Review Dynasty Warriors 9 | Three Kingdom Is Back!!

dynasty warriors 9

Sebuah seri yang berhasil melahirkan sebuah sub-genre baru, eksistensi Dynasty Warriors memang punya posisi yang unik di industri game. Lewat konsep yang ia tawarkan sejak kelahiran seri teranyarnya di era Playstation 2, ia memperkenalkan “Musou” kepada dunia. Sebuah sub-genre action hack and slash yang tidak seperti Devil May Cry yang mengkombinasikan animasi serangan cantik dan pertarungan yang membutuhkan kemampuan memanfaatkan timing, Musou hadir dengan satu daya tarik utama – membuat kamu tampil seperti seorang pahlawan di pertempuran besar. Bahwa dengan kombinasi serangan sederhana dan senjata dengan damage yang besar, kamu bisa menghabisi ratusan hingga ribuan pasukan musuh dan merasakan kepuasan karena peran yang signifikan dalam perperangan epik. Sesuatu yang juga tetap dipertahankan di seri terbaru – Dynasty Warriors 9.

Sejak awal ia diperkenalkan, Koei Tecmo dan Omega Force memang terus membicarakan fitur open-world yang ia usung. Bahwa tidak lagi sekedar bertarung dari satu koridor ke koridor yang lain, sembari berusaha menghabisi musuh yang ada, kamu kini akan dihadapkan pada satu dunia besar yang bisa kamu jelajahi sejak awal dengan tantangan yang siap menunggu di beberapa titik yang ada. kamu yang sudah membaca artikel preview crew domain sebelumnya sepertinya sudah punya gambaran jelas soal apa yang hendak ia tawarkan. Namun sayangnya, alih-alih terpesona dengan ragam janji dan klaim yang sudah ia suntikkan dari awal, crew domain justru datang dengan kekecewaan baru. Bahwa semua hype yang sudah terbangun tersebut, berujung tidak lebih dari sebuah gimmick tak signifikan.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Dynasty Warriors 9 ini? Mengapa crew domain menyebutnya sebagai sebuah hype yang sia-sia? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Seperti seri-seri sebelumnya, Dynasty Warriors 9 tetap mempertahankan elemen cerita yang tetap berfokus pada legenda Tiga Kerajaan dari Tiongkok masa lampau, yang memang melibatkan beberapa faksi besar yang saling bersinggungan. Cerita soal tragedi, kisah kepahlawanan, politik, pengkhianatan, dan juga romansa ini kemudian diracik melalui desain ulang karakter yang terlihat punya cita rasa fantasi yang lebih kuat. Dari sisi cerita, kamu masih akan bergerak dalam benang merah yang sama, dari kelahiran persaudaraan antara Liu Bei – Zhang Fei – Guan Yu, kekalahan Cao Cao, hingga konflik yang terus menerus masuk ke dalam sosok garis darah keturunan mereka. Tidak ada yang berbeda di sini.

Pertanyaannya tentu saja satu, bagaimana cara mereka mengadaptasikan sisi cerita ini dalam format open-world? Sama seperti seri klasiknya, cerita akan bergerak sesuai dengan cerita yang kamu pilih sebagai karakter utama. Cerita akan dibagi ke dalam beberapa chapter terpisah, dengan hanya karakter spesifik saja yang memang berkesempatan untuk mendorong dan menembus chapter-chapter yang tersedia ini. Begitu kamu berhasil masuk ke dalam chapter tertentu, maka kamu akan membuka karakter dari faksi lain di chapter yang sama. Maka mengikuti legenda yang ada pula, beberapa karakter akan punya konklusi cerita yang tidak harus menyentuh chapter terakhir, dan mendapatkan ending mereka sendiri-sendiri.

Cerita disampaikan lewat dua media. Media pertama yang paling sering kamu temukan adalah cut-scene yang hanya memperlihatkan karakter yang berbicara satu sama lain saja, sembari mendeksripsikan apa yang tengah terjadi dan akan terjadi. Berita buruknya? Sistem penyederhanaan ini diimplementasikan untuk cukup banyak event bersejarah yang seharusnya tampil epik, seperti ketika Zhuge Liang menggunakan tipu muslihat-nya untuk mencari 100.000 anak panah untuk perang yang akan datang, misalnya. Scene yang seharusnya keren ini berakhir dengan cut-scene yang begitu sederhananya, hingga tidak ada event yang memberikan gambaran jelas apa yang terjadi.

