Review Injustice 2 – Pertarungan Karakter DC

injustice 2

Mengembangkan sebuah game fighting, terlepas dari betapa sederhananya mekanik gameplay akhir yang ia usung, tentu bukan satu pekerjaan yang mudah. Walaupun inti genre ini selalu berkisar soal usaha untuk menundukkan lawan kamu hingga batas darah yang terakhir, namun kamu bisa melihat kompleksitas yang harus dipikirkan oleh sang developer. Untuk franchise yang sudah terbangun solid, mereka harus memikirkan karakter mana saja yang akan masuk dan keluar, serta memastikan inovasi yang dibangun cukup solid untuk membawa gamer baru untuk tertarik dan masuk. Sementara untuk franchise baru, mereka harus membangun segala sesuatunya dari awal, meracik desain, memastikan balancing karakter yang nyaris sempurna, hingga konten cerita yang “masuk akal” di sisi yang sama. Proses panjang yang berakhir dengan sikap dan tingkah laku gamer yang kemudian, berusaha mengakses setiap animasi serangan dengan penekanan tombol yang membabi buta.

Lantas, dimanakah posisi Injustice 2 di industri game itu sendiri? Dengan Netherrealm yang selama ini terkenal lewat seri Mortal Kombat, Injustice terkenal karena dua hal utama: ia mengkombinasikan karakter-karakter ikonik semesta DC di dalamnya, dan yang kedua, membangun cerita yang solid darinya. Kini, sang seri kedua muncul sebagai sekuel dengan beberapa inovasi hal baru disuntikkan, baik dari sisi presentasi hingga mekanik gameplay itu sendiri. kamu yang sudah sempat membaca artikel preview crew domain sepertinya sudah punya sedikit gambaran soal apa yang ditawarkan oleh Injustice 2 ini. Sebuah game fighting solid yang berujung lebih epik dari yang crew domain harapkan.

Lantas, apa saja yang disuntikkan Netherrealm Studios di Injustice 2 ini? Mengapa crew domain menyebutnya sebagai game baku hantam sinematik? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Seperti nama yang ia usung, Injustice 2 merupakan sekuel langsung dari Injustice pertama. Bagi kamu yang tak terlalu familiar, Injustice “bermain-main” dengan skenario apa yang terjadi jika Superman, tidak lagi percaya pada yang namanya nilai-nilai “kemanusiaan”. Dengan campur tangan Joker di kala itu, Kal-El berakhir membunuh Louis Lane dan bayi mereka yang tengah dikandung. Tak terima dengan kejadian itu, Superman pun hadir dengan satu resolusi – tak lagi membiarkan benih kejahatan merajalela. Tidak lagi percaya dengan konsep tidak membunuh, Superman pun mulai berburu dan menghabisi tiap penjahat yang ada, membangun Regime yang ada. Namun di akhir, Batman berhasil menghentikannya.

5 tahun setelah kekalahan Superman yang kini menjadi seorang tawanan dengan penjagaan ketat, dunia kini berhadapan dengan ancaman yang bahkan lebih besar, datang dari luar dunia. Benar sekali, adalah Braniac – sosok yang juga bertanggung jawab atas kehancuran Krypton, yang siap untuk menyerang bumi. Dengan kemampuannya untuk mengendalikan pikiran, apalagi dengan juga munculnya sumber ancaman dari para villain yang kini tergabung dalam The Society, Batman pun tak bisa lagi bertarung sendirian. Dibantu dengan Supergirl yang akhirnya menampakan dirinya, Batman pun harus memnta bantuan “teman lama”-nya untuk bisa melawan Braniac secara sepadan.

Hampir sebagian besar karakter dari Injustice pertama kembali di seri kedua ini, beberapa dengan pakaian baru. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun interaksi yang unik antara beberapa karakter yang ada, termasuk menghadirkan beberapa misteri baru – seperti kembalinya Joker yang seharusnya sudah tewas di seri pertama.

