Final Fantasy XV | Noctis dan Ring Of Lucis Story

final fantasy xv

Pernahkah Anda berakhir menantikan hadirnya sebuah game selama 10 tahun? Namun bukan penantian dengan penuh harapan atau optimisme yang Anda temukan, tetapi sebuah proyek yang justru kian terlihat mustahil untuk bisa rampung dan dirilis sebagai sebuah produk komersial. Kita tak hanya berbicara soal beberapa kali rumor pembatalan yang sempat mengemuka ke permukaan, tetapi juga absennya informasi, perubahan karakter, ketidakjelasan sistem gameplay, ketidakyakinan pada platform, hingga pada batas kesangsian bahwa game bernama “Final Fantasy XIII Versus” ini memang masih tengah sibuk dikerjakan oleh Square Enix. Namun percaya atau tidak, 10 tahun setelahnya, sebuah game yang mengusung intisari dari game yang sempat menelan hype tersebut akhirnya tiba di tangan gamer. Sebuah game yang kini mengusung nama – Final Fantasy XV.

Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentu sudah mendapatkan gambaran yang cukup jelas soal apa itu Final Fantasy XV. Sesi open-world yang ditawarkan oleh Hajime Tabata memang hadir dengan kualitas yang pantas diacungi jempol, dengan keindahan visual, atmosfer, dan begitu banyak monster yang bisa Anda bunuh. Cerita juga hadir dengan impact emosional yang cukup untuk membuat air mata Anda menetes, namun sayangnya dicederai dengan kekurangan yang sulit diabaikan begitu saja. Penantian 10 tahun yang akan membuat Anda senang di satu sisi, namun juga kecewa di sisi yang lain.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Final Fantasy XV ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game dengan lubang yang sulit diabaikan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Berbeda dengan game-game pada umumnya dimana ia didesain untuk dimengerti dengan hanya memainkan gamenya itu sendiri, Square Enix mendesain Final Fantasy XV sebagai satu semesta yang lebih luas. Oleh karena itu, sebelum mencicipinya, Anda “diharuskan” untuk mencicipi seri film CGI – Kingsglaive: FFXV dan seri anime – Brotherhood untuk mendapatkan gambaran lebih jelas soal apa yang terjadi. Jika tidak, Anda akan dipaksa untuk mencicipinya dengan lebih banyak tanda tanya dengan tanpa jawaban yang jelas.

Kisah Final Fantasy XV sendiri berpusat pada sosok seorang pangeran dari kerajaan bernama Lucis – Noctis Lucis Caelum, di sebuah dunia bernama Eos. Oleh sang ayah, King Regis, Noctis diminta untuk pergi ke Altissia untuk menemui sang calon pengantin- Lunafreya. Namun satu hal yang tak diketahui Noctis, Regis melakukan hal tersebut untuk melindunginya dari bencana yang tak terhindarkan mengingat posisi Lucis yang kini tak lagi berkutik di bawah invasi dan tipu muslihat negara dengan kekuatan militer tinggi – Niflheim. Noctis pun berangkat bersama dengan tiga kawan seperjuangannya – Gladiolus, Prompto, dan Ignis tanpa kecurigaan sama sekali.

Namun di tengah perjalanan menuju Altissia, Noctis harus berhadapan dengan berita buruk. Ibukota Lucis – Insomnia dan kerajaan Lucis itu sendiri dikabarkan jatuh ke tangan Niflheim. Untuk alasan yang tak bisa ia mengerti, kristal yang seharusnya melindungi kerajaan tercintanya tersebut ternyata tak menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mendengar bahwa Regis dan Lunafreya tewas di invasi tersebut. Namun Noctis tak punya waktu untuk bersedih. Dengan tanggung jawab eksistensi Lucis yang kini berpindah di pundaknya, dibantu oleh sang mentor – Cor, ia kini harus berjuang untuk mencari senjata-senjata Lucii – yang merupakan warisan dari raja-raja Lucis dari masa lalu. Di tengah perjalanan, mereka juga bertemu dengan Ardyn Izunia yang tak mereka kenali sebagai penasehat penting dari Niflheim. Dengan tipu muslihatnya, Ardyn berhasil membawa Noctis dkk untuk mengumpulkan para Astral yang ia sebut akan membantu usaha Noctis untuk merebut kembali Lucis.

Petualangan untuk merebut kembali Lucis pun dimulai. Namun seperti yang bisa diprediksi, ini bukanlah perjalanan yang mudah. Karena tak hanya pasukan Niflheim yang harus ia lawan, Noctis juga menyadari bahwa ada hal aneh yang terjadi dengan Eos, dunia itu sendiri. Bahwa siang kini berlangsung lebih singkat, dan malam kini terjadi jauh lebih lama dan sering. Malam sama yang membawa ancaman baru berupa monster-monster lebih kuat yang disebut sebagai Daemons.

Lantas, tantangan seperti apa yang harus dihadapi oleh Noctis dkk? Mampukah ia berhasil merebut Lucis dari Niflheim? Karakter-karakter penting mana saja yang akan bersinggungan dengannya? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda temukan dengan memainkan Final Fantasy XV ini.

Lucis yang Indah

Jika ada satu hal yang berhasil dilakukan oleh Square Enix dengan Final Fantasy XV, adalah memastikan Anda bisa merasakan, menikmati, dan ikut menyetujui bahwa Lucis adalah sebuah dunia indah. Walaupun skalanya sendiri tak seluas game-game berbasis open-world pada umumnya, namun Anda akan mendapatkan sebuah dunia yang mampu menawarkan pemandangan dramatis dengan ragam efek yang ada. Jalan aspal yang memantulkan sedikit cahaya seusai hujan ketika bersinggungan dengan sinar matahari yang terbenam, atau ketika kabut menyerang petualangan pagi Anda, hingga landscape yang mengisyaratkan bahwa sebuah hal yang begitu masif pernah terjadi di dunia yang satu ini. Ada sensasi magis di sana.

Kota yang dibangun oleh Square Enix di atasnya juga pantas untuk diacungi jempol. Walaupun harus disayangkan bahwa jumlahnya sangat terbatas, namun Anda akan mendapatkan impresi yang kuat dari desain yang ia tawarkan. Lestallum terlihat seperti sebuah kota industri dengan budaya yang unik, mengingat kaum wanita lah yang menjadi tulang punggung ekonomi di sana. Sementara Altissia terasa seperti “Venice”, namun dengan desain kota yang jauh lebih megah. Transportasi air menjadi kunci dan menggantikan jalan darat, membuat perahu ala Venice menjadi satu-satunya cara untuk berpindah dari satu tempat penting ke tempat lainnya. Walaupun sedikit, namun kehadiran kota-kota dengan perbedaan budaya dan arsitektur ini cukup menguatkan kesan bahwa Eos memang sebuah dunia yang beragam.

Terlepas dari statusnya sebagai game yang menawarkan sedikit elemen open-world di dalamnya, sayangnya, Lucis bukanlah dunia yang bisa Anda eksplorasi dengan bebas. Regalia – sang mobil kerajaan Lucis untuk Noctis dkk terperangkap pada jalan raya yang tersedia, hingga ia tak bisa digunakan untuk menjelajahi selain itu. Untungnya, Anda punya Chocobo yang bisa digunakan untuk menjalankan tugas ini, sekaligus memungkinkan Anda untuk menjelajahi wilayah dengan kedalaman air tinggi mengingat Noctis dkk ternyata tak dibekali dengan kemampuan berenang. Sisanya? Adalah menikmatinya dengan berjalan kaki. Wilayah luas yang ia tawarkan tak terasa begitu kosong mengingat Anda selalu hampir bisa menemukan beragam binatang yang menjelajahinya, terlepas dari apakah Anda berniat untuk membunuh setiap dari mereka atau tidak. Sensasi sebuah ekosistem yang hidup cukup kuat, walaupun Anda tak akan bisa melihat binatang-binatang ini berinteraksi satu sama lain, seperti binatang yang lebih kuat memangsa yang lebih lemah, misalnya. Namun setidaknya Anda bisa terhibur dengan ukuran dan ketangguhan beberapa dari mereka yang terlihat seperti bisa membunuh Anda dengan hanya hembusan nafas mereka.

