Review Game Battle Legendaris Dragon Ball Xenoverse

dragon ball xenoverse

Dragon Ball Xenoverse tidak bisa dipungkiri, menjadi salah satu produk Bandai Namco yang paling diantisipasi tahun ini. Ada beberapa alasan yang mendasar antusiasme banyak gamer untuk menikmatinya. Pertama, tentu saja fakta bahwa ia akan menjadi produk perdana yang menuju platform generasi terbaru, harapan untuk melihat kualitas visualisasi yang belum pernah ada sebelumnya menjadi sangat tinggi. Kedua? Fakta bahwa ia akan menawarkan sisi cerita yang lebih inovatif dan menjadikan karakter utama racikan kamu sendiri sebagai fokus. Ketiga dan yang paling utama? Sudah pasti, PC. Dragon Ball Xenoverse adalah game Dragon Ball pertama yang secara resmi dirilis untuk platform super dinamis ini.

kamu yang sempat membaca preview crew domain sebelumnya tentu saja sudah mengetahui impresi seperti apa yang ditawarkan oleh game yang satu ini. Bertolak belakang dengan excitement yang mungkin kamu temukan di dunia maya, crew domain termasuk gamer yang menaruh tanda tanya besar pada pondasi desain utama yang ditawarkan Bandai Namco dan Dimps di dalamnya. Berfokus pada pengalaman multiplayer dan gameplay yang grindy, crew domain bahkan menangkap sensasi yang terasa begitu famiiar dengan Destiny. Ada keharusan untuk menempuh sebuah proses repetitif yang terus diulang untuk dapat “menikmati” game yang satu ini. Sesuatu yang tentu saja sangat crew domain sesalkan.

Plot

Hampir sebagian besar dari kita tentu mengenal Dragon Ball, entah dari versi manga atau anime-nya sendiri. Franchise yang berusia lebih dari 20 tahun ini memang populer di seluruh dunia, tidak hanya karena desain karakternya yang keren, tetapi juga dari konsep pertempuran desktruktif dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Menariknya lagi? Ia juga termasuk salah satu franchise game adaptasi anime yang hidup begitu lama, bahkan lintas generasi dengan kesuksesan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan perkembangan cerita yang tidak seberapa signifikan sejak terakhir kita mengenalnya, developer tentu saja butuh cara baru untuk mengeksploitasi sisi cerita yang ada. Untuk urusan yang satu ini, Dragon Ball Xenoverse mengeksekusinya dengan tepat.

Alih-alih membawa kamu kembali menyusuri jejak sejarah pertempuran Goku dkk melawan variasi musuh super kuat yang sudah diceritakan puluhan kali lewat media game, Dragon Ball Xenoverse dibangun dengan satu skenario pengandaian, lewat satu kalimat sederhana, “Apa yang Terjadi Jika..”. Sebuah skenario yang memungkinkan developer untuk menempuh kembali beragam pertarungan ikonik franchise ini, mengubah outcome yang ada, dan menjadikan kamu sebagai karakter utama yang bertugas untuk menjadikannya kembali tepat, seperti Dragon Ball yang selama ini kamu kenal.

kamu akan berperan sebagai karakter racikan kamu sendiri, yang dipanggil oleh Shen Long ke Toki Toki City karena bantuan Trunks masa depan. Dunia tidak lagi seperti yang kamu kenal, dan semua hasil akhir dari event ikonik Dragon Ball sudah berubah. Tidak ada lagi kemenangan Goku atas Raditz, Mayat Gohan terbaring di bawah kaki Cell, dan dunia hancur karena kerakusan Bhu. Dengan kekuatan Supreme Kai of Time, kamu diminta untuk bertugas sebagai seorang Agent Waktu, yang lewat sebuah buku bernama Book of Endings dan Beginnings harus kembali ke setiap momen bersejarah ini, memperbaikinya agar menghasilkan outcome cerita Dragon Ball yang selama ini kita kenal. Investigasi yang dilakukan ternyata membuka tabir misteri bahwa semua keanehan ini tidak hanya terjadi begitu saja. Ada dalang dengan kekuatan tidak kalah besar yang membuat kekacauan waktu ini.

Siapa dalang tersebut? Motif seperti apa yang mendorong mereka untuk melakukan “kejahilan” ini? Pertempuran ikonik seperti apa saja yang harus kamu perbaiki di dalamnya? Semua jawaban dari pertanyaan ini bisa kamu jawab dengan memainkan Dragon Ball Xenoverse ini.