Lantas, tantngan seperti apa yang harus dihadapi oleh Batman dan Superman? Mampukah keduanya menundukkan Brainiac? Atau yang bahkan lebih penting, mampukah keduanya “menghapus” konflik raksasa yang sempat terjadi di seri pertama? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kamu dapatkan dengan memainkan Injustice 2 ini.

Presentasi yang Fantastis!

Injustice 2 adalah sebuah game fighting yang mengusung kualitas visual fenomenal, sesuatu yang tak lagi bisa dipungkiri. Mengusung engine sama dengan Mortal Kombat X, yang notabene dibangun dengan Unreal Engine 3 sebagai basis, Injustice 2 akan hadir sebagai game yang siap untuk membuat mata kamu termanjakan. Kita tak berbicara soal hal teknis seperti sekedar detail visual atau framerate saja, tetapi juga presentasi secara keseluruhan, dari desain tiap karakter, animasi serangan, hingga detail wajah yang siap untuk membuat kamu berdecak kagum.

Sinematik sepertinya adalah kata pertama yang akan crew domain pilih untuk menjelaskan daya tarik Story Mode-nya. Tak lagi mengusung sistem Arcade klasik di game fighting masa lampau dimana game akan menawarkan jalinan cerita berbeda tergantung pada karakter yang kamu pilih, Injustice 2 membawa satu cerita penuh yang meminta kamu untuk berperan sesuai dengan kebutuhan cerita yang ada. Di beberapa titik permainan, kamu akan punya kesempatan untuk memilih 1 di antara dua karakter yang biasanya hadir dengan sedikit interaksi yang berbeda, kecuali tentu saja, di kala ending yang juga mengusung konsep yang sama. Jika kamu termasuk pencinta DC Animated Universe, kamu sepertinya akan familiar dengan cerita dan pendekatan seperti apa yang kamu dapatkan.

Maka seperti layaknya film, cerita ditampilkan dalam bentuk satu cut-scene ke cut-scene yang lain. Masing-masing dipresentasikan fantastis, dari sudut kamera sinematik dengan voice acting yang solid pula. Satu yang fenomenal dari Injustice 2 adalah teknologi facial capture mereka yang berhasil membuat tiap model tiga dimensi ini terlihat seperti manusia hidup yang mampu berekspresi dengan tepat. kamu bisa merasakan hanya dari wajah mereka saja, kapan mereka merasa sedih, marah, hingga kecewa. Detail di cut-scene awal ketika Supergirl harus kabur dari Krypton, misalnya. Ekspresi mikro yang ditunjukkan ketika ia harus meninggalkan sang ibu tersebut bahkan terlihat hingga batas bibir yang bergetar kuat karena harus menahan rasa sedih yang mendalam. crew domain bahkan tak ragu untuk menyebutnya sejajar dengan game interactive story sekelas Until Dawn. Sementara dari sudut sinematik? Ada pertempuran antara Flash dan Reverse-Flash / Zoom yang kerennya bahkan melebihi adegan serupa di film animasinya.

Sisanya? Adalah memastikan bahwa seperti tema besar yang ia usung – Semesta DC, setiap karakter yang dipresentasikan di sini membawa identitas kuatnya masing-masing, hero ataupun villain. Walaupun pengetahuan crew domain terkait DC Universe tak semendalam untuk mengerti kekuatan dan kelemahan masing-masing karakter ini, namun animasi serangan dan visualisasi jurus pemungkas sebagian besar dari mereka berakhir menjadi sesuatu yang akan kamu puja-puji. Flash hadir dengan animasi serangan yang mengesankan bahwa ia memang bergerak jauh lebih cepat, Black Canary dengan basis serangan teriakan dan jurus tangan kosongnya yang kuat, hingga Scarecrow yang tak pernah terlihat lebih keren lagi dimanapun ia sempat muncul. Injustice 2 mengeksekusi presentasi ini dengan maksimal, bahkan hingga soal desain level dan animasi perpindahannya yang juga pantas untuk diacungi jempol.