Kombinasi dunia, ragam dungeon, dan efek tata cahaya ini berakhir menjadikan Final Fantasy XV secara visual, pantas untuk diacungi jempol. Apalagi ketika Anda melihat monster-monster raksasa yang harus Anda bunuh ini mulai bermanuver dan “menghembuskan” napas di dunia yang luas ini, atau ketika Anda sekedar berhenti di atas tempat tinggi dan melihat sekeliling Duscae yang seperti menyimpan sebuah sejarah yang epik di sana. Ini adalah sebuah dunia yang menarik Anda untuk ingin mengetahui lebih jauh apa yang terjadi.

Action RPG yang Solid!

Jika kita harus menyebut satu kebijakan terbaik yang pernah dilakukan Tabata untuk Final Fantasy XV, maka merilis beragam demo untuk langsung dijajal gamer, dari Duscae, Duscae 2.0, Platinum, hingga Judgement pantas berada di puncak list. Mengapa? Karena tak sekedar untuk mengobarkan kembali hype yang sudah sempat mati, ia juga menjadi sumber feedback yang dibutuhkan Square Enix untuk meracik sistem pertarungan action RPG yang solid untuk FFXV itu sendiri. Dan sejauh ini? Setidaknya dari versi final, mereka memang melakukan tugas yang fantastis. Dibandingkan dengan perkenalan kita pada sistem pertarungan yang terhitung tak intuitif di Duscae, Final Fantasy XV versi final keluar sebagai sebuah game action RPG yang solid.

Dengan menahan satu tombol untuk menyerang dan tombol arah untuk menghasilkan kombinasi berbeda, pertempuran berjalan sangat mengalir. Sudut kamera yang cukup adaptif pada situasi pertarungan membuatnya berakhir lebih nyaman. Berbeda dengan sistem pertarungan di Duscae yang membuat pergantian senjata berjalan secara otomatis saat Anda menyerang, FFXV versi final ini memberikan kesempatan bagi Anda untuk berganti senjata secara manual via D-Pad. Konsep ini juga membubuhkan sedikit elemen strategi, mengingat beberapa varian musuh tak lagi sekedar memperlihatkan kekuatan dan kelemahan pada elemen serangan saja, tetapi juga jenis senjata yang Anda gunakan. Berbeda warna, damage mana yang masuk dalam kondisi Critical ataupun Resistance akan terlihat jelas.

Dan pada akhirnya, terlepas dari betapa mengalirnya sistem pertarungan yang ada, Final Fantasy XV bisa memastikan diri bahwa ia tak akan bisa diselesaikan dengan hanya menahan tombol serang dan berharap ia menyelesaikan semua masalah yang ada. Ada level strategi di sana. Management MP jadi salah satu mekanisme paling esensial, mengingat ia jadi sumber daya untuk melakukan Parry atau melakukan Warp Strike yang tak hanya memberikan damage lebih besar, tetapi juga mobilitas yang jauh lebih baik. Menyerang menggunakan Warp Strike, menyerang, menghindar, dan kemudian beralih ke target selanjutnnya akan jadi rutinitas yang Anda lakukan ketika bertarung di FFXV ini. Yang menarik? Jika Anda lupa mengaturnya dengan baik, termasuk memulihkannya dengan melakukan teleportasi ke Warp Point terdekat, Noctis akan jatuh ke dalam status “Statis” yang membuatnya tak bisa menyerang dengan menggunakan serangan MP saja, tetapi juga menghindar dan karenanya, lebih riskan terkena serangan dengan damage lebih besar.

Sayangnya, tak ada kesempatan untuk menggunakan karakter lain di dalam pertarungan. Anda hanya bisa menggunakan Noctis saja. Untungnya, AI yang didesain untuk Prompto, Ignis, dan Gladiolus sendiri terhitung cukup adaptif untuk pertempuran, dimana mereka tak hanya menyerang saja, tetapi juga cukup aktif untuk menghindari serangan yang ada. Tapi tetap, sulit untuk dipungkiri, bahwa desain seperti ini menghasilkan satu masalah tersendiri – bahwa Anda tak punya kontrol sama sekali terkait apa yang dilakukan oleh ketiga teman Anda. Tak jarang Anda akan berhadapan dengan situasi dimana Anda bertemu dengan serangan AOE musuh yang mematikan dan bergerak sejauh mungkin, namun ketiga teman Anda dengan “bodohnya” tetap menempel dan menyerang musuh yang tengah bersiap melakukan serangan pemungkas tersebut. Melihat situasi seperti ini dan tak punya kendali apapun memang menghasilkan rasa frustrasi tersendiri. Fakta bahwa Anda tetap bisa memulihkan diri mereka dengan item tak lantas menjustifikasi “cacat” desain seperti ini. Sedikit kontrol umum untuk mengatur gerak dan tingkah para AI ini akan sangat membantu.

Berita baiknya? Square Enix berhasil membuat peran teman perjalanan ini esensial dalam pertempuran, terutama ketika melawan monster-monster besar yang mengamuk. Sebagian besar musuh didesain untuk tak dapat ditaklukkan hanya dengan Noctis sendiri, bahkan jika Anda sudah mencapai level maksimum sekalipun. Ada beberapa jenis serangan bersama companion Anda yang lain, yang didesain untuk menghasilkan damage lebih besar, buff, atau efek status pada musuh tertentu. Dengan menggunakan satu bar yang akan terisi lewat beragam aksi yang Anda lakukan di pertarungan, Anda bisa memicunya. Beberapa kombinasi skill milik companion akan lebih efektif jika digunakan bersama dengan senjata spesifik milik Noctis. Sebagai contoh? Skill Overwhelm dari Ignis yang membuat Party menyerang membabi buta dalam periode waktu singkat akan membuat Bow of Clever, salah satu Royal Arms milik Noctis berakhir seperti halnya sebuah senjata mesin. Membuatnya efektif untuk menghabisi musuh-musuh yang memiliki damage super besar.

Dan tak lupa, Anda juga akan didukung dengan sistem magic di sini. Namun berbeda dengan seri-seri Final Fantasy sebelumnya dimana ia diposisikan seperti halnya sebuah “granat” yang Anda racik sendiri. Mengumpulkan resource es, listrik, ataupun api yang terletak di beberapa titik eksplorasi, Anda bisa “meracik” magic Anda sendiri. Semakin banyak yang Anda gunakan, semakin tinggi potency yang dihasilkan, semakin tinggi pula damage yang dihasilkan. Sisanya? Menambahkan item untuk mengubah sifat atau memperkuat magic itu sendiri. Dengan item yang tepat, Anda bisa meningkatkan Fire menjadi Fira, Firaga, hingga level keempat – Flare misalnya, yang tak lagi “terkurung” pada batasan damage 9.999. Dengan item ini pula, Anda bisa mengubah sifat magic menjadi lebih bervariasi, dari mampu menyembuhkan sang caster hingga melipatgandakan experience yang Anda dapatkan dari pertempuran.

