyakan di Xenoblade Chronicles 2. Bahkan “tutorial” yang menyebut bahwa status “Luck” sangat mempengaruhi jenis Blade seperti apa yang kamu dapatkan – langka ataupun tidak, berakhir tidak terbukti. Karakter dengan luck tertinggi tidak punya frekuensi mendapatkan Blade langka lebih tinggi daripada karakter dengan Luck yang rendah misalnya. Apalagi, selama proses pembuat Blade, kamu juga bisa melihat status-status lain seperti “Bravery” atau “Truth” yang muncul, namun tidak pernah dijelaskan kegunaannya. Di atas sistem RNG yang sudah acak, kamu masih diminta untuk meraba-raba sendiri untuk memaksimalkannya.

Belum lagi, dengan jumlah Blade terbatas yang bisa kamu bawa secara keseluruhan, kamu juga akan berhadapan dengan kondisi dimana limitasi tersebut akan membuat proses membuka Core “gacha” ini semakin menyebalkan. Ruang menampung Blade kamu, langka ataupun tidak, hanya dibatasi beberapa puluh saja. Jadi ketika kamu mengumpulkan dan membuka Common Core berjumlah 70 misalnya, selain harus “menikmati” animasi membukanya yang membosankan, kamu juga harus senantiasa menyediakan ruang baru dengan menghapus Blade-blade yang tak kamu butuhkan untuk Blade yang baru. Selama proses menghapus Blade ini, kamu juga butuh kemampuan observasi yang cukup tinggi. Mengapa? Karena terlepas dari fakta bahwa mereka mungkin tidak punya peran penting dalam pertempuran, mereka bisa jadi berkontribusi signifikan untuk proses eksplorasi kamu. Setiap dari Blade ini, langka ataupun tidak, akan punya satu hal yang penting untuk dijadikan indikator untuk menghapus atau mempertahankan mereka – Field Skill.

Berbeda dengan skill dalam pertempuran yang digunakan untuk damage, Field Skill adalah rangkaian skill yang dibutuhkan untuk memecahkan puzzle atau membuka satu aksi spesifik ketika kamu melakukan eksplorasi. Setiap tantangan akan butuh Field Skill berbeda-beda, dari variasi hingga tingkatannya. Sebagai contoh? Ada area yang baru bisa dibuka jika kamu memiliki Blade yang punya “Fire Mastery” misalnya. Terkadang, kamu juga akan menemukan area yang butuh skill sama tetapi di tingkatan berbeda, seperti “Fire Mastery Lv. 3” misalnya. Ada dua cara untuk menyelesaikan puzzle ini: menciptakan satu Blade yang bisa mencapai Fire Mastery Lv.3 atau secara akumulatif, menambahkan secara akumulatif Field Skill para Blade yang punya Field Skill “Fire Mastery Lv. 1”. Jadinya? Kita butuh menggabungkan 3 buah Blade dengan Fire Mastery Lv. 1 untuk mendapatkan efek yang sama.

Kita baru berbicara soal satu indikator Field Skill saja, sementara game ini menghadirkan begitu banyak area dan rahasia yang bisa diakses dengan kombinasi Field Skill yang benar-benar menyulitkan, baik dari variasi dan tingkatan yang ada. Secara rasional, menyimpan sebanyak mungkin variasi Blade akan berujung menguntungkan di sisi eksplorasi. Apalagi Xenoblade Chronicles 2 juga menyuntikkan sebuah misi sampingan yang secara sederhana, memang meminta kamu untuk mengirimkan sejumlah Blade sesuai kebutuhan misi dalam sistem cooldown berbasis waktu real-time dengan reward yang menggoda. Semakin banyak varian yang kamu simpan juga akan menyederhanakan kebutuhan misi ini.

Namun setidaknya, terlepas dari sebagian besar desain terkait sistem Blade yang terhitung aneh dan menjengkelkan, ia masih menawarkann beberapa Blade yang bisa kamu dapatkan secara pasti dengan menyelesaikan misi sampingan yang ada. Dengannya, setidaknya kamu bisa mengatur strategi dengan lebih baik mengingat hasil dan reward yang ditawarkan sudah pasti dan tidak berbasis acak lagi. Ada Blade yang bisa kamu beli dengan uang yang cukup banyak, Blade yang kamu dapatkan dari garis cerita utama, hingga Blade yang memang butuh satu misi sampingan spesifik untuk diselesaikan. Kehadiran mereka jadi semacam penyeimbang di antara begitu banyak ketidakpastian yang ada.