Harus diakui, presentasi Injustice 2 berujung melebihi apa yang crew domain harapkan. Setelah ada kekhawatiran bahwa mereka tidak akan bisa menangani beberapa hero wanita terutama karena masalah wajah yang “kasar” di pengumuman awal, kekhawatiran tersebut akhirnya sirna. Bahkan untuk kasus Wonder Woman dan beberapa hero dengan kostum baru mereka yang berujung pantas untuk diacungi jempol. It’s awesome!

It’s Injustice

Lantas, bagaimana dengan sisi gameplay-nya sendiri? kamu tentu saja sudah mengerti apa itu pondasi game fighting pada umumnya, sesuatu yang juga diterapkan oleh Injustice 2 ini sendiri. Dari sisi gameplay, ia tetaplah seperti apa yang kamu kenal dari seri Injustice. Seperti halnya Mortal Kombat, pertarungan antara karakter-karakter DC ini akan dihiasi dengan serangan-serangan kombinasi yang memainkan peran lebih esensial. Berusaha menghubungkan satu kombinasi ke kombinasi lain dengan timing yang tepat akan menjadi kunci kemenangan terbaik kamu di seri yang satu ini. Tentu saja, kamu juga harus mengetahui kapan kamu harus menggunakan bar Power kamu dan kapan untuk menabungnya. Itulah inti Injustice 2.

Satu yang menarik, karakter tidak hanya berbeda dari sekedar visual saja. Karakter yang ukurannya lebih kecil atau tidak punya kekuatan super power bisa berujung tidak mengakses serangan lingkungan yang ada. Sebagai contoh? Superman bisa dengan mudah mengangkat dan membuang seekor buaya yang tergantung di tengah arena pertempuran, sementara karakter seperti Catwoman, misalnya, hanya bisa menggunakannya sebagai batu loncatan untuk lompatan lebih jauh. Ukuran juga terkadang, menentukan kecepatan serangan dan gaya permainan seperti apa yang kamu dapatkan. Karakter seperti Bane atau Swamp Thing misalnya, punya mobilitas lebih rendah, tetapi damage serangan lebih tinggi. Sesuatu yang tentu saja bertolak belakang, dengan Catwoman atau Cheetah, misalnya.

Maka, pertarungan di Injustice 2 akan berkisar, tidak hanya pada serangan kombinasi seperti apa yang bisa kamu eksekusi dengan efektif (yang untungnya bisa dipelajari lewat move list lengkap yang mereka sediakan), tetapi juga soal management resource tabung Power kamu. Tabung yang akan terisi lebih cepat jika kamu mendapatkan serangan tersebut akan jadi kunci lebih penting lagi, untuk memastikan kemenangan kamu. Jika di game fighting lain ada kecenderungan untuk “menabung” tabung ini untuk meluncurkan serangan final terkuat yang bisa menguras nyawa musuh secara instan, maka di Injustice 2, akan lebih bijak untuk justru membuatnya sebagai “steroid” untuk serangan spesial karakter kamu. Dengan menghabiskannya di momen yang tepat, kamu bisa membuat serangan kombinasi kamu lebih efektif.

Sistem “Wager” juga kembali di sini, membuat bar ini kini juga punya elemen strategi. kamu bisa menjadikan jumlah bar Power yang kamu miliki sebagai taruhan ketika kamu memicu Clash atau justru menjadi sasaran dari pihak musuh. Dalam kondisi ini, kamu bisa mendapatkan keuntungan ekstra selama kamu bertaruh jumlah bar power lebih besar daripada lawan kamu. Jika kamu menjadi “korban” Clash dan menang, kamu akan mendapatkan ekstra persentase damage, namun jika kamu menjadi “pemicu”-nya, kamu akan berkesempatan untuk memulihkan HP kamu dalam persentase pula. kamu bisa memicu Clash ketika melihat musuh tak lagi memiliki bar Power misalnya, untuk mendapatkan ekstra keuntungan. Namun apakah kamu harus selalu menaruh semuanya? Tentu tidak. Semuanya kembali ke keputusan dan bahan pertimbangan kamu sendiri. Karena tidak jarang kamu akan bertemu kondisi dimana lebih bijak untuk membiarkan musuh memenangkan Wager tersebut dan membiarkan bar Power kamu terisi penuhnya. Dengannya, kamu bisa memicu serangan pemungkas untuk damage instan yang besar ketika dibutuhkan.