Media kedua tentu saja lewat cut-scene dramatis dengan gaya kamera sinematik yang disuntikkan Koei Tecmo untuk kisah yang mungkin mereka anggap, lebih penting bagi cerita Dynasty Warriors 9 itu sendiri. Ia hadir dengan kualitas yang mungkin tidak sesinematik banyak game modern saat ini, namun setidaknya cukup untuk memenuhi fungsi stkamur-nya. kamu yang ingin menikmati kisah Tiga Kerajaan yang sesungguhnya, tentu saja tetap harus bertahan dengan elemen fantasi yang kental. Lagipula, kita berbicara soal kisah karakter legendaris yang mampu menghabisi ribuan musuh dengan tanpa kesulitan sama sekali.

Lantas, seperti apa kisah Tiga Kerajaan ini berlangsung? Seperti apa konfliknya yang akan terjadi di sini? Siapa pula faksi yang akan berakhir sebagai pemenang? Jawaban dari pertanyaan ini bisa kamu dapatkan dengan memainkan Dynasty Warriors 9 ini.

Ada Usaha, Tapi Tak Sempurna

Dynasty Warriors 9 adalah game Dynasty Warriors pertama dengan tema open-world yang ditangani oleh Koei Tecmo dan Omega Force, setelah eksistensi franchise ini selama puluhan tahun. Mengingat ia adalah sesuatu yang terhitung baru dan asing, maka tidak mengherankan jika menyebut seri kesembilan ini sebagai sebuah seri eksperimen. Satu yang pasti, Omega Force dengan jelas memperlihatkan status mereka sebagai peracik game open-world yang amatir. Seolah mereka tidak mendiskusikan atau menyerap ilmu dari developer kawakan lain yang lebih familiar dengan genre yang satu ini, untuk memahami kira-kira desain seperti apa yang perlu diimplementasikan untuk membuat dunia terbuka ini terasa menarik untuk dijelajahi, atau sekedar hal teknis seperti apa yang harus diperhatikan untuk menciptakan pengalaman bermain yang lebih nyaman. kamu bisa melihat ada usaha jelas di sini untuk menawarkan Dynasty Warriors yang berbeda, namun sayangnya, tidak sempurna.

Kerja keras itu terlihat dari banyak hal yang berusaha mereka capai, tetapi berakhir tidak semenarik yang dibayangkan. Seperti dunia yang ia tawarkan misalnya. Sebagai sebuah game “open-world”, luas daratan China yang bisa kamu jelajahi sejak awal memang terhitung sangat luas. Omega Force juga menyuntikkan beberapa kota klasik, outpost, hingga beberapa wilayah yang kaya mineral dan bahan crafting di sana-sini. Maka seperti kasus klasik desain seperti ini, Dynasty Warriors juga mengalami masalah kekosongan konten yang cukup mengecewakan. Bahwa sebagian besar area super luas ini berakhir tidak terhuni, dan berisikan sekedar lahan atau area yang harus kamu jelajahi untuk bergerak dari satu area ke area lainnya saja. Pepohonan, gurun, populasi binatang buruan yang jarang, minimnya reward dari menghajar musuh yang kamu temui di jalan (yang akan kita bahas nanti), semakin memperkuat kesan kosong tersebut. Daratan Tiongkok yang seharusnya punya banyak nilai historis dengan ekosistem yang kaya, berakhir menjadi sebuah dunia yang terasa didesain dengan setengah hati.

Kerja keras lain yang cukup terasa juga pada usaha untuk memaksimalkan performa platform generasi terkini untuk meracik skala pertempuran yang lebih besar. Setidaknya dari seri terakhir Dynasty Warriors yang sempat crew domain cicipi ( yang sayangnya, bukan Dynasty Warriors 8), penambahan jumlah unit memang terasa cukup signifikan. Bahwa kamu kini memang punya lebih banyak target untuk diserang di dalam satu layar yang sama, yang sayangnya, tetap tidak punya AI yang bisa dikamulkan. Namun sebagai kompensasinya, masalah teknis juga terjadi. Penurunan framerate cukup signifikan sudah dipastikan terjadi, lengkap dengan proses menghilangnya mayat yang terjadi lebih cepat, membuat ilusi realita yang harusnya jadi salah satu daya tarik, semakin hilang. Permasalahan teknis yang juga sering terjadi adalah texture popping, dimana proses render objek terkadang berjalan lambat daripada loading level itu sendiri. kamu akan sering menemukan beragam objek besar seperti tenda atau pepohonan tiba-tiba muncul ketika proses loading selesai dilakukan, atau sekedar tekstur definisi tinggi yang akan muncul di sekitar kamu secara tiba-tiba.

