Ulasan Game RPG Terbaik Final Fantasy XII : The Zodiac Age

Final Fantasy XII The Zodiac Age

Seperti permata yang tak pernah mendapatkan apresiasi yang sepantasnya, ini mungkin kata yang tepat untuk menjelaskan nama Final Fantasy XII tidak hanya di sepanjang sejarah franchise Final Fantasy saja, tetapi juga genre JRPG secara keseluruhan. Terlepas dari fakta bahwa ia menawarkan begitu banyak hal baru dengan eksekusi mekanik gameplay yang berujung pantas untuk diacungi jempol, ia tak pernah meraih popularitas cukup tinggi untuk terus dibicarakan. Diskusi terkait Final Fantasy selalu berputar pada satu atau dua seri sama yang lebih punya nilai nostalgia dibandingkan dengan seri kedua belas ini. Tidak mengherankan jika banyak gamer, termasuk kami, menyambut dengan tangan terbuka si seri Remaster – Final Fantasy XII: The Zodiac Age yang akhirnya kini, tersedia di pasaran.

Anda yang sempat membaca artikel preview kami sebelumnya sepertinya sudah mendapatkan sedikit gambaran soal apa yang ditawarkan oleh seri Remaster yang satu ini. Seperti proyek Remaster khas Square Enix yang mereka terapkan di FF X / FF X-2 HD dan Final Fantasy Type-0 HD, ia memang berhasil membuatnya terlihat relevan untuk platform generasi saat ini lewat peningkatan tekstur ke definisi tinggi dan implementasi ragam efek visual yang lain. Namun yang menarik adalah fakta bahwa ia akhirnya mengimplementasikan ragam sistem dan perbaikan dari versi International Zodiac System yang sempat dirilis hanya untuk pasar Jepang saja ketika Playstation 2 berada di masa keemasannya. Bagi gamer yang menikmati versi Inggris, seperti kami, ada sensasi berbeda di sana.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Final Fantasy XII: The Zodiac Age ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang masih berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu game JRPG terbaik? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Punya muatan politik yang cukup kuat, ini mungkin kesan pertama yang muncul ketika Anda berbicara soal Final Fantasy XII. Ketika beberapa seri sebelumnya difokuskan pada aksi anak-anak muda untuk menyelamatkan dunia dari satu atau dua sumber kekuatan jahat yang secara eksplisit, memperlihatkan motivasi tersebut, Final Fantasy XII membungkusnya dalam konflik kerajaan yang kompleks. Dimana perang, kematian, dan rasa putus asa menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Final Fantasy XII sendiri mengambil setting di sebuah dunia bernama Ivalice, dunia sama yang juga menjadi basis game Square Enix yang lain seperti Final Fantasy Tactics dan Vagrant Stroy. Rabanastre, ibu kota dari Kerajaan bernama Dalmasca menjadi fokus dari sisi cerita. Kerajaan kuat yang damai ini harus jatuh di tangan Archadia setelah sang raja harus tewas di tangan pengkhianat, sang putra mahkota gugur dalam perang, dan sang putri yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena beban hidup yang tak bisa lagi ia pikul. Hanya dalam waktu singkat, Dalmasca yang kini berada di bawah bendera Archadia pun berubah menjadi negara boneka.

Namun kehidupan tentu saja, tidak berhenti di sana begitu saja. Masyarakat Dalmasca, termasuk Vaan, masih berusaha untuk menyambung hidup dengan cara apapun yang bisa mereka lakukan, termasuk mencuri. Namun aksi nekat Vaan untuk mencuri harta terpenting di kastil Rabanastre ternyata membuatnya jatuh ke sebuah garis nasib yang jauh lebih besar. Sebuah batu bercahaya dengan energi besar. Di tengah kondisi kacau yang terjadi, Vaan bertemu dengan pasangan perompak angkasa – Balthier dan Fran yang juga mengincar batu yang sama. Berusaha kabur dari kejaran pasukan Archadia, Balthier, Fran, dan Vaan justru bertemu dengan Asche, sang putri kerajaan Dalmasca yang sempat disinyalir tewas.