Berfokus Karakter Racikan Sendiri

Salah satu konsep yang secara mengejutkan berhasil dieksekusi dengan baik oleh Dragon Ball Xenoverse adalah fakta bahwa tidak seperti seri-seri sebelumnya yang meminta kamu untuk berperan sebagai karakter protagonis utama dalam cerita, kamu kini diminta untuk menyelamatkan semesta dengan karakter racikan kamu sendiri. Dengan modifikasi penampilan yang cukup bervariasi, kamu bisa membangun karakter yang cukup terasa personal. Bagian terbaiknya? Dragon Ball Xenoverse juga menyediakan cukup banyak variasi ras seperti Earthlin, Majin, Namekian, Saiya, dan Frieza yang masing-masing hadir dengan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri-sendiri. crew domain sendiri memilih seorang karakter Saiyan wanita untuk memuaskan rasa penasaran yang tidak pernah bisa didapatkan dari versi manga atau anime-nya.

Karakter ini adalah nyawa kamu, kunci dari semua pengalaman yang ingin ditawarkan oleh Dragon Ball Xenoverse. Sangat menarik untuk melihat bagaimana karakter “asing” yang keluar dari imajinasi kamu ini ternyata berhasil menemukan tempatnya sendiri dalam saga Dragon Ball yang epik. Berjalan melintasi waktu dan berusaha membenahi cerita Dragon Ball yang selama ini kamu kenal, kamu juga akan bertemu dengan beberapa intepretasi plot “baru” yang mengundang tawa. Kebebasan yang dimiliki oleh Dimps untuk memodifikasi cerita sekehendak hati mereka berujung pada banyak momen memorable yang pantas diacungi jempol. Sebagai contoh? Ketika Ginyu berhasil mendapatkan tubuh Vegeta, misalnya, dengan menggunakan jurus tukar tubuhnya yang ikonik. Melihat Vegeta bergaya ala Ginyu Forces cukup untuk membuat crew domain tersenyum lebar.

Namun tidak hanya sekedar dari sisi cerita saja, bahkan semua elemen gameplay yang ditawarkan Dragon Ball Xenoverse berujung pada satu muara yang sama – memperkuat karakter utama yang kamu racik sendiri. Serangkaian quest dan side quest yang ditawarkan akan berujung pada akumulasi jumlah experience points dan uang yang diperlukan untuk memperkuat karakter kamu ini. Untuk setiap kenaikan level, kamu bisa mendistribusikan skill points ke beragam atribut yang ada.

Sayang seribu sayang, dari sini rasa frustrasi ketika memainkan Dragon Ball Xenoverse sudah muncul. Apa pasal? Terlepas dari ragam atribut yang bisa dibangun untuk karakter kamu, DB Xenoverse terhitung gagal mengkomunikasikan kepada kamu sebenarnya efek seperti apa yang dihasilkan oleh setiap atribut ini. Ini bukan seperti game action RPG, dengan elemen seperti Strength, Luck, atau Dexterity yang sudah dikenal dan digunakan secara luas. Bagaimana caranya kamu membangun karakter kamu sesuai dengan kebutuhan dan gaya bermain kamu jika kamu sendiri tidak tahu efek seperti apa yang sebenarnya dihasilkan jika berfokus pada gaya min-max untuk satu dari 6 atribut yang ada: Health, Ki, Stamina, Basic Attacks, Strike Supers, & Ki Supers.

Walaupun kamu bisa menggunakan karakter yang berbeda untuk menyelesaikan beragam side quest yang ada, progress cerita utama tetap hanya bisa diselesaikan dengan karakter yang kamu racik. Oleh karena itu, memperkuat mereka menjadi sesuatu yang esensial. Selain meningkatkan atribut, kamu juga bisa menyematkan variasi equipment dengan efek unik masing-masing untuk mendukung atribut yang kamu prioritaskan. Tidak hanya itu saja, ada serangkaian variasi jurus yang kamu sematkan dan item untuk menyembuhkan status tertentu yang bisa kamu bawa setiap kali bertarung. Pada intinya, Dragon Ball Xenoverse akan berputar pada satu kata kunci – penguatan karakter racikan kamu. Itu saja. Semua proses grinding yang terpaksa kamu lewati berujung ada pada satu tujuan ini.