Dari sisi presentasi, Dynasty Warriors 9 memang tidak pantas mendapatkan pujian yang tinggi. Karena sejauh yang crew domain lihat, satu-satunya hal yang pantas untuk diacungi jempol dan sejalan dengan apa yang ditawarkan oleh Koei Tecmo selama ini, adalah detail dan desain karakter yang memesona, terutama karakter wanita yang ada. kamu masih akan berhadapan dengan karakter-karakter wanita yang memanjakan mata, dari Xianying hingga Zhang Chunhua yang masing-masing, akan memainkan peran penting dalam cerita yang ada. Sama seperti seri-seri Dynasty Warriors sebelumnya, animasi serangan kombinasi dan pemungkas yang sedikit lebih sinematik juga dipresentasikan dengan lebih indah di sini. Namun sayangnya, efek visual lain seperti pergantian cuaca hingga pergantian siang dan malam berakhir tidak punya peran signifikan yang pantas untuk dibicarakan.

Permasalahan teknis yang terjadi karena ambisi ternyata hanyalah sedikit dari masalah presentasi yang terjadi di Dynasty Warriors 9. Salah satu keluhan lain yang juga pantas dibicarakan adalah proses voice acting dan gaya presentasi cerita yang crew domain sempat bicarakan sebelumnya. Voice acting bahasa Inggris bisa dikatakan di bawah stkamur, dengan begitu banyak kondisi dimana actor terasa gagal untuk memotret emosi atau mengungkapkan informasi dengan intonasi yang tepat. Sebagian besar terasa seperti sekedar aksi membaca script yang terasa kurang tepat. Menggantinya langsung menjadi bahasa Jepang atau Mkamurin mengatasi masalah ini secara instan, walaupun harus diakui, bisa saja terasa cocok hanya karena kita tidak memahami intonasi yang seharusnya dari kedua bahasa tersebut. Memaksakan proses presentasi cerita yang seharusnya menarik menjadi sekedar cut-scene cerita yang memperlihatkan karakter sekedar berdiri dan berbicara juga sangat disayangkan. Dengan begitu banyaknya pihak dan karakter yang terlibat, tidak jarang jika cut-scene berakhir membingungkan dan tidak menarik. Jujur saja, crew domain berujung melakukan proses “skip” hampir 90% cerita hanya karena hal ini saja.

Dengan semua yang terjadi, terlepas dari klaim Koei Tecmo dan Omega Force bahwa Dynasty Warriors 9 akan berakhir jadi sesuatu yang revolusioner, ia justru menjadi game dengan sisi presentasi yang terhitung mengecewakan. Dari semua yang mereka tawarkan, kamu bisa melihat ada ambisi yang besar di sana untuk mewujudkan sebuah game open-world yang fantastis. Namun sayangnya, tidak didukung dengan pengetahuan dan kemampuan teknis yang pantas.

Menjadi Pahlawan

Dengan konsep open-world yang ia usung, tentu ada harapan bahwa ia akan menghadirkan perubahan yang cukup signifikan dari sisi gameplay. Bahwa seri kesembilan ini akan berujung menjadi nafas baru bagi Dynasty Warriors dan menjadi stkamur teranyar bagaimana seharusnya seri-seri selanjutnya dikerjakan dan dikembangkan. Dunia yang terbuka memang mengandung segudang potensi untuk dieksplorasi lebih jauh. Namun hasilnya sendiri tidak sesegar dan sebaru yang dibayangkan. Dynasty Warriors 9 tetaplah sebuah seri Dynasty Warriors yang selama ini kamu kenal. Sebuah game yang terasa serupa, walaupun memang harus diakui, tidak sama.

Di dalam core gameplay sendiri, Dynasty Warriors 9 tetaplah sebuah game musou. Ini adalah game sama yang memungkinkan kamu untuk membasmi ribuan musuh yang kali ini, tetap hadir dengan AI yang lebih banyak diam untuk menunggu kamu bunuh daripada mengangkat senjata dan melawan. Seperti seri-seri Dynasty Warriors sebelumnya pula, sebagian besar progress cerita biasanya didorong lewat misi yang meminta kamu untuk membunuh karakter yang lebih penting dari faksi apapun yang tengah menjadi lawan kamu. Berhasil? kamu akan mendapatkan cut-scene atau tambahan cerita, dan kemudian berakhir mengulang proses yang sama. Progress masing-masing karakter akan berbeda satu sama lain.