Tak lagi ingin membiarkan Archadia menguasai Dalmasca begitu saja, Asche pun berusaha mengembalikan kekuasaannya sebagai yang berhak. Namun Archadia ternyata menyimpan misteri lebih dari apa yang mereka lihat di permukaan. Di tangan para Judge dan Dr. Cid, mereka tengah mengembangkan sebuah seenjata bernama “Nethicite”, yang mampu melepas energi bernama Mist dalam jumlah besar, membuat manusia mendapatkan kekuatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Namun ternyata, ada kekuatan lebih tinggi lagi yang bergerak di balik konflik antara Archadia dan Dalmasca. Apalagi, kerajaan pihak ketiga – Rozarrian juga memperlihatkan ketertarikan yang tinggi pada konflik ini.

Lantas, perjuangan seperti apa yang harus dihadapi oleh Vaan dkk? Mampukah mereka mengusir Archadia dari Dalmasca? Apa pula itu Nethicite? Kekuatan apa yang menjadi dalang di balik konflik ini? Anda bisa mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan tersebut dengan mencicipi Final Fantasy XII: The Zodiac Age ini.

Terlihat Lebih Modern

Proses Remaster di industri game saat ini sepertinya terbagi menjadi dua bagian sama besar. Ada proyek Remaster lebih kompleks yang bahkan menawarkan pergantian engine atau model karakter untuk menghasilkan efek lebih signifikan, namun mempertahankan daya tarik gameplay utama yang ada.

Hasilnya? Adalah sebuah game lawas dalam bentuk yang benar-benar baru, seperti yang ditawarkan oleh Call of Duty 4: Modern Warfare Remastered, Crash Bandicoot N. Sane Trilogy, hingga Ratchet & Clank. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula proyek Remaster di luar sana yang “sesederhana” diwarnai permak visual dengan mengandalkan tekstur dalam definisi lebih tinggi dan juga implementasi efek ekstra yang bisa dibilang, tak terlalu signifikan. Maka seperti yang terjadi dengan Final Fantasy X / X-2 HD dan Final Fantasy Type-0 HD, strategi terakhir ini juga lah yang diimplementasikan oleh Square Enix untuk Final Fantasy XII: The Zodiac Age ini.

Hadir dengan tekstur definisi lebih tinggi, strategi ini memang membuatnya terasa cukup relevan untuk disebut game generasi saat ini, yang tentu saja, terlihat jauh berbeda dengan kualitas visual di era Playstation 2 yang masih terlihat begitu “bergerigi”. Model karakter dan lingkungan yang ada terlihat jauh lebih tajam dan halus.

Namun yang menghasilkan perbedaan signifikan adalah implementasi beberapa efek visual baru, seperti depth of field dan tata cahaya yang lebih baik. Ketika masuk dalam mode cut-scene sinematik misalnya, ia akan menghasilkan efek yang lebih dramatis. Namun sayangnya, ia juga masih mengusung sistem cut-scene yang sama seperti seri lawasnya. Alih-alih membuatnya penuh dalam resolusi 16:9, Anda justru akan menemukan bar hitam yang terletak di bagian bawah, tanpa ada opsi untuk membuat scene ini hilang. Bar hitam ini tetap akan ada di sana, terlepas apakah Anda mematikan atau menghidupkan subtitle yang ada. Efek positifnya? Setidaknya dengan strategi yang sama, cut-scene berbasis CGI yang ia tawarkan tak terlihat “sepecah” seri-seri HD Remater Final Fantasy yang lain. Ia masih terlihat halus di sana.

Tidak hanya memperbaiki sisi visual saja, Square Enix juga menawarkan sesuatu yang baru di sini, dari mode permainan hingga ekstra elemen yang lain, seperti musik misalnya. Anda kini disuguhkan dengan opsi untuk menikmati alunan OST Final Fantasy XII yang selama ini Anda kenal dalam format ulang atau rekonstruksi ulang yang lebih modern di dalamnya. Anda juga akan dibekali dengan opsi untuk menggunakan bahasa percakapan Jepang atau Inggris sesuai preferensi, dengan opsi pergantian yang akan bisa dieksekusi secara real-time tanpa perlu berpindah ke menu utama terlebih dahulu dan sejenisnya. Ada ekstra konten di luar sekedar visual saja.