Sebagai sebuah game fighting, Injustice 2 bukanlah sebuah game fighting yang terhitung “kompleks”, dimana seperti halnya Street Fighter, Guilty Gear, atau KOF misalnya, usaha pertama yang dilakukan justru harus menguasai kombinasi tombol seperti apa yang harus digunakan untuk mengeluarkan jurus-jurus berbeda untuk tiap karakter. Kombinasi tombol yang dituntut oleh Injustice 2 terhitung sederhana. Yang kamu butuhkan justru memahami kapan untuk menggunakan serangan-serangan di timing yang tepat, atau mempelajari combo seperti apa yang bisa disambung dengan serangan combo yang lain. Setidaknya, kamu tak akan perlu khawatir soal putaran d-pad setengah lingkaran dua kali yang entah kenapa, tak kunjung bisa kamu eksekusi.

Satu yang berbeda dibandingkan dengan Injustice pertama adalah fakta bahwa semua karakter kini memiliki satu tombol khusus untuk mengakses skill unik mereka masing-masing. Tanpa menggunakan bar power dan lebih diperlihatkan dalam bentuk icon berbasis cooldown, tiap karakter selalu punya akses untuknya dengan tombol lingkaran (di Playstation 4). Batman bisa memanggil tiga ekor “drone” kecilnya yang bisa meledak, Flash bisa melambatkan waktu secara singkat, Bane bisa menghasilkan damage lebih besar lewat Venom-nya, Harley Quinn bisa memanggil anjing peliharaannya yang ganas, hingga Catwoman yang bisa “menghimpun” cakarnya untuk serangan kombinasi otomatis. Yang terakhir ini cukup menarik. Karena jika Catwoman berhasil menghimpun cakar ini hingga penuh dan berakhir tewas, maka kamu akan melihat animasi seekor kucing akan mendekati dan memberikannya “nyawa” yang baru dengan bar HP yang lumayan banyak.

Mengeksekusi skill 1 tombol ini tentu saja juga tak kalah penting. kamu bisa menggunakannya untuk memicu serangan kombinasi mematikan kamu, atau sekedar justru, untuk menghindari serangan musuh dengan cepat seperti serangan grapple atau bahkan, spesial sekalipun. Kehadirannya membawa dinamika tersendiri untuk Injustice 2, membuka peluang besar untuk melihat bagaimana para pemain profesional memanfaatkan talenta unik masing-masing karakter ini.

“Bongkar-Pasang” Karakter

Satu hal berbeda yang mereka tawarkan di Injustice 2 adalah hadirnya sistem equipment di dalamnya. Bahwa mengikuti konsep banyak game berbasis “multiplayer” saat ini seperti Overwatch atau DOTA 2 misalnya, gamer bisa mempercantik karakter-karakter favorit mereka dengan beragam equipment yang tersedia. Di sini, mereka menyebutnya sebagai Gear. Kostum tiap karakter akan dibagi ke dalam bagian-bagian spesifik yang bisa dimodifikasi. kamu bisa mengganti setiap darinya, atau menggunakan set keseluruhan yang kamu beli / dapatkan, atau sekedar mengganti warna untuk membuatnya terlihat lebih unik. Di sinilah Netherrealm Studios berusaha menjawab soal “usia” Injustice 2 itu sendiri. Bahwa dengan proses seperti ini, para fans yang berdedikasi bisa mendapatkan lebih dari sekedar sebuah game fighting yang hanya memuat 1 atau 2 alternatif kostum. Ada lusinan kostum yang bisa kamu buka dan gunakan.