Satu hal yang unik, atas nama variasi, mereka juga menyuntikkan sebuah mekanisme berbeda kepada salah satu Blade bernama Poppy yang juga memang punya peran penting dalam cerita. Alih-alih seperti Blade pada umumnya yang sangat mengkamulkan “Core” untuk memperkuat fungsi dan kemampuan mereka, kamu hanya bisa memperkuat Poppy lewat sebuah mini-game yang hanya bisa dimainkan di tempat-tempat spesifik saja. Mini-game tersebut akan menghasilkan sebuah resource point yang bisa ditukarkan untuk memperkuat Poppy dari segala sektor, termasuk mengubah perannya sekaligus. Beberapa dari kamu mungkin menyukai variasi seperti ini, namun crew domain pribadi, membenci usaha yang justru membuatnya berakhir jadi ekstra kerepotan lain untuk dieksekusi.

Untuk sesuatu yang begitu penting dalam strategi permainan kamu, meletakkan sistem Blade di balik dinding RNG menurut crew domain, adalah keputusan yang buruk. Jika memang sistem seperti ini harus dipaksakan untuk menjadi kompensasi dari jumlah Blade langka yang memang sedikit terbatas jika berbanding dengan waktu gameplay yang panjang, setidaknya menyediakan alternatif cara mendapatkan setiap dari mereka sepertinya jadi solusi yang rasional. Misalnya, dengan menyediakan sebuah toko yang memungkinkan kamu untuk membeli setiap dari mereka dengan jumlah uang tertentu, namun dengan harga yang tinggi. Atau strategi apapun yang bisa dijadikan sebagai cara lain selain harus sekedar mengkamulkan elemen acak. Apalagi, jika mengingat sebagian besar dari mereka punya misi sampingan unik tersendiri untuk diselesaikan.

Segudang Aktivitas

Butuh puluhan jam untuk menyelesaikan garis cerita utama Xenoblade Chronicles 2. Namun waktu gameplay ini bisa membengkak hingga ratusan jam lamanya jika kamu tertarik untuk menyelesaikan segudang misi sampingan yang ia tawarkan. Bahwa seperti game JRPG pada umumnya, akan ada banyak tugas ekstra yang bisa kamu ambil dengan sekedar berbicara dengan NPC yang memiliki ikon di atasnya. Walaupun harus diakui, desain misi sampingan ini tidak bisa banyak dipuji. Hampir sebagian besar dari mereka datang dengan meminta kamu untuk membunuh musuh dalam jumlah tertentu atau sekedar mengambil dan mengumpulkan item dalam kuantitas cerita. Sejauh crew domain menyelesaikan puluhan di antaranya, tidak ada misi sampingan yang benar-benar terasa begitu istimewa dan memukau. Semuanya bergerak di dalam batas yang bisa kamu prediksi.

Namun bukan berarti tidak ada desain yang menarik di sini. Salah satu yang pantas diapresiasi adalah desain misi sampingan yang tersedia untuk sebagian Blade langka yang ada, baik untuk mendapatkan mereka atau untuk memperkuat mereka setelah mendapatkannya. Misi-misi ini sendiri didesain dalam format sebuah cerita terpisah yang menjadikan mereka sebagai “aktor utama”. Walaupun sekali lagi, seperti misi sampingan biasa, ia berakhir menuntut kamu untuk menyelesaikan masalah yang sepele, namun menemukan segudang cut-scene yang dibangun untuk menjelaskan sebuah Blade unik yang punya karakteristik, tujuan, atau sekedar motivasi yang berbeda tentu saja pantas untuk disambut baik. Tetapi sekali lagi, hal ini sedikit terjebak pada masalah RNG yang sempat crew domain bicarakan sebelumnya. Karena masalah “keberuntungan”, kamu bisa berakhir tidak bisa mencicipi semua misi sampingan Blade unik yang ada ini.