Namun tentu saja, setidaknya dari sudut pandang kami, daya tarik Final Fantasy XII: The Zodiac Age tentu bukan dari sekedar perbaikan visual yang ia tawarkan. Bahwa pada dasarnya, keinginan untuk mencicipinya akan didasarkan pada dua hal: nostalgia atau sekedar rasa penasaran untuk mengetahui daya tariknya setelah sempat melewatkannya di masa lalu. Sementara perbaikan visual yang membuatnya terlihat lebih modern tak lebih dari sekedar nilai jual tambah.

International Zodiac Job System

Hampir sebagian besar gamer yang hanya bisa mengerti bahasa Inggris saja, sepertinya akan melewatkan versi lain dari Final Fantasy XII yang sempat menyandang nama “International Zodiac Job System”. Mengapa? Karena versi yang penuh dengan ragam fitur baru dan mekanik berbeda ini memang hanya dirilis untuk pasar Jepang saja tahun 2007 silam, hanya untuk Playstation 2. Di kala itu, International Zodiac Job System memang hadir dengan voice acting Inggris, namun semua menu yang tersedia, hanya tersedia dalam bahasa Jepang saja. Square Enix juga tidak terlihat tertarik untuk membawa game ini ke pasar Barat, bahkan hingga peralihan generasi terjadi sekalipun. Cukup untuk membuat para fans berkumpul dan menciptakan proyek translasi terpisah yang bisa dinikmati via emulator. Berita baiknya? Baru di tahun 2017 ini, Square Enix mengerti soal potensi keuntungan yang bisa Anda dapatkan.

Maka, lewat The Zodiac Age, Final Fantasy XII: International Zodiac Job System tersebut akhirnya tiba secara resmi di pasar Barat, lengkap dengan proses Remaster yang menyempurnakan kualitas visual yang ada. Namun sebagian besar fitur “baru” yang tak pernah dinikmati oleh gamer Barat ini sebenarnya sudah ditawarkan oleh versi Playstation 2-nya sejak 10 tahun silam. Seperti nama yang ia usung, salah satu yang paling signifikan adalah perubahan sistem License Board yang ia usung.

Berbeda dengan game JRPG kebanyakan yang biasanya mengandalkan efektivitas karakter hanya pada level saja, Final Fantasy XII: The Zodiac Age menghadirkan sistem sekelas Jobs yang akan menentukan fokus pengembangan karakter dan juga rangkaian skill yang bisa digunakan. Terbagi ke dalam setidaknya 12 jenis pekerjaan yang ada, tiap karakter yang Anda gunakan akan bisa mengkombinasikan dua pekerjaan sekaligus secara maksimal.

Tiap Jobs akan menghadirkan status yang bisa Anda naikkan atau rangkaian skill yang berbeda. Sebagai contoh? Time Battlemage, misalnya, adalah jenis Job yang memungkinkan karakter menguasai magic berbasis waktu seperti Haste, Stop, atau Vanish sembari mempertahankan efektivitasnya dalam bertarung. Anda juga bisa berhadapan dengan job Uhlan, yang menjadikan tombak sebagai senjata utama. Mengkombinasikan dua Job mana yang menurut Anda efektif untuk tiga karakter party Anda akan menentukan efektivitas tim Anda.

Salah satu perubahan yang paling kami sambut baik adalah kehadiran mode bernama Turbo Speed Mode yang bisa Anda akses dengan hanya menggunakan satu tombol saja. Seperti namanya, Turbo Speed Mode ini akan memungkinkan Anda untuk mempercepat jalannya permainan dari 2x hingga 4x kecepatan normal. Ia mempengaruhi hampir semua aspek permainan di luar cut-scene, seperti ketika bertarung atau sekedar berlari mengeksplorasi lingkungan yang ada. Ia menjawab keluhan di versi original yang memang terasa cukup lambat, apalagi mengingat beberapa tantangan yang mengharuskan Anda untuk bolak-balik mengeksplorasi area yang sama. Walaupun akan mempercepat waktu permainan Anda, kami sendiri masih menghabiskan tak lebih dari 60 jam permainan untuk menyelesaikan ragam tantangan di FF XII: The Zodiac Age ini, walaupun sebagian besar sudah ditempuh dengan menggunakan Turbo Mode.