Maka konsep open-worldnya menghadirkan sesuatu yang berbeda. Alih-alih seperti di masa lalu dimana pertempuran bergerak dari satu koridor ke koridor yang lain, kamu kini diberikan sebuah dunia luas untuk dijelajahi dengan bebeas. Seperti game open-world pada umumnya, akan ada misi utama dan misi sampingan yang bisa diselesaikan di setiap chapter yang ada, yang masing-masing hadir dengan penjelasan soal level musuh yang akan dihadapi yang tentu saja, diasosiasikan dengan tingkat kesulitan. Setiap misi utama biasanya ditemani dengan misi sampingan yang akan menghadirkan dua fungsi: menyempurnakan cerita itu sendiri dan membuat misi utama lebih mudah. Membuatnya lebih mudah? Itulah salah satu motivasi untuk menyelesaikan misi sampingan itu sendiri.

Sebagian besar misi utama biasanya hadir dengan tingkat kesulitan dan level yang lebih tinggi daripada karakter kamu sendiri. Yang tentu saja, sebagai gantinya, akan meminta kamu untuk menginvestasikan lebih banyak waktu dan resiko untuk menyelesaikannya. Untuk setiap misi sampingan yang kamu selesaikan, akan berefek pada misi utama tersebut. kamu kemungkinan bisa menghadirkan lebih banyak karakter Officer untuk membantu kamu ketika bertarung di misi utama, atau yang lebih signifikan – menurunkan level karakter dan musuh di misi tersebut. Level lebih rendah berarti damage serangan dan jumlah HP yang lebih kecil, sehingga lebih menyederhanakan apa yang hendak kamu kejar.

Sensasi permainan akan berkisar pada hal ini. Bergerak menyelesaikan misi sampingan, menurunkan level misi utama, dan kemudian menyelesaikannya. Berita baiknya? Omega Force cukup mengerti untuk tidak membuat satupun dari fungsi ini “terkunci”. Ini berarti sebagian besar misi sampingan yang kamu kejar tidak berada dalam keharusan dan muncul sekedar sebagai opsi. Jika kamu merasa cukup berani, kamu langsung bisa melompat ke misi utama dan melanjutkan cerita. Namun jika kamu merasa jiwa heroik kamu tengah tinggi dan ingin membantu para NPC menyelesaikan apapun misi sampingan mereka, kamu bisa menikmati jumlahnya yang masif, apalagi mengingat kamu bisa memainkan puluhan karakter yang masing-masing akan menawarkan misi yang berbeda-beda pula.

Dengan konsep permainan yang memang akan berakhir dengan kamu memainkan begitu banyak karakter yang berbeda, Omega Force juga hadir dengan satu mekanik yang pantas untuk diacungi jempol. Sebuah keputusan yang membuat pengalaman bermain tidak berakhir menjadi sebuah proses grinding yang melelahkan. Ia membuat progress yang kamu capai dengan satu karakter juga akan dipindahkan ke karakter yang lain. Bahwa semua material, uang, aksesoris, hingga sekedar peta yang terbuka akan dibawa ketika kamu memutuskan untuk memainkan karakter yang baru misalnya. Dengan sistem seperti ini, kamu akan berkesempatan untuk langsung memperkuat karakter baru apapun yang kamu gunakan, tanpa harus mengulang proses grinding. Ini membuat pengalaman bermain Dynasty Warriors 9 di sisi cerita menjadi jauh lebih bisa dinikmati.

Dynasty Warriors 9 juga menghadirkan sesuatu yang sedikit berbeda dari sistem kombinasi serangan yang ia sertakan. Setiap karakter kini punya satu serangan kombo ekstra dengan menekan tombol R1 (di versi PS4) yang dibagi ke dalam empat kategori terpisah, yang masing-masing punya efek berbeda. Satu serangan bisa membuat musuh terlempar ke udara, satunya menghasilkan efek stun kecil, satunya akan membuat mereka terkapar di tanah, dan satunya lagi difokuskan pada serangan berbasis elemen tertentu. Setiap serangan ini juga bisa diperkuat dengan melakukan proses charge untuk membuatnya lebih kuat dan lebih mudah menembus pertahanan lawan. Berbeda dengan kombinasi serangan biasa yang efektif untuk membunuh banyak musuh secara instan, kombinasi serangan ini memang lebih efektif untuk menghajar para Officer / Boss di pihak yang berseberangan. Dengan menggunakan kombinasi charge, dan mungkin serangan pemungkas di akhir, ia akan membuat banyak Officer tidak mampu berkutik.