Maka ekstra aktivitas lainnya akan berputar pada satu hal yang sepertinya sudah menjadi ciri “khas” Xenoblade selama ini – berburu monster-monster kuat. kamu masih tetap bisa menyelesaikan cerita utama yang ada dan kemudian tetap beraktivitas setelahnya untuk tiga tujuan: mencari dan menundukkan setiap misi sampingan yang ada, dengan beberapa di antaranya memang punya peran cukup penting, termasuk menemukan Blade rahasia atau membuka kekuatan tersembunyi salah satu karakter. Kedua? Tentu saja, mencari beragam tempat tersembunyi yang sebelumnya dilindungi oleh Field Skill yang tidak bisa kamu tembus. Atau yang ketiga? Mencari monster-monster terkuat untuk kamu tundukkan yang levelnya bisa berakhir puluhan lebih tinggi dibandingkan kamu. Untuk kamu yang sekedar tertarik untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan Xenoblade Chronicles 2, masih ada banyak ruang yang mereka sediakan bahkan setelah menyelesaikan cerita utama sekalipun.

Walaupun banyak dari konten ini berakhir stkamur dan tidak terlalu istimewa, selain cerita yang dibawa oleh beberapa Blade spesial, namun segudang aktivitas ekstra ini akan siap untuk menawarkan kamu lebih banyak waktu gameplay dengan Xenoblade Chronicles 2. Sebuah investasi yang tentu saja, pantas untuk dikejar walaupun kamu sudah menyelesaikan cerita utama sekalipun.

Kesimpulan

Maka, apa yang bisa disimpulkan dari Xenoblade Chronicles 2? Menyebutnya sebagai sebuah ketidaksempuraan yang tetap menggoda sepertinya adalah kalimat yang paling pantas. Sebagai sebauh game JRPG, ia bukanlah sebuah produk yang sempurna. Namun di sisi lain, ia menawarkan daya tarik ekstra lainnya yang walaupun tidak lantas menganulir semua kekurangan yang masih melekat pada dirinya, tetapi cukup untuk membangun sebuah daftar daya tarik yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Dari sistem pertarungan yang sebenarnya punya level kompleksitasnya sendiri, desain karakter yang siap untuk membuat kamu termanjakan, hingga segudang aktivitas lainnya yang bisa menawarkan konten hingga ratusan jam. Jika kamu termasuk gamer yang cukup familiar dan tidak berkeberatan dengan trope anime dari karakter hingga cerita, ini adalah game JRPG yang akan memuaskan apa yang kamu butuhkan.

Namun, tentu saja, Xenoblade Chronicles 2 masih menyimpan segudang masalah yang sulit untuk diabaikan begitu saja. Dari voice acts bahasa Inggris yang di telinga crew domain, terasa di bawah stkamur hingga implementasi sistem RNG untuk mendapatkan Blade yang dengan mudah, memicu rasa frustrasi. Di tengah desain misi sampingan yang juga tidak istimewa, ada beberapa hal lainnya yang juga terasa tidak bersahabat. Seperti sistem peta yang ia tawarkan, misalnya. Alih-alih memuat informasi yang dibutuhkan untuk membantu kamu menyelesaikan misi sampingan yang ada, misalnya, sebagian besar ikon yang ditawarkan berakhir tak banyak berkontribusi pada navigasi yan kamu butuhkan. Bayangkan, misalnya, jika seperti sistem peta di Far Cry contohnya, ia juga memperlihatkan seperti apa gambaran ekosistem di setiap wilayah untuk membantu kamu berburu ketika misi sampingan atau ada tugas ektra yang kamu kejar.

Tentu saja, di luar kelemahan tersebut, Xenoblade Chronicles 2 tetap tampil sebagai sebuah game JRPG yang memukau. Walaupun ia tidak sempurna, ia mengusung daya tarik yang akan sulit untuk diabaikan begitu saja. Sebuah game JRPG yang menawarkan ratusan jam gameplay dari sisi konten, dengan desain karakter super menggoda, cerita yang menggugah, dan sistem gameplay yang cukup kompleks. Sebuah daya tarik JRPG “klasik” dalam format yang unik dan berbeda.

Kelebihan

  • Cerita lumayan menarik
  • Pyra
  • Sistem battle punya kompleksitas tersendiri
  • Desain beragam Blade unik
  • Konten misi sampingan dan aktivitas yang bisa diselesaikan
  • Desain dunia dan karakter secara keseluruhan
  • Cut-scene pertarungan yang keren

Kekurangan

  • Voice acts Inggris di bawah stkamur
  • Sistem Blade berbasis RNG + Animasi yang makan waktu
  • Fitur peta tidak banyak membantu
  • Sebagian besar desain misi sampingan hadir dengan tantangan yang stkamur
  • Pacing pertarungan yang terasa lambat