Beberapa perubahan lain yang kami sambut baik juga hadir dari ragam perubahan yang membuatnya terasa lebih modern dan menyegarkan di saat yang sama, setidaknya jika dibandingkan dengan versi original yang kami cicipi di Playstation 2 setidaknya, 10 tahun yang lalu. Hal-hal seperti Break Damage Limit juga ditawarkan versi ini, memungkinkan karakter yang cukup kuat untuk menghasilkan damage di atas angka 9.999 ketika berada di level super tinggi. Perubahan juga dilakukan untuk beberapa item dan Magic yang kini tidak akan lagi bisa Anda temukan di tempat yang sama dengan versi originalnya. Sebagai contoh? Magic sekuat dan sepenting Hastega misalnya, bisa Anda temukan di salah satu merchant di versi original. Namun untuk di versi International dan juga The Zodiac Age ini, satu-satunya cara mendapatkannya hanyalah mendapatkannya dari dungeon akhir permainan yang dipenuhi dengan banyak monster super kuat.

Salah satu perubahan signifikan di sektor ini juga adalah cara mendapatkan salah satu senjata terkuat – Zodiac Spear. Di versi original, ia memiliki ketentuan terbodoh yang pernah Anda temukan di game JRPG manapun, walaupun kesempatan untuk mendapatkannya di awal permainan memang akan memudahkan jalan Anda untuk menyelesaikan ragam tantangan yang ada. Di versi original, Zodiac Spear hanya bisa Anda dapatkan dari sebuah peti jika Anda berhasil memenuhi syarat untuk tidak membuka beberapa peti spesifik yang Anda temukan di sepanjang perjalanan. Jika Anda “khilaf” dan membuka salah satu peti terlarang (yang sama sekali tak punya perbedaan dari sisi bentuk dan warna), maka kesempatan Anda untuk mendapatkan Zodiac Spear akan langsung dianulir. Di The Zodiac Age, sistem tersebut dirubah menjadi format yang lebih standar dan rasional. Zodiac Spear kini menjadi “hadiah” untuk salah satu side-quest yang cukup butuh waktu untuk diselesaikan, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Satu perubahan lainnya yang jarang sekali dibicarakan, namun signifikan dari sudut pandang kami, adalah bagaimana ia juga mengubah efek untuk beberapa skill yang berhasil membuatnya terasa lebih mudah dibandingkan versi original. Salah satu contohnya adalah serangan Techniks bernama “Wither” yang deskripsinya menuliskan efek penurunan strength pada musuh yang dilawan. Di versi original, Anda tidak akan bisa menggunakan Wither sama sekali di musuh berjenis Boss manapun. Namun di The Zodiac Age, hal berkebalikan justru terjadi. Anda bisa menggunakannya untuk melemahkan damage boss manapun secara permanen, termasuk Yiazmat atau Omega XII, yang digadang sebagai dua boss terkuat di game ini sekalipun. Membuat pertarungannya menjadi lebih sederhana dan mudah dikuasai dibandingkan dengan versi originalnya.

Perubahan-perubahan yang ditawarkan oleh versi The Zodiac Age ini memang menghasilkan efek positif yang berbeda pada dua jenis varian gamer. Bagi gamer seperti kami yang sempat mencicipi versi original dan satu-satunya versi barat Final Fantasy XII yang tersedia, perubahan sistem yang cukup signifikan seperti ini menawarkan pengalaman permainan baru, yang tidak lagi sekedar mengandalkan sensasi nostalgia saja. Sementara untuk gamer yang baru hendak terjun lewat versi Remaster ini, mereka mendapatkan sebuah pengalaman Final Fantasy XII yang lebih modern, rasional, dan tentu saja, sempurna.