Dunia luas yang kosong memang jadi salah satu kelemahan Dynasty Warriors. Karena percaya atau tidak, sebagian besar misi utama dan sampingan terjadi di titik-titik wilayah yang sepertinya jelas memang punya peran signifikan. Ditambah dengan tidak adanya event acak yang menarik di tengah perjalanan, proses bergerak dari titik A ke titik B hanya untuk menyelesaikan satu misi tertentu akan berakhir terasa membosankan. Ditambah dengan AI si kuda tunggangan yang walaupun punya mode otomatis untuk bergerak sesuai dengan waypoint, namun lebih sering berakhir tolol karena tidak mampu beradaptasi dengan rintangan yang ada, ia bisa berujung mimpi buruk. Berita baiknya? Ada sistem fast travel yang membuat kamu bisa melewati semua bagian menjenuhkan tersebut dan langsung terjun ke bagia aksi terbaik. Berita buruknya? Ia juga masuk sebagai salah satu bukti masalah teknis yang terjadi. Entah proses apa yang terjadi di belakang layar, namun proses loading seringkali membuat kamu tidak bisa melakukan aksi Fast Travel secara instan. kamu terkadang harus bolak-balik mengakses menu, tanpa ada indikator jelas, untuk melihat apakah fitur ini tersedia atau tidak. Menjengkelkan, memang.

Bersama dengan kehadiran konsep open-world seperti ini pula, hadir beragam mekanisme “stkamur” yang mengikutinya. Salah satunya? Tentu saja kehadiran NPC yang di beberapa kasus, akan punya sesuatu untuk ditawarkan pada kamu, untuk membuat progress permainan berjalan lebih mulus. Yang punya peran signifikan tentu saja beragam toko yang ada. Ada Blacksmith yang siap untuk meracik senjata dan aksesoris berdasarkan material yang kamu dapatkan serta memungkinkan kamu untuk membelinya secara langsung, Stable untuk mendapatkan varian kuda yang lebih bisa dikamulkan, hingga Item Shop yang tentu saja menawarkan beragam item consumables seperti healing dan buff. Banyak hal yang biasanya kamu dapatkan lewat peti atau membunuh musuh di seri-seri Dynasty Warriors sebelumnya kini menjadi item tetap yang harus kamu persiapkan terlebih dahulu, sebelum berangkat beraksi.

Sisanya berakhir memperkuat diri. Setiap karakter kini bisa menggunakan senjata apapun yang kamu ingin sematkan pada mereka, namun tetap punya rekomendasi senjata spesifik yang akan memungkinkan mereka untuk tampil optimal. kamu bisa membelinya langsung dari Blacksmith dengan uang yang kamu kumpulkan atau melalui proses crafting selama resep yang disebut sebagai “Scrolls” di sini tersedia. Ada beberapa cara lain juga untuk mendapatkannya, terutama lewat eksistensi vendor dengan fungsi unik yang tersedia di sini. Ada vendor yang hadir dengan mata uang khusus yang bisa didapatkan dengan berburu ragam binatang di Dynasty Warriors 9 itu sendiri hingga yang menuntut mata koin terpisah yang didapatkan secara acak dari petualangan kamu. Kedua vendor ini akan menghadirkan konten item berbeda dengan vendor pada umumnya.

Dynasty Warriors 9 juga menyediakan sebuah fitur “rumah” yang bisa kamu beli dengan harga yang tidak terlalu mahal. Namun sayangnya, tidak banyak hal signifikan yang bisa kamu dapatkan darinya sekedar pengalihan dari rutinitas bermain yang mungkin berakhir repetitif. Lewatnya, kamu bisa menyuntikkan beragam perkakas yang kamu beli untuk mempercantiknya, atau sekedar memungkinkan karakter kamu untuk memilih dan mengenakan pakaian informal mereka yang walaupun tidak bisa digunakan saat bertarung, akan tetap tersimpan ketika cut-scene terjadi. Menggunakan pakaian tertentu akan menghasilkan moment yang lebih tidak realistis lagi.

Secara garis besar, setidaknya ketika crew domain berbicara soal Dynasty Warriors 9 lewat paragraf di atas, kamu mungkin akan berpikir bahwa ini adalah sebuah seri revolusioner. Sebuah seri yang mampu mempertahankan cita rasa serupa dan familiar, tetapi tetap menyuntikkan sesuatu yang baru dan berbeda. Namun sayangnya, kehadiran sistem open-world ini justru jadi bumerang terbesar Dynasty Warriors 9 itu sendiri.