Mengesalkan dan Melelahkan!

Secara garis besar, Dragon Ball Xenoverse sebenarnya menawarkan mekanisme gameplay yang cukup mumpuni untuk merepresentasikan genre fighting yang ia usung. kamu memang tidak akan bertemu dengan pendekatan sinematik seperti di seri Dragon Ball sebelumnya, dimana pertarungan kini berjalan lebih cepat dan aktif. Ia mudah dikuasai, namun juga bisa didalami dengan tingkat kompleksitas tertentu. Seperti biasa, ada beberapa elemen bar yang perlu diperhatikan seperti Stamina untuk menghindar dari serangan musuh atau Ki yang butuh dikorbankan untuk mengeluarkan serangan ultimate yang destruktif atau sekedar serangan Ki biasa. Pertempuran sendiri berjalan di sebuah arena tiga dimensi yang terhitung luas, dengan kebebasan untuk bergerak secara horizontal maupun vertikal.

Mekanisme pertarungan yang ia usung memang terhitung menyenangkan. kamu dipaksa untuk melancarkan kombinasi serangan kreatif kamu sendiri untuk menghasilkan damage besar sesingkat-singkatnya. Sementara bagi yang diserang, mencari timing untuk melakukan serangan balik menjadi sesuatu yang esensial. Namun apakah ia berhasil menangkap atmosfer pertempuran ala anime Dragon Ball dengan tepat? Secara kecepatan, iya. Namun secara visual? Sayangnya, tidak. Peralihan menuju ke konsol generasi terbaru tidak lantas membuat Xenoverse bisa menangkap esensi dramatis setiap pertempuran dengan tepat. Beberapa efek yang seharusnya tampil dalam format yang “wah”, seperti serangan kamehameha atau peralihan menjadi Super Saiyan yang harusnya menggemparkan terlihat begitu biasa. Parahnya lagi? Peningkatan performa tetap tidak memungkinkan efek kehancuran pada arena “bermain” kamu. Bangunan tidak hancur, gunung tidak runtuh, tidak ada lubang raksasa ketika serangan bola sinar kamu meleset. Mengecewakan, tentu saja.

Namun sumber kekecewaan mengakar dari mekanik yang lain. Mekanik yang cukup untuk membuat kamu kesal dan lelah dalam waktu yang sangat singkat. Seperti yang sempat crew domain bicarakan di artikel preview sebelumnya, secara mengejutkan, Dragon Ball Xenoverse sangat menitikberatkan mekanisme grinding bagi karakter utama untuk melanjutkan cerita yang ada. Sensasi layaknya Destiny tercermin jelas, namun dalam format yang lebih “ringan”. Setidaknya, untuk setiap misi sampingan yang kamu selesaikan, reward yang kamu dapatkan memang jelas dan terasa memang pantas untuk menyita waktu. Namun dari aspek yang lain, desain Dragon Ball Xenoverse terhitung “cacat”.

Masalahnya, grinding di Dragon Ball Xenoverse mulai muncul tidak sebagai kebebasan, sebuah rutinitas yang biasanya dilakukan gamer untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Di DB Xenoverse, Grinding adalah keharusan. Apa pasal? Karena percaya atau tidak, bagi kamu yang bahkan sekedar ingin menikmati jalan cerita yang ada, mau tidak mau didorong untuk menempuh proses yang satu ini. Game ini didesain dengan tingkat kesulitan yang tidak masuk akal setiap kali kamu bertemu dengan chapter cerita yang baru. Ia melonjak tinggi, membuat setiap musuh baru ini muncul dengan damage dan kekuatan yang hampir mustahil diatasi dengan kekuatan karakter kamu sekarang. Hasilnya? kamu “dipaksa” untuk menempuh side quest yang ada untuk mengumpulkan level dan equipment yang kira-kira dibutuhkan untuk memperkuat karakter kamu. Masih belum cukup kuat? Ulangi proses yang sama, hingga selesai. Melelahkan.