Kerennya? Kostum ini bukan sekedar soal kosmetik. Tiap bagian yang kamu pilih atau dapatkan dari Crates yang bisa kamu beli dari mata uang in-game atau dapatkan sebagai reward dari pertarungan, akan punya efek tersendiri pada karakter kamu. Equipment ini dibagi ke dalam beberapa tingkat kelangkaan, efek dan juga level. Hanya karakter dengan level sama yang bisa menggunakan equipment di level yang sama pula, atau lebih rendah. Tiap equipment ini akan mempengaruhi tak hanya penampilan, tetapi juga performa karakterknya, dari kemampuan serang, kecepatan, jumlah health, hingga beberapa modifier yang akan mengubah cara skill kamu bekerja.

Pada akhirnya, setelah menikmati konten Story Mode-nya yang fantastis, motivasi selanjutnya untuk terus mencicipi Injustice 2 adalah melakukan proses grinding untuk dua hal: akhirnya mendapatkan set equipment yang kamu butuhkan atau mengumpulkan mata uang in-game yang cukup untuk langsung membelinya, atau sekedar membeli Crate yang kemungkinan berisi set yang kamu butuhkan. Apalagi ada beberapa set yang memang didesain khusus untuk menghadirkan karakter lain yang baru seperti set Power Girl untuk Supergirl, Reverse-Flash untuk Flash, hingga Mr. Freeze untuk Captain Cold. Set-set spesial ini juga terkadang bisa memicu reaksi dari karakter lawan di awal pertarungan, yang juga jadi salah satu kekuatan presentasi Injustice 2 ini.

Dengan equipment dan level karakter yang lebih kuat, kamu bisa menguji equipment kamu di dua kesempatan: Pertama, tentu saja secara online. Bertemu dengan user lain dari seluruh dunia dan menguji equipment yang sudah kamu dapatkan tentu saja menjadi sumber keasyikan tersendiri. Apalagi varian yang ia tawarkan memang bisa membuat kamu meracik karakter min-max jika diinginkan. Apakah kamu ingin Bane yang tanky? Atau Bane yang lebih cepat? Atau Bane yang rentan, tapi punya damage pukulan yang lebih mematikan? Kesempatan seperti ini terbuka lebar dan membuat Gear ini menjadi lebih esensial daripada sekedar kosmetik. Kedua? Sebuah mode tersendiri bernama Multi-verse.

Multi-Verse

Multi-verse bisa dibilang adalah mode terbaik nan adiktif yang pernah crew domain cicipi di game fighting manapun. Konsepnya sendir sederhana dan masih mengikuti semesta DC yang memang terbagi ke dalam begitu banyak dunia paralel dengan jalan cerita masing-masing. Netherrealm Studios mengeksplorasi konsep “khas-komik” tersebut dan kemudian mengimplementasikanya ke dalam sebuah sistem mode yang pantas untuk diacungi jempol. Sebuah sistem yang akan terus memastikan kamu punya cukup konten untuk kembali dan kembali mencicipi Injustice 2. Atau bahkan, tak pernah beranjak sekalipun.

Selain mode online, di sini pulalah Gear memainkan peran penting. Karena Multi-Verse, seperti namanya, bukanlah dunia yang mudah ditundukkan. Di awal hari, kamu akan selalu ditawarkan setidaknya lima buah planet / dunia dengan kondisi berbeda-berbeda. Di dalamnya, gameplay mirip sistem Tower Mortal Kombat disuntikkan, dimana kamu harus menundukkan serangkaian musuh dalam jumlah / tema tertentu untuk bisa dicap sebagai “pemenang”. Namun tak main-main, tiap planet ini punya satu objektif utama yang terdiri dari beberapa objektif sampingan yang jika berhasil diselesaikan, akan memberikan kamu peti untuk Gear dan tentu saja, uang virtual untuk membeli apapun yang kamu butuhkan. Di sinilah, letak sisi menariknya.

Bahwa untuk setiap dunia yang ditawarkan oleh Multi-Verse, kamu akan selalu mendapatkan pengalaman berbeda. Walaupun ceritanya sekedar ditawarkan dalam bentuk deskripsi pendek sebelum kamu memilihnya, tiap dunia biasanya punya tantangan atau bahkan, sistem sendiri. Ada dunia dimana kamu harus bertarung dengan setidaknya 16 karakter untuk bisa menundukkannya. Ada dunia dimana roket atau serangan petir akan secara acak muncul dari angkasa dan menyerang salah satu dari kamu. Ada dunia dimana kamu hanya harus bertarung melawan Cyborg, tetapi versi ini memiliki Shield yang membuatnya tak bisa stagger dengan damage output yang lebih besar pula. Sementara di sisi lain, ada pula dunia dimana kamu bisa menggunakan Raven sebagai karakter support yang akan muncul lewat portal untuk melemparkan satu atau dua kombo serangan ke musuh yang ada.