Menjadikannya sebagai bagian dari equipment yang bisa habis dan butuh untuk dibuat ulang sesuai dengan kebutuhan Anda, pendekatan yang dilakukan Square Enix dengan sistem magic di Final Fantasy XV adalah sesuatu yang menyegarkan untuk franchise ini. Apalagi efek magic terkuat yang bisa Anda racik tak sekedar berasosiasi pada damage yang lebih besar saja, tetapi juga visualisasi serangan yang lebih epik dengan pengaruh langsung pada lingkungan yang cukup signifikan. Sebagai contoh, Anda bisa melempar magic Blizzaga di sebuah rawa penuh air ketika berhadapan dengan Malboro untuk membekukannya. Jadi tak sekedar damage, Malboro yang berdiri di atas genangan air tersebut juga akan ikut membeku dan terdiam untuk waktu yang cukup lama, sehingga Anda punya ruang untuk menyerang yang luas tanpa resiko. Menariknya lagi, sistem magic ini juga mengusung sistem friendly-fire, hingga ia juga berpotensi untuk melukai Anda sendiri atau companion Anda yang lain. Alasan sama yang membuat kami jarang sekali menggunakan magic Ice level 4 – Freeze yang tak hanya membekukan ruangan saja, tetapi juga menghasilkan damage es berkala untuk teman-teman Anda yang “terjebak” di dalamnya. Sekali lagi, di kondisi seperti ini, kami selalu mengharapkan satu fitur sederhana untuk memberikan perintah pada AI teman Anda untuk mencegah damage lebih lanjut.

Salah satu fitur esensial yang masuk ke dalam Final Fantasy XV adalah makanan. Fitur yang sudah seringkali diterapkan banyak game JRPG ini berujung menjadi sesuatu yang lebih esensial untuk game action RPG Square Enix yang satu ini. Anda bisa membeli dan memakannya langsung di restoran atau membangun camp di tempat peristirahatan terdekat dan membiarkan butler Anda – Ignis untuk memasak satu dari ragam resep yang ia pelajari. Berfungsi sebagai buff dalam jangka waktu tertentu, terlepas dari visualisasinya yang siap untuk membuat Anda menelan air ludah, Anda akan menemukan fitur ini menjadi semakin penting seiring dengan progress permainan Anda. Dengan ragam efek buff yang tak sekedar menambah jumlah HP atau persentase EXP yang Anda dapatkan, tetapi juga memperkuat kesempatan critical hingga menganulir semua damage elemental yang ada, Square Enix berhasil menjadikan fitur yang sering dilihat sebelah mata oleh banyak gamer JRPG ini menjadi sesuatu yang esensial.

Sebagai sebuah game action RPG yang butuh kecepatan dan ketepatan, sulit rasanya untuk tak memberikan pujian pada apa yang berhasil dilakukan Square Enix dengan FFXV ini. Walaupun ada sedikit masalah kamera di kondisi pertempuran tertentu, namun secara garis besar, ia berhasil menghadirkan mekanik gameplay yang tepat, nyaman, seru, dan menegangkan di saat yang sama. Hingga pada level untuk membuat kami sendiri tak berkeberatan jika pendekatan yang sama akan mereka lakukan dengan proyek Final Fantasy VII Remake yang tengah dicarik oleh Tetsuya Nomura.

Repetitif tapi Seru

Ini mungkin kalimat yang tak pernah Anda kira akan meluncur dari mulut kami, JagatPlay. Bahwa kami akan mengkombinasikan kata repetitif dan seru di dalam satu kalimat yang sama. Seperti yang sebagian besar dari kita bisa prediksi, alih-alih menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, Final Fantasy XV menawarkan konsep open-world yang terasa familiar. Sebuah formula tak baru yang sudah diimplementasikan oleh game RPG Barat selama ini. Bahwa tak sekedar mengikuti jalur cerita utama dan menyelesaikan petualangan Noctis ini secepat mungkin, Anda bisa menyelesaikan ragam misi sampingan yang bisa dibilang, monoton.

Anda akan berhadapan dengan desain misi yang tak inovatif. Ada misi dari Cid yang mengharuskan untuk mengumpulkan item tertentu untuk memperkuat senjata Anda, misi dari masing-masing companion Anda yang biasanya terpicu jika beristirahat di camp tertentu, misi Hunt yang meminta untuk berburu beberapa monster besar, hingga misi khas game open-world yang meminta Anda untuk mengambil item dari satu tempat spesifik. Tak ada formula baru yang revolusioner di Final Fantasy XV ini. Namun satu hal yang menarik, jika Anda melihatnya dari persepktif sebuah game JRPG dan tak membandingkannya dengan konsep sama yang sering ditawarkan oleh RPG Barat, maka Anda tak akan berkeberatan dengannya. Ini adalah langkah awal yang untungnya, berakhir memesona. Apalagi dengan fakta bahwa ia berakhir tak semembosankan yang dibayangkan.

Kami pribadi sendiri tak terlalu tertarik dengan misi meminta Anda untuk mengambil atau mencari benda tertenut dan mengembalikannya, namun misi Hunt yang meminta Anda untuk berburu varian musuh berakhir lebih menarik dari yang Anda bayangkan di otak. Mengapa? Terlepas dari sifat yang meminta untuk memusnahkan satu monster raksasa atau sekelompok monster pada umumnya, Hunt menjadi pintu gerbang bagi Anda untuk “menikmati” sensasi open-world Final Fantasy XV yang sesungguhnya. Ia akan berakhir meminta Anda mengeksplorasi wilayah yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki atau dengan Chocobo, atau masuk ke dalam dungeon yang tak terdaftar sebelumnya. Sisanya? Anda akan berhadapan dengan varian musuh yang mungkin tak akan pernah Anda tahu ditawarkan oleh Lucis jika Anda hanya mengikuti garis cerita utama begitu saja. Bertarung dengan sebuah banteng raksasa yang bisa membunuh Anda secara instan? Catoblepas yang jadi “bintang” di demo Duscae? Hingga burung raksasa dengan telur sebesar tubuh Anda? Semuanya ditawarkan oleh Hunt ini.

Salah satu misi “sampingan” yang cukup menarik dari Final Fantasy XV juga muncul dari misi untuk mencari beragam Royal Arms yang dari sisi cerita, disebut esensial untuk membantu Noctis merebut kembali Lucis. Menjadi pendekatan yang cukup menarik untuk membuatnya jadi sekedar misi sampingan, dan bukan misi utama yang harus diselesaikan oleh gamer itu sendiri. Ada belasan Royal Arms yang bisa dikumpulkan dengan hanya beberapa yang bisa Anda dapatkan dari cerita utama. Setiap Royal Arms hadir dalam beragam varian bentuk, dari kapak raksasa, shuriken besar, hingga panah mistis, yang masing-masing mereka punya efek, buff tertentu, dan biasanya membutuhkan pengorbanan porsi HP untuk digunakan menyerang. Namun keuntungan mengumpulkannya adalah untuk Armiger – yang berlaku tak berbeda dengan Limit Break untuk Noctis. Efektivitas Armiger akan dipengaruhi oleh berapa banyak Royal Arms yang Anda miliki, karena ia berkaitan dengan kecepatan serang dan damage yang ada.

Dan tentu saja, misi sampingan seperti ini akan membantu Anda mengumpulkan beragam resource yang dibutuhkan untuk memperkuat Noctis dkk. Mengikuti desain modern dimana musuh tak lagi akan menjatuhkan uang atas nama rasionalitas, cara terbaik untuk mengumpulkan uang adalah menjual material dari monster di toko terdekat atau mendapatkan uang sebagai reward dari misi yang ada. Banyaknya misi yang Anda selesaikan biasanya juga akan berpengaruh pada semakin luasnya daerah yang Anda eksplorasi, maka Anda akan berkesempatan untuk menemukan lebih banyak aksesoris atau senjata yang digunakan oleh party Anda. Yang lebih penting lagi? Semakin banyak material tumbuhan dan daging monster yang Anda bunuh, semakin luas pula kesempatan Anda untuk mendapatkan resep baru untuk Ignis, yang notabene akan mempermudah pekerjaan Anda.