Sistem Gambits yang Masih Fantastis

Selain voice acts yang jauh lebih sempurna ketika beralih dari Final Fantasy X, yang notabene merupakan seri pertama Final Fantasy untuk Playstation 2, Final Fantasy XII juga menyediakan eksekusi perubahan mekanik gameplay yang signifikan darinya. Masih mengandalkan sistem ATB untuk menunggu giliran serang, ia kini mengusung sistem ala sebuah game MMORPG. Sebuah dunia luas yang menunggu untuk Anda eksplorasi, dengan sistem pertarungan yang terlihat lebih dinamis dan aktif. Namun jika harus berbicara soal inovasi terbaik yang ia tawarkan, maka Gambits sepertinya menjadi jawaban yang terbaik. Sebuah sistem yang kerennya, masih terasa relevan dan fantastis 10 tahun sejak versi originalnya. Sistem yang benar-benar hadir jauh lebih cepat dari masanya.

Jadi apa itu Gambits? Walaupun masih memberikan kesempatan bagi Anda untuk mengendalikan semua karakter party utama yang Anda bawa ke pertarungan, Anda juga bisa mengandalkan sisanya pada AI yang ada. Intinya adalah membuat pertarungan berjalan selancar dan secepat mungkin, tanpa perlu membuat Anda harus menentukan pilihan aksi dari detik ke detik lainnya. Menjawab tantangan tersebut, Square Enix mengembangkan sebuah sistem AI berbasis konfigurasi logika sederhana yang disebut sebagai Gambits. Input perintahnya sangat sederhana dan nyaris, tak pernah memperlihatkan kegagalan eksekusi sama sekali. Ada dua hal yang perlu Anda input dengan pernyataan sesederhana “Jika A maka Anda harus melakukan B” pada AI yang spesifik.

Lewat sebuah user-interface super sederhana, Anda bisa mengatur Gambits tiap karakter dengan sangat mudah. Sebagai contoh? Anda bisa memasukkan perintah seperti “Jika darah Vaan berada di bawah 30%, maka saya akan menggunakan Curaga” atau bisa seperti “Jika ada musuh di dekat saya, maka saya akan menyerang”, membuat setiap AI ini secara dinamis, mampu mendukung ragam strategi yang bisa Anda usung tanpa perlu melakukan pengaturan mikro di setiap saat. Dengan memasukkan Gambits “Heal di bawah 30%” pada karakter Penelo misalnya untuk Vaan yang Anda posisikan sebagai tanker, maka Anda tidak perlu takut bahwa karakter ini akan tewas selama Penelo memiliki MP untuk mengeluarkan magic tersebut. Anda bisa mengatur hampir semua hal, dari buff, menyembuhkan status ailments, menyerang, hingga strategi lebih kompleks dan spesifik seperti membuat AI menggunakan Dispel untuk menghapus keuntungan dari musuh tiap kali musuh menggunakan magic seperti Protect atau Reflect, misalnya.

Kerennya lagI? Bahkan 10 tahun setelahnya, Gambits masih membuktikan diri sebagai salah satu sistem paling inovatif yang pernah muncul di sejarah JRPG. Sebuah sistem yang memberikan kesempatan bagi Anda untuk mengatur bagaimana AI pendukung tim Anda bekerja, dan bukan sekedar membiarkan developer untuk mempersiapkannya bagi Anda. Apalagi, Anda juga bisa mengatur mana perintah yang akan dieksekusi dalam skala prioritas bagi si AI dengan meletakkan perintah Gambits mana yang berada di atas. Apakah Anda ingin AI lebih berfokus untuk menjadi healer? Atau aktivitas healing ini sepantasnya dieksekusi di sela-sela ketika ia menyerang? Anda bisa menentukan hal tersebut dengan menempatkan posisi Gambits itu sendiri.

Sedikit mengherankan memang bahwa setelah Final Fantasy XII, sistem ini tidak pernah lagi diimplementasikan oleh Square Enix di seri Final Fantasy manapun ataupun dicontek oleh produk kompetitor JRPG yang lain. Padahal di mata kami, kebebasan untuk mengatur tugas dan kerja AI untuk beradaptasi dengan pertarungan apapun yang Anda hadapi tetapi tetap punya kontrol penuh atas mereka, akan membuat beberapa judul game JRPG dengan elemen action sekalipun, akan berakhir terasa fantastis. Sulit rasanya untuk tidak membayangkan jika sistem serupa seperti ini diterapkan di Final Fantasy XV untuk ekstra elemen strategi.