Fakta bahwa dunia-dunia Multi-Verse ini selalu berbeda dan diperbaharui setiap menyentuh 2-3 jam tertentu memang menghasilkan pengalaman game fighting yang luar biasa. Batas waktu membuat ada rasa terdesak, membuat kamu ingin berusaha menyelesaikan tiap dunia secepat mungkin dan kemudian, mengklaim hadiah yang ia tawarkan. Namun di sisi lain, dunia yang terus berubah ini juga berarti menciptakan konten dunia yang selalu berbeda-beda setiap kali kamu berusaha masuk ke dalamnya. kamu tidak pernah akan tahu tantangan unik seperti apa yang kamu temui, membuatnya tak mudah terasa monoton.

Multi-Verse juga terkadang mengkondisikan beberapa hal yang seolah didesain untuk mendorong kamu melakukan proses grinding. Ada misi yang hanya bisa ditempuh oleh karakter level 20 (MAX), ada misi yang bisa diselesaikan jika kamu memiliki jumlah tertentu pada status spesifik yang dibutuhkan, dan ada pula jenis misi yang hanya bisa diatasi oleh satu karakter spesifik yang ditunjuk. Baik sistem Gear, grinding, dan Multi-verse ini didesain untuk satu tujuan – memastikan kamu terus bisa menikmati Injustice 2, walaupun Story Mode sudah selesai, baik secara online ataupun offline. Dan sejauh ini? crew domain bisa menyebutnya, berhasil.

Microtransaction

Namun kembali, kita berhadapan dengan kebijakan yang memang terhitung, sulit dimengerti oleh para gamer namun terus dipaksakan oleh para publisher atas nama “uang cepat”. Benar sekali, microtransactions. Kali ini, Warner Bros sebagai publisher dan Netherrealm Studios memang tak bisa ditoleransi jika berbicara soal ini. Oke, dia menawarkan hampir 30 karakter playable di rilis awal tanpa DLC, dengan masing-masing punya identitas dan daya tarik yang berbeda. Namun mengumumkan konten DLC bahkan sebelum game dirilis? Oh c’mon..

Membicarakan konten DLC berbayar pada saat game resmi belum dirilis memang sama levelnya dengan mempersiapkan surat cerai tertulis untuk ditkamutangani, sehari sebelum pesta pernikahan digelar. Sesuatu yang terasa tidak adil untuk alasan yang tak jelas, walaupun ia berisikan “hanya” tiga karakter, termasuk sosok Sub-Zero di dalamnya. Jika menilik apa yang dilakukan Netherrealm Studios selama ini, ini tentu bukan yang pertama dan terakhir. Ada kemungkinan besar mereka akan terus merilis DLC karakter-karakter ini secara terpisah di masa depan seperti yang terjadi dengan Mortal Kombat X, dan kemudian melepas sebuah rilis versi “final” dengan semua konten tersebut dengan harga game sebuah penuh. Sebuah strategi “klasik” yang sepertinya sudah terbaca sejak awal.

Yang semakin menyedihkan adalah fakta bahwa proses grinding Gear dan karakter yang seharusnya menjadi sesuatu yang penuh kerja keras dan dedikasi, juga masuk ke dalam jalur microtransactions ini. Bahwa dengan menggunakan uang nyata, kamu bisa membeli mata uang in-game yang disebut sebagai “Souce Crystals” dalam jumlah yang besar. Mata uang ini bisa digunakan untuk langsung membawa karakter kamu langsung ke level 20, atau membeli warna dan set alternatif yang kamu inginkan untuk karakter kamu. Hasilnya? kamu bisa menggunakan uang nyata kamu untuk mencapai progress jauh lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak menghabiskan waktu untuk memainkan Injustice 2 untuk mencapai hal yang sama.