Namun dari semua fungsi, di luar keseruan untuk membunuh ragam monster dan bagaimana ia begitu esensial untuk mendaptkan uang atau resep untuk Ignis, misi sampingan juga jadi terbaik untuk mengumpulkan salah satu resource terpenting di Final Fantasy XV – AP. Karena resource ini bisa dibilang lebih penting daripada sekedar level karakter, yang disini hanya memberikan kenaikan status tertentu saja. Menaikkan damage dari serangan kolaborasi? Membuat penggunaan MP Noctis menjadi lebih hemat? Atau bahkan membuat Anda bisa menembus serangan 9.999? Semuanya ditentukan oleh AP. Uniknya, resource ini terhitung sulit untuk didapatkan. Misi utama hanya akan memberikan Anda sebagian kecil dari yang Anda butuhkan, dengan sisanya harus didapatkan dari eksplorasi. Menyelesaikan misi sampingan, sekedar beraktivitas dengan memancing atau memasak, aksi Anda di dalam pertempuran, hingga monster yang Anda bunuh. Dengan begitu banyaknya cabang pohon skill yang bisa Anda manfaatkan dengan kebutuhan AP yang besar, bahkan proses untuk menyelesaikan satu misi sampingan saja akan memberikan reward yang pantas untuk dikejar.

Satu hal yang membuat misi sampingan Final Fantasy XV tak terasa membosankan terlepas dari desain yang malas dan terkesan repetitif, adalah fakta bahwa ia akan jadi pintu gerbang Anda untuk menikmati sensasi open-world yang selama ini ia janjikan. Lewatnya, Anda akan mau tak mau mengeksplorasi wilayah yang tak ada hubungannya dengan cerita utama dan membunuh musuh yang tak akan bisa Anda temui dari sana pula. Diperkuat dengan reward yang terasa pantas, tergantung dari seberapa niat Anda, ini akan berakhir jadi proses yang cukup Anda nikmati.

Kecewa dengan Summon

Jika Anda termasuk gamer yang cukup mengikuti artikel JagatPlay, maka Anda tentu tahu bahwa kami sempat memasukkan Final Fantasy XV sebagai salah satu game yang paling berpotensi mengecewakan di tahun 2016 ini. Alasannya? Kami menyebutnya di kala itu bahwa game ini akan mengundang begitu banyak antisipasi dan hype, dimana setiap gamer akan punya satu standar definitif yang akan menentukan apakah game ini akan memuaskan mereka atau tidak. Dan bagi kami pribadi, salah satu standar tersebut adalah summon yang mereka bawa ke seri ini. Setelah presentasi Ramuh yang fantastis di demo Duscae, mimpi melihat para Summon yang disebut sebagai Astral terlihat seperti Dewa yang pantas disembah, dihormati, dan ditakuti dan potensi implementasinya pada begitu banyak summon di franchise Final Fantasy memang menguat. Sayangnya, bagi kami, ia berakhir mengecewakan.

Hajime Tabata sendiri memang sudah mengkomunikasikan Summon ini secara terbuka. Dalam satu tahun terakhir ini, ia memperlihatkan wujud 4 buah Summon / Astral yang akan membantu aksi Noctis dkk – Ramuh, Titan, Leviathan, dan Shiva yang beberapa di antaranya bahkan memuat mode pertempuran tertentu untuk bisa direkrut dan juga berkaitan dengan cerita utama. Sebagai seorang gamer, apalagi melihat tren yang berkembang di industri belakangan ini, tentu menjadi sesuatu yang rasional untuk melihat pernyataan ini sebagai sesuatu yang tak sepenuhnya akan ditawarkan Square Enix. Bahwa Tabata pasti akan menyusupkan summon lebih banyak di XV yang tak ia umumkan kepada publik sebagai rahasia dan kejutan, sesuatu yang akan membuat kita semua terpesona, jatuh hati, dan kemudian terus membicarakannya. Mimpi yang ternyata berakhir terlalu besar.

Pada akhirnya, apa yang disampaikan oleh Tabata selama satu tahun terakhir ini berakhir jadi satu-satunya Summon yang bisa Anda gunakan di Final Fantasy XV. Benar sekali, Anda hanya akan bisa menggunakan Ramuh, Shiva, Titan, dan Leviathan selama pertempuran seperti detail yang meluncur via trailer dan screenshot selama ini. Berita baiknya? Setiap dari mereka didesain dengan begitu baiknya, hingga ia terlihat agung, mengancam, dan juga menyeramkan di saat yang sama. Bentuk yang akan membuat mata Anda termanjakan dan rasa familiar Anda pada franchise Final Fantasy seolah terbayarkan manis. Sayangnya, dua summon lain – Ifrit dan Bahamut yang punya porsi lebih penting dalam cerita, berakhir tak bisa Anda gunakan dalam pertempuran biasa. Mereka muncul dalam scripted event, dan tak bisa digunakan lagi.

Berhadapan dengan hanya 4 summon bukan bagian terburuk dari sistem ini. Yang lebih parah adalah inkonsistensi indikator untuk memicu kehadiran mereka dan summon mana yang akan muncul karena sifatnya yang acak. Tak seperti seri-seri Final Fantasy sebelumnya yang dipilih, sistem summon di XV muncul secara acak jika ada persyaratan yang terpenuhi, walaupun tak pernah dijelaskan secara detail kepada Anda di dalam game apa saja yang dibutuhkan. Sebagai contoh? Setidaknya dari informasi yang terdapat di internet, Titan disebut-sebut akan muncul jika salah satu teman Anda berada dalam status KO. Tapi percaya atau tidak, dari gameplay 100 jam kami, kami tak pernah memunculkan Titan sama sekali. Bahkan jika mengacu pada persyaratan yang tertera, selalu Shiva yang muncul membantu.

Fakta ini tentu saja semakin membuat kekecewaan akan jumlah summon yang begitu terbatas semakin kuat. Hanya empat Summon dan Anda juga tak bisa memilih summon mana yang akan datang membantu Anda, hingga pada batas Anda bahkan bisa berakhir tak melihat salah satu summon hingga mendapatkan trophy Platinum sekalipun? Ini tentu saja desain yang memancing lebih banyak tanda tanya. Parahnya lagi, Anda juga tak pernah punya kepastian sebagai pondasi apakah satu summon tertentu akan datang membantu Anda atau tidak di kala terjepit, membuat sistem ini tak bisa dimasukkan ke dalam perhitungan strategi pertempuran Anda dan tak lebih dari sekedar “hadiah” berbasis peruntungan. Untuk gamer Final Fantasy lawas, terutama yang sempat mencicipi seri VIII, anggap saja semua Summon di XV adalah Odin. Hadir tak diundang, pulang tak diantar, namun hadir dengan damage yang besar.

Lantas, desain seperti apa yang sebenarnya bisa diambil? Bagi kami, XV butuh memberikan kontrol lebih banyak pada gamer daripada menyerahkannya sekedar pada AI atau peruntungan belaka. Untuk masalah Summon ini, mereka bisa membuat damagenya lebih kecil dibandingkan saat ini, menjadikannya sebagai pilihan dalam menu pertempuran, namun hadir dengan konsekuensi tertentu.