Parahnya lagi, semua elemen lain yang seharusnya dibangun untuk mendukung aksi grinding kamu justru berakhir membuatnya semakin menjengkelkan. Ada saatnya, kamu harus menempuh misi yang sama berulang kali hanya untuk sekedar mendapatkan experience points. Hal ini tidak akan bermasalah jika variasi misi sampingan yang ditawarkan memang beragam dan unik satu sama lain. Namun, tidak dengan DB Xenoverse. Sebagian misi ini sangat serupa, sehingga menghasilkan sensasi gameplay yang sangat repetitif. Biasanya berujung pada menghajar rangkaian karakter yang muncul berurutan hingga akhir. Memukul dan menghajar musuh yang karakteristiknya tidak berbeda selama 15 menit? Bahkan terkadang meminta kamu untuk melakukannya 20 musuh berturut-turut? Daripada sesuatu yang menyenangkan, grinding di DB Xenoverse terasa seperti segudang pekerjaan rumah yang guru kamu lemparkan di masa liburan. Terasa tidak tepat, terasa tidak memberikan kontribusi pada pengalaman yang seharusnya kamu dapatkan, atau bahkan bisa dikatakan – mencederainya.

Masih belum cukup? Selamat datang pada fakta bahwa tidak ada satupun AI yang bisa kamulkan di game ini. Beberapa side quest yang disebut “Parallel Quest” memang memungkinkan kamu untuk membawa dua karakter pendamping. Beberapa quest utama juga terkadang meminta kamu untuk melindungi satu karakter AI hingga ia tidak boleh tewas sampai cerita beralih ke tahap selanjutnya. Apakah AI ini mendukung kamu? Mereka adalah ekstra beban! AI-AI “pendukung” ini tidak pernah bisa memberikan kontribusi signifikan apapun dan lebih banyak menjadi korban. Pada akhirnya, kamu jugalah yang harus membunuh semua musuh yang ada sementara AI kamu melakukan aksi tidak jelas yang bahkan tidak cukup becus untuk menurunkan 25% total HP musuh. Sementara di sisi lain, musuh memperlakukan karakter pendukung AI kamu seperti sebuah sasak tinju.

Sudah terdengar menjengkelkan untuk kamu? Tunggu dulu, DB Xenoverse masih belum berhenti beraksi di situ. Dengan kuantitas musuh yang bisa mencapai 2-4 musuh sekaligus ketika berhadapan dengan kamu, kematian seharusnya jadi konsekuensi yang seringkali kamu hadapi. Berita buruknya, sistem checkpoint DB Xenoverse juga tidak kalah buruknya.

Dengan pertempuran dalam satu chapter yang biasa terbagi dalam beberapa sesi runtut, hampir mustahil untuk memastikan bar HP kamu tetap penuh hingga akhir, apalagi dengan kuantitas musuh yang kamu hadapi. Namun alih-alih memberikan checkpoint di setiap cut-scene, DB Xenoverse lebih memilih untuk memaksa kamu mengulang progress kembali dari awal jika tewas di tengah pertempuran, terlepas dari fakta bahwa kamu sudah mencapai sesi cerita tertentu dalam chapter. Hasilnya? kamu harus menempuh semua pertempuran yang kamu lakukan 10 menit yang lalu kembali. Jika kamu masih tewas di tempat yang sama? kamu harus melakukan hal yang sama lagi!! Satu-satunya cara untuk meminimalisir rasa frustrasi karena mekanisme ini adalah dengan mempersiapkan banyak item penyembuh sebelum bertarung, itu saja.

Tingkat kesulitan yang terasa mengada-ngada, pertempuran yang selalu berat sebelah baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, grinding yang menjadi keharusan, gameplay yang sangat repetitif, diperkuat dengan minimnya informasi yang ditawarkan dalam game, Dragon Ball Xenoverse bukanlah game yang bisa dinikmati, setidaknya dari kacamata crew domain. Yang ada justru lebih banyak kesal dan lelah, bahwa kamu dipaksa untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang. Lebih buruk dari Destiny? Setidaknya di Destiny, sesi cerita utama bisa diselesaikan walaupun kamu hanya berada di level yang terhitung rendah. Di DB Xenoverse? Jangan harap.

Multiplayer adalah Solusi?

Untuk mempermudah proses grinding yang ada, kamu memang bisa menjadikan mode multiplayer yang tampaknya diposisikan Bkamui Namco sebagai tulang punggung komunitas DB Xenoverse itu sendiri. Lewat sebuah portal sederhana di dalam Toki Toki City, kamu bisa mencari-mencari tim mana saja yang butuh bantuan untuk menyelesaikan Parallel Quest tertentu. Tentu saja, menyelesaikan Parallel Quest ditemani dengan ekstra 2 user manusia lain yang mampu beraksi lebih efektif daripada AI akan membantu kamu menyelesaikan pertempuran lebih cepat, apalagi jika salah satu dari mereka adalah veteran yang memang sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Tapi apakah multiplayer adalah solusi untuk grinding DB Xenoverse?