Sensasi JRPG yang Begitu Dirindukan!

“Saya masih tidak mengerti mengapa banyak penggemar Final Fantasy secara terbuka mengutuk dan membenci Final Fantasy XIII!”, pernahkah Anda mendengar pernyataan seperti ini muncul dari mulut teman Anda? Jika iya, maka besar kemungkinan ia mendasarkan pernyataan tersebut pada pengalaman gaming Final Fantasy-nya yang sepertinya dimulai dari seri yang menjadikan Lightning sebagai bintang utama tersebut. Mengapa? Karena bagi gamer yang sempat mencicipi seri seperti Final Fantasy XII terlebih dahulu, maka jelas bahwa Square Enix memang berupaya untuk membuat Final Fantasy XIII sebagai produk RPG yang lebih mainstream. Sebuah game JRPG yang cantik secara visual dan mengusung garis cerita linear seperti game action barat. Mencicipi Final Fantasy XII: The Zodiac Age seolah mengingatkan kembali pada kami, soal justifikasi kritik pedas tersebut.

Mengapa? Karena Final Fantasy XII: The Zodiac Age benar-benar menawarkan sensasi JRPG lawas yang begitu kami rindukan. Sebuah game JRPG yang tidak hanya menyediakan dunia yang luas dan beragam untuk Anda jelajahi, tetapi begitu banyak misteri yang tak akan bisa Anda pecahkan tanpa membuka dan membaca walkthrough sebelumnya. Sesuatu yang sepertinya kian langka di game-game modern saat ini, yang tak ragu untuk memberi tahu kepada Anda lewat clue di sana dan sini soal apa saja yang bisa Anda atau tidak bisa Anda lakukan di game mereka. Sementara di Final Fantasy XII, Anda harus menemukannya sendiri.

Ada banyak contoh sederhana yang fantastis terkait implementasi sistem seperti ini. Sebagai contoh? Sebuah item bernama “Serpent Skin”, misalnya, yang kami yakin di versi originalnya telah menjadi sumber bagi begitu banyak kekecewaan dan rasa frustrasi bagi gamer FF XII di PS2. Mengapa? Karena satu-satunya cara Anda untuk mendapatkan uang adalah dengan menjual loot yang Anda dapatkan dari para monster, termasuk monster buruan raksasa yang juga menjatuhkan hal yang sama. Berita buruknya? Semua loot ini akan masuk dalam kategori yang sama, mengindikasikan bahwa tidak ada yang signifikan untuk setiap dari mereka. Salah satunya adalah “Serpent Skin” yang Anda dapatkan dari side-quest perburuan di awal permainan. Karena disimpan begitu saja di bagian Loot dan berperan tak ubahnya bagian monster lainnya yang Anda bunuh, banyak gamer yang menjualnya begitu saja. Alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan bahwa item tersebut ternyata esensial untuk salah satu side quest terselubung, yang berhadiah sebuah kunci yang akan membuka satu area rahasia, yang akan membuka satu ekstra Esper (Summon) di dalamnya. Begitu Anda menjual Serpent Skin tersebut, Anda bisa mengucapkan selamat tinggal padanya.

Maka hal seperti inilah yang banyak Anda temukan di Final Fantasy XII ini, beragam misi sampingan yang tak pernah memiliki clue jelas soal pemicu dan apa yang harus Anda lakukan untuk menyelesaikannya. Bahkan misi “Hunts” yang meminta Anda untuk memburu monster-monster super kuat yang mematikan pun punya lapisan misterinya tersendiri. Beberapa monster hanya akan hadir jika Anda menyelesaikan syarat dan ketentuan tertentu yang tak pernah dikomunikasikan secara eksplisit kepada Anda.