Untuk membuatnya seimbang, ia bisa dikaitkan pada hidup / mati karakter companion yang ada dan ketersediannya dalam pertempuran. Sebagai contoh? Untuk memanggil Titan atau Shiva, Anda harus mengorbankan nyawa Gladiolus dan membuatnya tak bisa digunakan selama pertempuran berlangsung, dengan status “mati” yang tak bisa dipulihkan Phoenix Down dan hanya bisa kembali setelah pertempuran berlangsung. Tabata bisa mengaitkan satu Summon spesifik pada companion mana yang harus Anda korbankan, misalnya Ignis untuk Leviathan dan Ramuh untuk Prompto misalnya. Ini memberikan sebuah pilihan yang bisa digunakan untuk pertimbangan strategis tertentu, alih-alih berbasis keuntungan seperti saat ini. Ini juga mencegah kekesalan tak pernah memanggil satu Summon spesifik seperti yang kami rasakan.

Untuk saat ini, kondisi Summon yang berakhir terkait dengan garis cerita di XV, harus diakui – sangat mengecewakan. Hanya empat buah summon yang bisa dipanggil dengan Summon sekelas Ifrit dan Bahamut yang tak lagi memunculkan batang hidungnya di luar cerita utama adalah sebuah tamparan yang keras di wajah kami. Tak peduli soal berapa kerennya tampilan dan animasi serangan tiap animasi Summon ini, namun pilihan seperti ini sudah cukup untuk membuat harapan kami berakhir hampa. Summon di FFXV adalah sebuah kekecewaan besar.

End-Game: Daya Tarik yang “Sebenarnya”

Untungnya, kekecewaan dari sisi cerita yang akan kami bicarakan sebentar lagi dan Summon ini cukup terbayarkan dengan konten end-game yang pantas untuk diacungi jempol. Bahkan bisa dibilang, kami justru lebih banyak bersenang-senang di Final Fantasy XV berkat konten end-game yang baru terbuka setelah Anda menyelesaikan cerita utama yang ada. Di sinilah konten open-world yang ia tawarkan bersinar dan menggoda, dengan beberapa desain mengejutkan yang tak hanya menawarkan tantangan ekstra, tetapi juga keseruan yang lebih.

Di end-game, Anda akhirnya bisa mendapatkan Regalia F – yang kini memungkinkan mobil Anda untuk terbang ke angkasa. Walaupun harus berakhir kecewa karena tak banyak “tempat rahasia” yang bisa Anda eksplorasi setelah mendapatkannya, setidaknya ia jadi kunci esensial untuk salah satu dungeon terkeren yang pernah kami temukan di game JRPG manapun – Pitioss Ruins. Berbeda dengan dungeon end-game kebanyakan game yang berakhir hanya diisi monster level tinggi dan boss rahasia, Pitioss adalah sebuah dungeon platformer yang murni. Tak ada yang musuh di sini, hanya sebuah dungeon penuh teka-teki yang butuh sekuens tertentu untuk diselesaikan. Ia akan menantang kemampuan Anda untuk mengendalikan kekuatan Noctis untuk melompat, mendarat secara presisi di tempat yang sempit, dan mencari jalan di tempat anti-gravitasi. Desain cerdas ini memang sudah ditaklukkan oleh beberapa gamer hardcore dengan hitungan menit saja di Youtube, lewat jalan pintas yang ada. Namun jika Anda berusaha menyelesaikannya tanpa guide, kami tak akan heran jika Anda akan butuh waktu 3 – 5 jam untuk menundukkannya dengan reward yang pantas pula. Dungeon ini adalah sebuah kejutan yang manis.

Apakah ini berarti Final Fantasy XV tak menawarkan dungeon dengan desain klasik? Tentu saja, tidak. Setelah menyelesaikan game yang ada, Anda akan mendapatkan sebuah misi sampingan dengan tajuk “Menace Sleeps” yang meminta Noctis untuk melanjutkan janji sang ayah – Regis yang tak pernah terpenuhi sebelumnya, membersihkan monster di bawah Lucis. Dibagi ke dalam beberapa level tinggi, desain setiap dungeon ini memang tak terhitung istimewa, namun dengan reward yang cukup menggoda. Satu yang pasti, ia akan jadi motivasi terkuat untuk memaksimalkan karakter Anda ke titik yang terbaik. Salah satu dungeon “Menace Sleeps” ini mengharuskan Anda untuk menuruni 100 tingkat tangga yang masing-masing memuat monster level tinggi, sementara yang lainnya melemparkan kepada Anda beberapa monster level 99 dengan absennya kemampuan menggunakan item sama sekali, dengan pemulihan mengandalkan camp dan varian makanan Ignis.

Jika Anda termasuk gamer yang lebih senang dengan pertempuran epik melawan monster super kuat, Final Fantasy XV juga menyediakan beberapa superboss. Ada si Adamantoise yang sempat dirumorkan butuh waktu 72 jam di dunia nyata untuk ditundukkan, namun berakhir tak sesulit yang dibayangkan jika Anda sudah memperkuat diri dengan aksesoris, senjata, item, dan buff damage yang dibutuhkan. Tantangan lebih berat justru muncul dari dua Super Boss – monster level 110 dan 120 dari dua jalur quest sampingan berbeda yang butuh strategi untuk ditundukkan dan tak sekedar mengandalkan keberuntungan.

Dengan semua konten yang bisa memberikan Anda petualangan sekitar 20-30 jam ekstra dibandingkan dengan perjalanan utama Anda ini, Final Fantasy XV memang lebih terasa maksimal di end-game yang ada. Di sini, bahkan dari sekedar pasukan Niflheim yang mengejar Anda, skill Anda baru benar-benar teruji. Musuh level tinggi menuntut koordinasi lebih baik, memaksa Anda untuk mulai menjadikan makanan Ignis dan buff yang ia sediakan sebagai kunci kemenangan, mulai memikirkan management resource dan Magic yang perlu disediakan, hingga aksesoris terbaik untuk tiap karakter yang ada. Sensasi rasa puas yang sudah lama tak kami temukan di banyak game JRPG yang dirilis saat ini.

Cerita Penuh Lubang!

Apa yang Anda harapkan dari sebuah game yang sudah dikembangkan selama 10 tahun terakhir ini? Walaupun sempat mengalami kesulitan dengan rumor penundaan, pergantian tanggung jawab, hingga nama yang ia usung, ada harapan bahwa hal tersebut tak akan berakibat buruk pada cerita yang hendak diusung. Karena pada akhirnya, cerita adalah salah satu kekuatan game RPG, bukan JRPG saja. Tapi di sisi lain, sulit untuk membantah bahwa Final Fantasy selama ini memang sering bermasalah dengan aspek yang satu ini, seperti yang terjadi dengan Final Fantasy VIII, misalnya yang bahkan cukup untuk membuat Anda garuk kepala, bertanya, dan berakhir tetap tak mendapatkan jawaban hingga memainkannya beberapa kali. Namun setidaknya, di kasus Final Fantasy VIII, ia hadir lengkap dan koheren. Sesuatu yang tak ditawarkan oleh Final Fantasy XV ini.

Anda sendiri bisa melihat usaha keras Tabata yang sepertinya berusaha mendorong XV ke arah yang gelap dan emosional. Bahwa seperti seharusnya sebuah perperangan dan perjuangan untuk kebenaran, pengorbanan dan kematian adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Namun berita buruknya adalah ketidakmampuan Tabata untuk menciptakan sesuatu yang terasa lengkap dan koheren. Yang terjadi adalah sensasi seperti cerita yang ditulis oleh dua atau tiga orang yang berbeda yang kemudian dipaksa menyatu, entah bagaimana caranya.