Sia-Sia!

Mengapa? Karena konsep open-world Dynasty Warriors 9 itu sendiri berakhir jadi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diimplementasikan. Mendorongnya sebagai salah satu daya tarik dengan harapan untuk menciptakan sebuah seri yang revolusioner justru berujung jadi bumerang. crew domain tidak pernah menemukan sebuah video game yang terus mendengungkan konsep utama mereka, dan ketika dijajal, justru berakhir tidak berkontribusi sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi? crew domain akan menjelaskannya untuk kamu.

Pertama, karena jelas Koei Tecmo dan Omega Force terasa tidak punya pengalaman dan pengetahuan untuk meracik sebuah game open-world yang menarik dari sisi konten. Karena dunia besar yang ia tawarkan lebih banyak berakhir jadi ruang kosong, tidak seperti game-game open-world lainnya. Besarnya dunia ini tidak lebih sekedar menjadi ruang untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain, tanpa ada sesuatu yang menarik di antaranya. Tidak ada momen acak, tidak ada misi sampingan dengan variasi konten yang berbeda, tidak ada landmark unik yang siap untuk membuat kamu tertarik untuk bergerak ke sana hanya untuk sekedar melakukan proses investigasi, tidak ada motivasi untuk melakukan apapun di dunia yang juga tidak mengusung banyak perbedaan dari sisi ekosistem, dan tidak ada yang membuat gameplay kamu jadi berbeda secara signifkan. Jika ini berakhir jadi game Musou yang sama, namun dengan area yang luas, lantas untuk pada sistem open-world itu sendiri? Itu jadi pertanyaan.

Kedua? Mengingat tingkat kesulitan AI yang masih bodoh di tingkat kesulitan “Normal”, baik untuk pasukan musuh ataupun Officer yang ada, tidak ada alasan yang kuat mengapa kamu harus menyelesaikan semua misi sampingan yang memang didesain untuk menurunkan tingkat kesulitan dan level misi utama. Dengan menggunakan serangan kombinasi yang tepat dan beberapa item pemulih yang harganya terjangkau, kamu tidak akan kesulitan untuk menundukkan musuh yang levelnya lebih tinggi daripada kamu, bahkan 15-20 level di atas sekalipun. Yang kamu butuhkan hanya waktu lebih lama saja, yang tetap saja, akan berakhir lebih cepat daripada menyelesaikan beragam misi sampingan yang disediakan. Ini membuat eksistensi misi sampingan menjadi tidak relevan jika yang kamu kejar, memang hanya progress. Untuk apa merepotkan diri dan menyelesaikan semua misi sampingan ini jika ia berakhir membuang-buang waktu.

Ketiga? Motivasi yang ditawarkan untuk merepotkan diri sendiri juga terhitung sangat minim. Memang game ini menawarkan sistem crafting yang meminta kamu untuk mengumpulkan beragam material, namun ia berakhir tidak begitu penting. Kembali, karena tingkat kesulitannya sendiri tidak sebegitu merepotkan untuk membuat kamu peduli. Untuk apa kamu berkeliling mencari beragam tumbuhan, barang tambang, hingga berburu binatang, jika tidak ada satupun yang benar-benar langka untuk dikejar dan menuntut waktu kamu sendiri. Lagipula dengan progress yang dibagi dengan karakter-karakter yang kamu gunakan, pelan tapi pasti, semua material yang kamu butuhkan akan terkumpulkan dengan sekedar bergerak menyelesaikan misi utama dan sampingan yang ada. Tidak ada alasan untuk menjelajahi dunia yang kini “terbuka” tersebut.

Keempat? Reward yang juga terhitung minim. Dynasty Warriors 9 memang menyuntikkan ribuan pasukan musuh untuk kamu bunuh dan begitu banyak outpost lain yang juga memuat pasukan dengan jumlah yang sama. Namun mengikuti apa yang terjadi sebelumnya, reward yang ia tawarkan sama sekali tidak menarik untuk dikejar. Untuk apa kamu menghabiskan waktu menghabisi ribuan pasukan musuh ini jika ia tidak memberikan efek yang signifikan pada perkembangan karakter, cerita, ataupun bagaimana dunia Dynasty Warriors 9 itu bergerak. Hasilnya? Alih-alih bertarung dengan setiap musuh yang kamu temui, pelan tapi pasti, kamu akan mulai mengabaikan setiap dari mereka. Dengan AI “bodoh” yang bahkan tidak cukup untuk mengejar dan memukul kamu, progress cerita akan bergerak lebih cepat jika kamu langsung berlari untuk membunuh target utama dan menyelesaikanya. Maka sebagian besar kasus yang terjadi akan berakhir dengan kamu belari dan melewati semua pasukan musuh ini, langsung bergerak menuju ke target utama, dan langsung menghabisinya. Tidak ada alasan mengapa kamu harus bertarung melawan ribuan musuh ini.