Sejauh ini, ia memang merupakan jawaban yang lebih rasional. Didukung dengan voice chat, apalagi jika kamu punya teman fisik yang juga memainkan game yang sama, setidaknya gameplay repetitif ini bisa ditoleransi lebih jauh. Namun untuk kamu yang memainkan game ini sendiri tanpa teman di dunia nyata, mode multiplayer Xenoverse, seperti halnya Destiny, bisa terasa hampa. Tidak ada kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain, selain bermain-main dengan segudang emoticon dan fixed reaction yang sudah ditentukan sebelumnya. kamu tidak bisa berbicara langsung, tidak ada sistem auction house untuk bertukar loot dengan efektif, dan sistem trading yang ditawarkan juga sangat terbatas. Semuanya hampa.

Bagaimana jika kamu termasuk gamer yang lebih senang dengan mode kompetitif? kamu bisa bertempur dalam format 1 vs 1 atau 3 vs 3 melawan user lain dari belahan dunia berbeda. Namun sejauh pengamatan yang ada, mode yang satu ini tampaknya hanya didesain untuk gamer yang memang sudah dibekali dengan equipment super kuat dan kombinasi serangan yang tidak kalah mematikan. kamu level rendah yang ingin sekedar bersenang-senang? kamu akan berhadapan dengan mimpi buruk.

Kesimpulan

Dragon Ball Xenoverse berakhir menjadi produk yang mengecewakan di mata crew domain. Peralihan menuju ke platform generasi terbaru membuka banyak harapan dan antisipasi, namun Bandai Namco dan Dimps seolah gagal untuk mengeksekusi hal-hal inti yang seharusnya menjadi fokus mereka. Setidaknya, kita masih mendapatkan kualitas cerita yang pantas diacungi jempol, setidaknya keberanian untuk memodifikasi sebuah plot yang sudah kita kenal sejak belasan tahun yang lalu. Kesempatan untuk menciptakan karakter kamu sendiri seperti halnya game RPG dan berfokus menjadikannya lebih kuat juga jadi pendekatan yang disambut dengan sangat baik. Namun di luar kedua hal ini, Dragon Ball Xenoverse adalah sebuah mimpi buruk.

Grinding yang jadi keharusan, kualitas visualisasi yang tidak fantastis, tidak ada sistem damage pada lingkungan, variasi misi yang repetitif, tingkat kesulitan yang mengada-ngada, sistem checkpoint yang menjengkelkan, hingga voice acts yang datar jadi catatan tersendiri. Seolah semua pengalamann yang crew domain dapatkan dari Destiny dan semua rasa frustrasi yang mengitarinya kembali lagi di Xenoverse, namun dalam porsi yang lebih buruk di beberapa titik. Fakta bahwa kamu tidak akan bisa menyelesaikan cerita utama tanpa melakukan proses grinding terlebih dahulu ada tamparan keras yang sangat disayangkan.

Lantas, apakah kamu harus memainkan Dragon Ball Xenoverse saat ini? Membayar harga penuh untuknya tidak crew domain rekomendasikan, kecuali kamu memang gamer yang tidak terlalu berkeberatan dengan gameplay repetitif dan proses grinding yang melelahkan. Namun bagi gamer yang tidak, atau setidaknya lebih mencintai sensasi game Dragon Ball lawas yang lebih lugas dan sinematik, DB Xenoverse jadi mimpi buruk yang harus kamu hindari.

Kelebihan

  • Kesempatan menciptakan karakter sendiri
  • Super Saiyan 4 Vegeta!
  • Modifikasi cerita yang cukup “gila”
  • Mekanisme pertempuran yang cukup menyenangkan

Kekurangan

  • Grinding, grinding, dan grinding
  • Tingkat kesulitan yang terasa mengada-ngada
  • Sistem checkpoint yang menjengkelkan
  • Game gagal menginformasikan soal elemen krusial dalam game, seperti Atribut, misalnya
  • Voice acts yang tidak hidup
  • Misi sangat repetitif
  • Multiplayer yang hampa