Oleh karena itu, mari kita bicara soal cerita yang sulit untuk dibantah merupakan aspek terburuk Final Fantasy XV. Keluhan pertama adalah sebuah sinyal kuat bahwa beberapa porsi cerita memang dibuang agar mudah diracik menjadi DLC berbayar di masa depan ataupun konten Season Pass yang sudah diumumkan sebelumnya. Hasilnya? Anda yang tak membayar Season Pass tak akan mendapatkan pengalaman yang penuh. Seberapa signifikan? Benar-benar signifikan. Anda tiba-tiba bertemu dengan Gladiolus yang penuh luka tanpa pernah diceritakan apa yang terjadi, berhadapan dengan Ignis yang buta tanpa pernah dijelaskan soal apapun, hingga Prompto yang tertangkap oleh Niflheim dan terkurung tanpa detail cerita sama sekali. Yang Anda hadapi? Anda berhadapan dengan situasi dimana Noctis tiba-tiba bertemu dengan kondisi temannya yang buruk, tak memperlihatkan reaksi emosional yang seharusnya, dengan posisi Anda tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Hasil akhirnya adalah sebuah cerita tak koheren yang terasa seperti dirampok dari Anda yang sudah membayar game ini di harga penuh, semata-mata untuk menjual DLC. Sebuah kebijakan yang butuh dipertanyakan, tentu saja.

Jika Anda merasa itu sudah buruk, bahkan cerita yang sudah disediakan sebagai garis cerita utamanya sendiri juga mengundang lebih banyak tanda tanya daripada kejelasan. Salah satu yang terparah adalah posisi Niflheim – kerajaan yang sudah meluluhlantakkan Lucis. Setelah bertemu dengan begitu banyak jenderal dan penasihat, sekaligus Kaisar yang sudah menyerang Anda dari awal sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar, peran mereka tiba-tiba direduksi menjadi cerita sampingan tak penting untuk memperkenalkan Ardyn Izunia sebagai tokoh antagonis utama. Anda tak pernah berkesempatan untuk mengunjungi Niflheim, tak merasakan sendiri kekuatan dan betapa mengerikannya negara tersebut, dan tiba-tiba berhadapan pada fakta bahwa ia sudah hancur dan tak sekedar “kendaraan” yang dimanfaatkan oleh Ardyn Izunia, sebagai tokoh antagonis utama. Semua cerita terkait Niflheim yang mengisi setengah cerita, berakhir omong kosong tak penting yang tak juga dijelaskan dengan baik.

Level keburukan cerita tersebut naik satu level ketika membicarakan sosok Ardyn Izunia. Sejak awal ia memperkenalkan diri sebagai penasihat Niflheim yang secara menakjubkan, tak dikenali oleh Ignis – sang otak dalam grup yang seharusnya punya pengetahuan dasar soal kerajaan di sekitar Lucis, apalagi yang bersumber sebagai ancaman. Ardyn secara tiba-tiba naik jadi fokus cerita dan membuka diri sebagai leluhur abadi Noctis yang ingin menghancurkan dunia dengan pernyataan di depan muka Noctis yang berfokus pada kata “Izunia” – nama palsu yang ia kenakan. Dengan hanya mengandalkan mode cerita di dalam game saja, hampir mustahil untuk mendapatkan gambaran yang jelas siapa itu Ardyn, siapa itu Izunia, dan apa posisi Noctis dalam cerita sehingga ia harus mengorbankan dirinya dengan cincin Lucii – yang jadi pusaka turunan keluarga Lucis. Cerita soal pertempuran antara kerajaan tiba-tiba berubah jadi konflik keluarga, dan Anda tak mendapatkan penjelasan definitif soal apa yang terjadi. Sementara peran Ifrit di sini? Akan terlewatkan jika Anda tak membaca buku Cosmology yang terbesar di dalam game, alih-alih melemparkannya dalam bentuk sekuens untuk sebuah bagian sepenting ini.

Ini hanyalah sedikit dari begitu banyak kelemahan cerita di Final Fantasy XV yang penuh lubang dan berakhir, sangat mengecewakan. Salah satu contoh lain adalah Ravus, kakak Luna. Di versi film CGI – Kingsglaive, ia terlihat seperti seorang pangeran haus kekuatan yang bekerjasama dengan Niflheim untuk menghancurkan Lucis. Ia bengis, dan Luna membencinya. Di XV, ia tiba-tiba berubah menjadi seorang pangeran yang ternyata berkorban demi satu agenda yang baik, dan ia terus berkomunikasi dengan Luna, walaupun pada akhirnya – kembali dikendalikan oleh Ardyn. Ada alasan jelas mengapa Square Enix berjanji hendak memperbaiki cara Ravus diceritakan, mengingat untuk saat ini, posisinya tak terasa masuk akal sama sekali.

Kita bisa berbicara lebih banyak soal lubang cerita ini, dari Aranea Highwind yang tanpa alasan jelas menjadi baik hingga Tenebrae yang berakhir jadi sebuah kota di ujung pemandangan yang tak bisa Anda jelajahi sama sekali. Namun satu hal yang paling menyedihkan adalah fakta bahwa ia bahkan tak terasa sinkron dengan Kingsglaive: Final Fantasy XV – yang diposisikan Square Enix sebagai cerita prekuel / paralel dari Final Fantasy XV itu sendiri. Semua harapan yang sempat kami bangun bahwa Kingsglaive akan memberikan gambaran dari apa yang kita dapatkan dari Final Fantasy XV berakhir mimpi kosong tanpa pemenuhan sama sekali.

Kingsglaive justru menjadi sumber kekecewaan baru bagi Final Fantasy XV. Di Kingsglaive, Anda bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana Niflheim berakhir jadi sebuah kerajaan yang ditakuti, terutama lewat pasukan Daemon yang mampu ia kendalikan. Di sana, Anda bertemu dengan monster raksasa sekelas Diamond Weapon yang bahkan mampu menghancurkan pasukan Lucis secara instan dan menghancurkan Insomnia ketika bertarung, monster sejenis serangga yang bergerak seperti pasukan biasa, hingga Ultros. Sementara di versi game, Daemon berakhir tak sekedar Iron Giant, Bomb, atau Flan yang muncul di malam hari. Sebuah perbandingan yang tentu mengecewakan. Fakta bahwa Anda tak bertemu dengan sisa Kingsglaive yang bertahan hidup untuk satu kesinambungan cerita atau bagaimana sifat Ring of Lucii yang digunakan Nyx dan Noctis memicu event dan kekuatan berbeda juga pantas dipertanyakan. Kingsglaive memang memberikan sedikit latar belakang soal apa yang terjadi dengan Insomnia, namun pada akhirnya, ia mulai terasa seperti dua semesta berbeda yang berjalan beriringan.

Dengan semua kelemahan ini, usaha Tabata untuk menciptakan sebuah cerita yang emosional tereduksi dan terlihat seperti usaha “murah” untuk membuat air mata Anda mengalir. Efektif memang dan sempat membuat kami sedih dan sedikit menitikkan air mata. Namun setelah Anda mulai menimbang dan berpikir, membunuh Luna begitu saja tanpa alasan yang kuat adalah cara murah dan sederhana untuk membuat Anda sedih. Siapa yang tak sedih melihat salah satu karakter tewas begitu saja terlepas dari lemahnya latar belakang yang ada? Sifatnya sendiri terasa berbeda ketika air mata yang sama menetes saat merasakan kesedihan Yuna saat Tidus pergi, atau saat Vivi dari Final Fantasy IX menemukan siapa jati dirinya yang sebenarnya. Karena di Final Fantasy X, yang membuat Anda menangis bukanlah kepergian Tidus, tetapi empati pada perasaan yang sudah tumbuh di hati Yuna. Sementara di FFXV, bukan empati pada perasaan Noctis yang membuat Anda sedih, tetapi karena kematian Luna yang sekedar terlihat polos di sana.