Game yang satu ini juga memfasilitasi hal tersebut dengan sistem grappling hook yang ada. Bahwa dengan item yang tersedia untuk digunakan oleh semua karakter ini, kamu bisa bergerak secara vertikal dengan cukup bebas. Hasilnya? Semakin minim alasan untuk bertarung melawan ribuan pasukan yang tersebar di sebuah kastil yang memuat target utama yang ada, misalnya. Untuk apa kamu bertarung habis-habisan untuk membuka pintu kastil misalnya, jika kamu bisa menyusup dari belakang kastil dengan grappling hook ini, menghindari ancaman yang ada, dan menyerang target utama untuk langsung menyelesaikan misi yang ada. Menyerang dari depan dan langsung menggunakan grappling hook juga tidak banyak beresiko, mengingat AI yang terlalu bodoh untuk mengganggu usaha kamu.

Dengan sistem Musou yang masih menjadi solusi untuk semua masalah yang ada, dua fitur baru yang ditawarkan Dynasty Warriors 9 berakhir menjadi tidak berguna: stealth dan kemampuan memanah. kamu bisa menekan satu tombol untuk masuk ke mode stealth dan melakuka infiltrasi jika kamu inginkan, namun sejauh ini, crew domain merasa ia berakhir buang-buang waktu. Jika semua musuh bisa dihabiskan dengan kombinasi serangan yang tepat, tidak ada alasan untuk melakukan segala sesuatunya dengan sembunyi-sembunyi. kamu bisa langsung berlari dan berhadapan dengan mereka secara terbuka, untuk mencapai kemenangan yang lebih cepat. Hal yang sama juga terjadi dengan sistem panah yang kabarnya didesain untuk berburu dan mendukung gameplay stealth. kamu mungkin berpikir bahwa sistem ini akan efektif untuk membantu kamu membunuh beragam binatang liar yang ada. Namun apa yang terjadi? Mengingat AI hewan yang juga sama bodohnya dan seringkali berakhir diam menunggu untuk kamu habisi dengan senjata kamu, tidak ada alasan untuk menggunakan panah sama sekali. Lebih cepat untuk datang, tebas, dan menikmati mayat berjatuhan. Dua hal menjadi tidak relevan begitu saja.

Maka dengan semua hal yang berusaha mereka tawarkan dan suntikkan di dunia yang masif ini, hampir dibilang, tidak ada satupun yang bekerja dengan semestinya. Karena pada akhirnya, kamu berakhir akan memainkannya seperti Dynasty Warriors sebelumnya namun kini sekedar membutuhkan kamu untuk melakukan perjalanan ke titik target utama. Bahkan, format masa lampau yang memuat pertempuran dalam koridor membuat sensasi pertempuran berakhir lebih epik dan padat. Melihat lebih banyak pasukan dalam ruang terbatas yang terkadang mampu mengancam karakter Officer yang harus kamu selamatkan tentu lebih baik melihat ribuan pasukan hilir mudik di sebuah tanah lapang, namun tidak mampu menawarkan alasan valid untuk membuat kamu ingin menghajar mereka. Koei Tecmo dan Omega Force benar-benar harus memikirkan soal AI musuh terlebih dahulu sebelum memaksakan game open-world seperti ini.

OST yang Tetap Keren

Setidaknya dari semua elemen yang ia tawarkan dan berakhir menjadi sebuah kelemahan, masih ada satu bagian yang masih bisa terhitung konsisten sejak seri awal hingga seri teranyar ini. Benar sekali, kita bicara soal soundtrack yang menemani. Hadir dengan tema yang tepat dengan musik rock yang mendominasi, ia akan membuat aksi kamu melewati dunia luas yang kosong ini sembari bertarung melawan ribuan musuh menjadi sebuah aktivitas yang jauh lebih bisa ditoleransi.