Dengan kondisi seperti ini, sulit rasanya untuk tidak merasa curiga bahwa kebutuhan untuk melakukan grinding di Injustice 2 tidak didesain dengan motivasi untuk membuat waktu gameplay Injustice 2 ini lebih panjang. Tetapi lebih pada pemikiran bahwa kesulitan ini bisa membuat gamer merasa frustrasi, dan akhirnya berujung membeli progress yang ada dengan uang nyata, yang notabene membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat daripada harus melakukan segala sesuatunya tanpa menggunakan microtransactions.

Memang kamu tidak bisa membeli set yang notabene mempengaruhi performa tiap hero, tetapi dengan Source Crystal, kamu tetap bisa membuat tiap karakter naik secara instan ke level 20. Karakter level 20 tentu bisa menggunakan item-item dan set level 20 yang beberapa diantaranya masuk ke level kelangkaan “Epic” dengan stats yang bagus. Microtransaction di Injustice 2 memang tidak mempengaruhi performa karakter secara langsung, namun secara tidak langsung, bisa terjadi.

Tetapi setidaknya, Injustice 2 berhasil membuat Microtransactions ini terasa tidak imbang dan berujung jadi keharusan. Bahwa pada akhirnya, ia akan jadi “opsi” untuk mereka yang tidak sabar lagi untuk melakukan proses grinding, khususnya untuk menaikkan level karakter. Tetapi apakah “opsi” seperti ini adil untuk sebuah game yang ditawarkan di tingkat harga AAA? Itu kembali ke tangan kamu.

Kesimpulan

Injustice 2 adalah sebuah game fighting yang fantastis. Bahwa di luar kebijakan tidak populer yang diambil oleh WB dan Netherrealm Studios, ia tetap berakhir sebagai sebuah proyek luar biasa yang akan memenuhi mimpi tiga jenis gamer: pencinta DC, pencinta genre fighting ala MKX atau Injustice pertama, atau sekedar gamer yang menginginkan jalinan cerita yang solid. Semuanya dieksekusi dengan sangat baik oleh Injustice 2 ini. Kerennya lagi? Di luar ekspresi wajah, presentasi solid, dan karakter dengan animasi serangan unik yang mereka tawarkan saat ini, tingkat kesulitan yang ia tawarkan juga siap untuk membuat kamu tertantang, terutama ketika melewati beberapa pertarungan spesial di Multi-Verse yang “ajaib”. Ini adalah sebuah game fighting dengan cita rasa yang kaya dan sinematik di saat yang sama.

Walaupun demikian, harus diakui, Injustice 2 bukanlah sebuah game yang sempurna. Selain kekurangan seperti microtransactions yang bisa dilihat sebagai sebuah kebijakan yang pantas untuk dipertanyakan, balancing juga jadi catatan yang lain. Walaupun ia tak pernah berakhir jadi karakter favorit crew domain, namun dunia maya sempat membicarakan betapa serangan jarak dari Deadshot misalnya, hampir membuat scene kompetitif secara online “lumpuh”. Sementara dari cita rasa pribadi crew domain, karakter dengan damage besar sekelas Swamp Thing misalnya, punya kecepatan serang yang terlampau lambat untuk membuatnya terasa seimbang dengan karakter-karakter lebih “kecil”. Ini harus jadi tugas Netherrealm Studios selanjutnya.

Namun di luar kelemahan tersebut, Injustice 2 berakhir jadi sebuah game fighting yang melebihi harapan crew domain. Ini mungkin menjadi satu kasus khusus yang sudah lama tak crew domain rasakan, dimana sebuah game fighting didesain dan memuat konten yang justru berfokus pada mode single player yang ada, dan bukan sekedar online. Cerita super sinematik, solid, dengan konten Multi-Verse yang selalu segar, kamu tetap bisa menikmatinya tanpa sekalipun harus terhubung dalam jejaring internet. Luar biasa!