Tentu menjadi sesuatu yang pantas disambut baik jika memang Square Enix berambisi untuk memperbaiki bagaimana cara ia mempresentasikan cerita Final Fantasy XV atau bahkan memperbaiki beberapa detail kecil untuk membuatnya menjadi sebuah benang merah yang lebih koheren. Namun di sisi lain, fakta bahwa update seperti ini dibutuhkan juga secara otomatis menjadi testimoni dan bukti bahwa memang mereka sendiri mengakui bahwa apa yang ditawarkan di Final Fantasy XV saat ini, memang masih dirudung masalah.

Mari Bicara Rumor..

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan proses pengembangan Final Fantasy XV? Mengapa kekacauaan penceritaan seperti yang terjadi saat ini bisa lolos di versi final? Mengharapkan jawaban langsung dari mulut Square Enix dan Hajime Tabata sepertinya kecil kemungkinan akan terjadi. Satu-satunya penjelasan yang bisa dipegang oleh gamer saat ini hanyalah rumor yang muncul dari situs komunitas seperti 4chan dan NeoGaf. Informasi seperti ini memang sulit untuk terkonfirmasi sebagai sesuatu yang bocor dari internal developer itu sendiri, namun seringkali berakhir menjadi kenyataan. Anonimitas menjadi senjata yang memungkinkan hal ini terjadi tanpa tuntutan hukum sama sekali.

Karena bagi kita yang mengikuti perkembangan Final Fantasy XV lewat sekedar trailer dan screenshot, kita bisa melihat jelas bahwa ada banyak perubahan signifikan yang dilakukan Tabata selama tiga tahun terakhir ini. Ketika ia diperkenalkan sebagai Final Fantasy XV, Anda masih bisa melihat Stella dan kemudian tiba-tiba karakter ini digantikan oleh Luna yang punya peran berbeda. Lalu dalam dua tahun terakhir, Anda bisa memerhatikan perubahan signifikan pada desain Regis – sang raja yang kian terlihat menua. Adegan yang lebih personal seperti adegan Noctis kecil yang tengah makan bersama tak lagi dieksplorasi dan hilang. Bahkan, dalam satu tahun terakhir ini, dari trailer yang sudah memperlihatkan bentuk final Final Fantasy XV, Anda bisa menemukan scene yang hilang. Apa yang sebenarnya terjadi?

Rumor menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan, apalagi dengan kredibilitas yang sempat terbukti. Tak percaya? Plot jelas Final Fantasy XV sebenarnya sudah tersedia di dunia maya, lewat Q&A di 4Chan, 6 bulan sebelum rilis. Di kala itu, melihat betapa absurdnya plot ini berjalan, ia terdengar seperti sebuah lelucon besar yang pantas untuk ditertawakan. Tak main-main, bocoran plot ini membuka hampir semua plot-twist, plot dasar bagaimana cerita bergerak, hingga bentuk DLC seperti apa yang tengah dipersiapkan oleh Square Enix. Perlu diingat, ini terjadi 6 bulan sebelum Final Fantasy XV dirilis! Dan ketika FFXV akhirnya dirilis, semua kalimat dan jawaban di Q&A tersebut berakhir benar. Untungnya, ia membuka sedikit perspektif soal apa yang terjadi selama proses pengembangan XV itu sendiri.

Satu yang menarik adalah sumber informasi yang sama menyebut bahwa ketika ia ditangani oleh Tetsuya Nomura, Final Fantasy XV sebenarnya dipersiapkan sebagai sebuah game trilogi. Namun pelan-pelan, Square Enix yang tak lagi “tahan” lebih memilih Nomura untuk mengembangkan FF VII Remake dan Kingdom Hearts 3, sementara XV dilemparkan kepada Tabata. Permintaan utama mereka? Membuat cerita yang didesain sebagai trilogi tersebut sebagai satu seri lepas yang langsung selesai. Cerita sepanjang itu mulai harus dipotong dan diperpendek sebaik mungkin oleh Tabata, dan disinyalir menjadi alasan mengapa ia berakhir tak koheren.

Informasi baru juga muncul dari 4Chan setelah Final Fantasy XV dirilis. Walaupun tak bisa dikonfirmasi apakah ia muncul dari orang sama yang membocorkan plot-nya 6 bulan sebelumnya atau tidak, ia memberikan penjelasan yang lebih baik dan rasional soal apa yang terjadi dengan cerita Final Fantasy XV itu sendiri. Satu kata yang bisa diambil dari rumor terbaru ini? Bahwa Final Fantasy XV sebenarnya adalah sebuah proyek game yang belum rampung! Square Enix disebut-sebut punya kewajiban kontrak untuk merilis game ini sebelum tahun 2016 ini berakhir, sementara di sisi lain, tim Tabata sendiri belum menyelesaikan banyak hal. Sebagai kompensasinya? Mereka terpaksa membuang banyak hal keren yang sempat masuk dalam tahap konsep untuk membuat game ini rampung. Berita buruknya? Ini juga membuat banyak area kecil yang seharusnya bisa disinggahi gamer berakhir tak bisa dimainkan di versi final dan ditinggalkan begitu saja, termasuk level es yang seharusnya memuat Shiva di dalamnya. Sumber informasi ini sendiri mengklaim bahwa ia adalah karyawan Square Enix yang tak mendapatkan perpanjangan kontrak setelah XV dirilis ke pasaran, dan menyebut bahwa tim Tabata sendiri “bangga” dengan apa yang bisa mereka capai dalam waktu yang begitu singkat.

Menurut sumber rumor ini, sebagian cerita Final Fantasy XV ditulis ulang di tahun 2015 kemarin, sehingga inkonsistensi menjadi sebuah konsekuensi yang rasional. Di awal, cerita yang sebenarnya ia sebut berfokus banyak pada kematian seperti yang kita lihat di trailer Omen. Bahwa kematian, hantu, dan halusinasi memainkan peran lebih penting. Noctis diceritakan membunuh Luna sejak awal permainan namun ia tak bisa mengingatnya sama sekali. Sementara di sisi lain, kristal yang tersebar di Eos (tak hanya di Lucis saja) pelan tapi pasti mulai hilang dan dihancurkan oleh seseorang, yang merupakan Ardyn. Setelah kematian Regis karena salah satu bodyguard yang mengkhianatinya, Noctis dkk pun harus kabur dari Lucis karena mereka sudah kalah perang. Ini menjadi alasan yang lebih rasional mengapa Ravus begitu benci dengan Lucis dan Noctis itu sendiri.

Beberapa informasi lain juga berpusat pada karakterisasi Luna yang berbeda, kehadiran Garland dari Final Fantasy pertama sebagai salah satu “dewa” yang disembah oleh Noctis, Dark World yang bisa dieksplorasi, dan bagaimana ceritanya sendiri tak banyak berfokus pada Summon / Astral seperti saat ini. Hal yang menarik lainnya adalah informasi soal betapa merepotkannya Luminous Engine yang digunakan Square Enix untuk proyek ini, yang berakhir dengan sulitnya proses adaptasi ke konsol. Square Enix kabarnya tak lagi tertarik untuk mengembangkan engine ini lebih jauh dan lebih memilih untuk menggunakan engine lain yang lebih bisa diandalkan untuk proyek mereka selanjutnya, yang sudah terbukti lewat implementasi Unreal Engine 4 untuk Kingdom Hearts 3 dan Final Fantasy VII Remake.