Walaupun didominasi oleh rock sebagai musik utama yang akan mengalun ketika kamu terlibat dalam aksi menegangkan atau sekedar menikmati cut-scene yang ada, ia juga masih menawarkan beberapa track yang lebih lembut dan emosional. Musik-musik ini akan siap untuk membuat bulu kuduk kamu merinding ketika menikmati konten Dynasty Warriors 9 itu sendiri. Dari puluhan track yang bisa kamu dapatkan di Youtube dengan mudah, sulit rasanya untuk memilih satu di antara yang terbaik. Tetapi jika harus memilih, “Phoenix Run” sepertinya masih jadi favorit crew domain karena pompa adrenalin yang siap untuk ia suntikkan ke pembuluh darah kamu ketika menikmati game yang satu ini.

Setidaknya dari beragam usaha untuk menciptakan sesuatu yang baru dan revolusioner, Dynasty Warriors 9 masih berhasil mempertahankan satu konten yang secara konsisten berkualitas. Dan itu adalah sang original soundtrack.

Kesimpulan

Apakah Dynasty Warriors 9 adalah sebuah game musou yang benar-benar buruk hingga batas tidak bisa dimainkan seperti beragam opini publik yang tersebar di dunia maya ketika review ini ditulis? crew domain menyebutnya sebagai sebuah persepsi negatif yang berlebihan. Karena percaya atau tidak, crew domain berujung menikmati game yang satu ini lebih daripada apa yang crew domain harapkan. Seperti game Musou yang seharusnya, ia masih bisa membuat kamu merasakan sensasi sebagai seorang pahlawan, diikuti dengan soundtrack yang masih sama kerennya. Salah satu keluhan terbesar game ini memang terletak pada konsep open-world yang ia usung, yang sayangnya, berujung tidak berkontribusi signifikan pada sensasi gameplay yang kamu dapatkan. Koei Tecmo dan Omega Force memang harus menimba pengalaman terlebih dahulu bagaimana caranya meracik game open-world yang bukan sekedar luas saja, tetapi juga menarik untuk dinikmati.

Maka keluhan soal seri yang satu ini memang terhitung cukup masif. Kita berbicara soal masalah presentasi seperti desain dunia dan efek visual yang tidak seberapa indah, voice acts Inggris yang buruk juga menjadi hal menarik yang pantas untuk dibicarakan. Namun masalah terbesar Dynasty Warriors 9 adalah betapa tidak signifikannya konsep open-world yang selama ini didengungkan sebagai daya tarik. Masalah terbesarnya memang terletak pada sistem reward yang tidak sebanding untuk melakukan eksplorasi dan tentu saja, tingkat kesulitan yang tidak sebegitu memadainya hingga cukup untuk membuat kamu merasa paranoid dan menyelesaikan beragam misi sampingan yang ada. Hasilnya adalah sebuah tempat super luas yang tidak menyediakan alasan yang kuat bagi kamu untuk terlibat, menjelajahinya, dan menikmati beragam konten yang mungkin ia tawarkan.

Dengan semua yang ia tawarkan, Dynasty Warriors 9 bukanlah sebuah game yang buruk hingga pada batas ia tidak bisa dinikmati sama sekali. Bahkan crew domain yakin, kamu yang jatuh hati pada seri-seri sebelumnya masih bisa bersenang-senang hingga batas optimal. Permasalahan utamanya memang pada janji yang tidak sesuai dengan ekspektasi dan melahirkan lebih banyak kekecewaan, bahwa format baru yang ia usung ternyata tidak bisa disebut sebagai sesuatu yang revolusioner. Koei Tecmo dan Omega Force perlu lebih banyak belajar.

Kelebihan

  • Detail desain karakter yang masih memesona, terutama dari karakter wanita
  • Progress karakter berbeda dibawa ketika kamu menggunakan karakter lain
  • Sistem serangan kombinasi
  • Dunia yang benar-benar luas
  • Soundtrack yang masih keren
  • Zhang Chunhua

Kekurangan

  • Konsep open-world yang tidak terasa berkontribusi sama sekali
  • Voice acts Inggris buruk
  • Banyak momen yang menarik berakhir jadi cut-scene diam
  • Dunia terasa kosong
  • Tingkat kesulitan terhitung mudah di “Normal”
  • Sistem reward tidak cukup mendorong sisi eksplorasi
  • Cerita tidak menarik
  • Permasalahan teknis dari framerate tidak stabil hingga texture popping
  • AI musuh, kuda, dan binatang buruan yang masih terasa seperti lelucon
  • Fast Travel yang tidak bekerja secara langsung dan butuh waktu loading tersendiri