Ada monster yang hanya muncul jika semua karakter adalah perempuan, monster yang muncul hanya pada saat hujan atau salju, monster yang butuh area dibersihkan dari monster yang lain sebelum muncul, hingga monster yang menuntut Anda untuk menyelesaikan puzzle kompleks yang tak pernah Anda prediksi sebelumnya. Anda bahkan juga bisa berhadapan dengan monster sekelas Yiazmat yang memiliki 50 juta HP, terbesar di sepanjang sejarah Final Fantasy sebagai franchise atau Omega XII yang bisa membunuh Anda secara instan dengan tembakan laser super cepat. Berita baiknya? Setidaknya dibandingkan dengan 10 tahun lalu, Anda kini bisa mencari solusinya dengan cepat di dunia maya. Namun tetap saja, berusaha menemukan setiap dari mereka akan butuh perjuangan tersendiri.

Dibandingkan dengan apa yang kami capai 11 tahun yang lalu dengan rilis versi originalnya, kami masih menemukan banyak hal baru dan berbeda ketika mencicipnya lagi di versi The Zodiac Age ini, termasuk beberapa misi sampingan dan side quest yang tak pernah kami picu sebelumnya. Kami baru tahu untuk pertama kalinya, bahwa Final Fantasy XII memuat misi sampingan memancing yang dibutuhkan untuk membuka Greatsword terkuat di dalam game itu sendiri. Pancing sama yang akan membuat Anda bertemu kembali dengan Gilgamesh yang sempat Anda kalahkan sebelumnya. Atau fakta bahwa 10 kincir angin yang terletak di area bernama Cerobi Steppe ternyata bukan sekedar hiasan, tetapi juga mengusung puzzle di dalamnya.

Memainkan Final Fantasy XII kembali memang membuat kami mau tak mau, merindukan sensasi JRPG klasik seperti ini lagi. Sebuah game JRPG yang tidak hanya menawarkan dunia dengan penuh monster untuk Anda nikmati, tetapi begitu banyak rahasia dan tantangan untuk ditemukan dan ditundukkan.

Trial Mode

Mengikuti rilis International yang kami sebutkan sebelumnya, Square Enix juga sebenarnya sempat menambahkan beberapa konten ekstra di dalamnya. Yang paling sederhana, adalah dua buah mode New Game + untuk Anda yang masih ingin mencicipinya untuk kesekian kalinya. Dua mode New Game + ini adalah “Strong” dan “Weak”. Strong bisa didapatkan dengan menyelesaikan mode cerita yang ada. Membuang semua item, equipment, dan License Board yang sudah Anda buka dari playthrough sebelumnya, New Game + Strong akan membuat semua karakter yang Anda mainkan dimulai dari level 80 dan masih bisa mendapatkan exp. points hingga level 99. Sementara mode Weak berlaku sebaliknya. Mode ini akan membuat karakter Anda terkunci hanya di Level 1 saja tanpa exp, hingga mau tak mau, Anda harus mengandalkan equipment dan status dari license board untuk memperkuat karakter yang ada. Untuk mode terakhir ini, Anda harus menundukkan tantangan baru yang ditawarkan Square Enix di versi ini.

Benar sekali, kita berbicara soal Trial Mode. Mode yang satu ini akan menuntut Anda untuk bertarung melawan varian musuh dan boss dalam format 100 lantai. Begitu Anda menyelesaikan tantangan di 1 lantai, Anda bisa beralih ke lantai selanjutnya secara otomatis dan menempuh proses serupa hingga lantai terakhir. Setiap 10 lantai, Anda akan berkesempatan untuk menyimpan progress Anda. Kekuatan karakter Anda akan sangat bergantung pada level karakter dan equipment di cerita utama yang Anda pilih, dengan reward yang tak kalah menggoda. Tentu saja, ini bukan mode yang mudah untuk diselesaikan.

Seperti layaknya sebuah mode yang ditujukan untuk menguji kekuatan karakter Anda, ada dua hal yang membuat Trial Mode ini sulit. Pertama, bahwa semua status ailments yang Anda terima di satu lantai akan terus berlanjut hingga lantai-lantai selanjutnya hingga Anda menyembuhkannya secara manual. Ini berarti, status Blind yang Anda dapatkan di lantai 49 misalnya, akan tetap ada di sana saat bertarung di lantai 50 hingga Anda menyembuhkanya. Kesulitan kedua? Adalah fakta bahwa mode ini tak main-main menghadirkan musuh untuk Anda tundukkan. Ia memuat hampir semua musuh yang tersedia di cerita utama, baik Esper, Hunts, hingga ragam boss rahasia untuk Anda kalahkan, sebelum Anda bisa beralih ke lantai selanjutnya. Benar sekali, Anda juga akan menemukan musuh sekelas Yiazmat dan Omega Mark XII, atau sekelas Shadowseer yang menyebalkan di sini.