Ia juga membuka beberapa detail soal area dan monster yang berakhir tak digunakan di versi final: dari bagian kecil kota Altissia yang memungkinkan Anda untuk berkendara di sana dengan Regalia, level berbeda yang mengarah pada pertemuan pertama Anda dengan Shiva, area yang lebih banyak dan luas untuk Dark World, Ardyn yang punya bentuk final yang terlihat seperti monster di pertarungan terakhir, fakta bahwa Anda bisa mengunjungi Tenebrae dalam porsi kecil, Cor yang perannya tiba-tiba dipotong di setengah akhir cerita game karena dianggap tak masuk akal, hingga beberapa scene dengan Luna yang ditakuti Square Enix akan memicu kontroversi.

Walaupun tak bisa dipastikan bahwa sumber informasi ini muncul dari orang dalam yang memang kredibel atau tidak, atau ia berakhir sekedar omong kosong yang dilempar oleh orang iseng di dunia maya, namun apa yang dilemparkan di 4Chan ini membuat cerita di Final Fantasy XV terasa jauh lebih masuk akal di beragam perspektif yang ada. Mengapa Tabata mengganti ceritanya begitu signifikan dalam satu tahun terakhir ini? Mengapa banyak hal yang sempat muncul dalam trailer berakhir absen di versi final? Ada harapan besar bahwa kita akan menemukan jawaban pastinya di masa depan, baik lewat mulut Square Enix ataupun informasi bocor dengan sumber yang bisa terverifikasi. Mendapatkan perspektif lebih jelas sepertinya adalah “hak” yang seharusnya kita dapatkan setelah menunggu selama 10 tahun terakhir ini.

Foto Prompto yang Menakjubkan

Terlepas dari konsep sebuah game open-world yang bisa Anda temukan di banyak proyek RPG serupa yang lain, terutama dari desain misi yang ada, bukan berarti Final Fantasy XV tak menawarkan sesuatu yang terhitung “revolusioner” di sistem yang ia tawarkan. Bukan dari sistem pertarungan, cara cerita, atau musik, melainkan dari sebuah fitur gimmick tak signifikan yang lambat laun, akan mulai Anda nikmati dan hormati pelan-pelan. Benar sekali, kita berbicara soal kemampuan fotografi Prompto. Dikenal sebagai yang paling aktif dari companion Noctis yang lain, kemampuan Prompto untuk merekam beragam scene dalam kameranya berakhir jadi fitur yang ingin kami lihat di lebih banyak game di masa depan. Terutama karena fakta, bahwa ia mengandalkan AI sepenuhnya untuk mencapai hal tersebut.

Benar sekali, bukan manual dan sekedar scripted event saja, Prompto akan mengaplikasikan kemampuan fotografinya secara acak dan rutin di sepanjang perjalanan Anda mengitari Lucis. Tak ada indikator pasti dan resmi apa yang akan ia tangkap, apa yang tak ia tangkap, dan efek apa yang akan ia aplikasikan di atasnya. Anda seringkali berakhir menemukan kejutan ketika mendapati hasil foto-foto tersebut ketika tengah beristirahat, karena beberapa di antaranya harus diakui, menakjubkan. Ada hasil foto kocak dengan sudut yang tak jelas, namun tak jarang ia berakhir menangkap sensasi bahwa Anda memang tengah menikmati petualangan Anda bersama dengan companion yang begitu dekat. Bahkan, tak jarang, ia menghasilkan sebuah tangkapan gambar yang dramatis.

Entah teknologi AI seperti apa yang diracik Square Enix di atas kemampuan Prompto ini, terutama yang berhasil menghasilkan foto-foto fenomenal secara acak. Satu yang pasti, ia jadi sebuah pencapaian teknologi tersendiri yang menarik untuk disimak lebih jauh untuk beragam ekstra proyek lainnya, baik dari tangan dingin Square Enix ataupun bukan di masa depan. Walaupun harus diakui, ada momen dimana kami berharap bisa mengendalikannya secara manual, untuk menangkap keindahan Lucis ketika senja, misalnya, yang sering berakhir tak digubris oleh Prompto sama sekali.

Kesimpulan

Kita tentu berakhir dengan satu pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban pasti: apakah penantian 10 tahun untuk Final Fantasy XV berakhir terbayarkan manis? Kami sayangnya harus menjawab, Tidak. Dari sisi gameplay dan mekanik yang ada, ia adalah sebuah game Final Fantasy yang fantastis. Square Enix secara tegas membuktikan bahwa mereka tak takut untuk mengambil resiko dan membawa konsep action RPG yang pantas diacungi jempol. Cepat, responsif, dengan flow pertarungan yang begitu mengalir, keseruan melawan monster raksasa, mengatasi ragam misi sampingan yang ada, hingga melihat animasi para Summon yang muncul layaknya Dewa dengan presentasi yang mengancam membuat para gamer lawas Final Fantasy maupun gamer baru yang baru hendak mengenal franchise ini akan mudah jatuh hati. Apalagi musik yang dikerjakan oleh Yoko Shimomura berakhir begitu fantastis.

Sepertinya tak berlebihan untuk menyebut bahwa cerita Final Fantasy XV boleh dibilang sebagai salah satu yang paling berantakan di sepanjang sejarah 30 tahun eksistensi franchise ini. Dan karenanya, mencederai pengalaman JRPG yang sebenarnya bisa berakhir menjadi salah satu yang terbaik dan sempurna. Lubang yang dibiarkan oleh Square Enix di dalam plot yang ada, dibiarkan menganga terlalu besar untuk diabaikan begitu saja. Ada kesan bahwa ia memang dipotong untuk ekstra DLC, ada kesan bahwa ia terasa dipercepat tanpa pondasi yang solid, ada kesan bahwa ia ditulis oleh 2-3 orang sekaligus dan kemudian dipadatkan tanpa pemerikasaan kembali apakah ia koheren atau tidak, bahkan jika dibandingkan dengan Kingsglaive sekalipun. Dibandingkan dengan minimnya opsi untuk mengendalikan sifat AI untuk companion atau summon yang sedikit, cerita adalah kelemahan terbesar Final Fantasy XV. Sebuah pendekatan yang mengecewakan. Parahnya lagi? Klaim Tabata bahwa cerita akan berlangsung selama 10 tahun berakhir sebuah time skip malas yang juga terasa tak signifikan.

Walaupun demikian, bukan berarti Final Fantasy XV tak menarik untuk dinikmati. Dengan komitmen Square Enix untuk mulai membenahi cerita via update di masa depan dan eksekusi konsep gameplay modern yang terasa cocok untuk sebuah franchise yang begitu lawas, XV adalah sebuah game action RPG yang solid. Ia tak revolusioner, ia tak istimewa, namun ia membuka harapan yang lebih positif untuk proyek Square Enix selanjutnya.

Kelebihan

  • Desain Lucis yang indah
  • Sistem pertarungan yang mengalir
  • Beragam aktivitas yang bisa dilakukan
  • Desain monster
  • Gentiana
  • End-game content yang menggoda
  • Desain Summon dan animasi serangan
  • Musik yang masih Final Fantasy “banget”
  • Makanan terasa esensial
  • Fitur foto Prompto

Kekurangan

  • Plot amburadul
  • Kehilangan detail / penjelasan untuk poin plot penting
  • Tak sinkron dengan Kingsglaive
  • Jumlah summon terbatas dengan sifat acak
  • Tak ada opsi untuk mengendalikan sifat AI
  • Tak ada reward yang terasa pantas setelah mendapatkan Regalia F
  • Time skip 10 tahun super malas