Hadir sebagai mode terpisah, Trial Mode tampil sebagai tantangan ekstra yang sempurna untuk Anda yang memang menginginkan pengalaman bermain lebih panjang dari game yang sayangnya, punya tingkat kesulitan yang cukup rendah di cerita utama ini. Setidaknya, lewat Trial Mode, Anda akan dihadapkan pada ragam tantagan yang tak akan sekedar bisa diselesaikan dengan hanya sekedar menyerang membabi buta dan menang, terutama untuk level-level akhir.

Kesimpulan

Bukan sekedar sebuah nostalgia, tetapi juga sebuah kehormatan untuk menikmati kembali salah satu game JRPG terbaik yang pernah dirilis, itulah yang bisa kami simpulkan dari Final Fantasy XII: The Zodiac Age ini. Bahwa daya tariknya tidak lagi tertarik pada sekedar peningkatan visual atau gubahan OST yang direkonstruksi ulang saja, tetapi juga ragam perubahan mekanik gameplay signifikan yang pernah didapatkan oleh gamer di pasar Barat sebelumnya. Penambahan dan perubahan fitur yang cukup untuk menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda untuk gamer yang tak pernah mencicipi versi International Zodiac Job System sebelumnya yang memang sempat tersedia hanya dalam bahasa Jepang saja. Menikmati game ini kembali benar-benar membuat kami rindu akan eksekusi konsep JRPG klasik yang tak sekedar berfokus pada cerita saja, tetapi juga berani berinovasi dari sisi gameplay hingga menawarkan mekanik gameplay yang akan membuat perhatian Anda sulit berpaling. Sebuah kombinasi elemen yang membuatnya nyaris sempurna.

Tentu saja, beragam kelemahan di masa lalu yang sempat ia tawarkan, masih terasa sempurna. 10 tahun tak bersua, dan kami pun masih sulit untuk menyukai Vaan sebagai karakter, yang membuat kami masih melihat Balthier atau Asche sebagai karakter yang lebih cocok disebut sebagai protagonis utama. Elemen lain seperti eksekusi Esper yang tak terasa terlalu signifikan dalam gameplay juga jadi kekurangan lainnya, di luar tingkat kesulitan cerita utama yang proses scaling-nya begitu buruk jika dibandingkan dengan ragam aktivitas sub-quest yang harus Anda tempuh. Scaling yang bahkan tak jarang membuat Anda bisa menundukkan boss terakhir tanpa melihat layar sama sekali, selama Anda sudah mengeksekusi Gambits yang tepat.

Namun di luar kekurangan tersebut, tak ada alasan bagi gamer penggemar JRPG untuk melewatkan Final Fantasy XII: The Zodiac Age. Bagi gamer barat yang tak pernah mencicipi versi International Zodiac Job System karena kendala bahasa, ia hadir dengan begitu banyak perubahan konten, mekanik, dan ftur yang membuat pengalamannya terasa nostalgic, namun menyegarkan di saat yang sama. Sementara gamer penggemar JRPG yang tak pernah mencicipi seri ini sebelumnya akan dihindangkan sebuah versi terbaik dari ragam elemen yang ada, termasuk visual.

Kelebihan

  • Cerita yang masih terasa solid
  • Peningkatan visual cukup signifikan
  • Turbo Speed Mode
  • Perubahan konten dan gameplay yang membuatnya terasa menyegarkan
  • Perburuan monster yang masih adiktif
  • Fran
  • Voice acting dengan aksen yang masih solid
  • Dunia yang penuh rahasia

Kekurangan

  • Vaan
  • Tingkat kesulitan cerita utama yang tidak scaling dengan level karakter
  • Esper yang tetap tak terasa menarik
  • Bar hitam yang mengganggu