Final Fantasy XIV: A Realm Reborn | Review Final Fantasy Online Square Enix

final fantasy xiv online a realm reborn

Free to play, kata yang satu ini memang tengah menjadi tren tersendiri di industri game. Alih-alih menuntut kamu untuk membeli sebuah game, developer kini gencar membangun popularitas dengan menyediakan game karya mereka untuk dijajal secara cuma-cuma. Tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, gamer berhak menikmati serangkaian konten yang ditawarkan, namun terkadang tetap dengan batasan tertentu. Sementara di sisi yang lain, developer mendapatkan keuntungan lewat popularitas dari akses game yang lebih mudah, sekaligus sistem microtransactions yang dirancang semenarik mungkin. Dari semua genre yang ada, MMO boleh terbilang sebagai salah satu yang seringkali mengusung mekanisme yang satu ini. Walaupun demikian, tidak sedikit pula yang tetap bertahan dengan cara “lawas” untuk bertahan, seperti yang dilakukan Square Enix dengan Final Fantasy XIV: A Realm Reborn.

Berujung blunder yang mematikan di awal rilisnya, komitmen Square Enix untuk menghidupkan kembali Final Fantasy XIV memang tidak main-main. Tidak hanya sekedar melakukan permak, mereka menarik game ini dari pasaran dan membangunnya dari awal. Merancang ulang sistem permainan, membangun kembali kualitas visual yang lebih pantas dengan perkembangan zaman, serta merombak konten yang ditawarkan, Final Fantasy XIV dilahirkan kembali menjadi “A Realm Reborn”. Berbeda dengan sebagian besar game MMO yang akhirnya jatuh pada format free to play, FF XIV ARR tetap ditawarkan sebagai game MMORPG dengan sistem bayar bulanan. kamu membutuhkan dana ekstra sekitar USD 15/bulan untuk dapat terus menikmati game yang satu ini.

Sudah dirilis sejak Agustus 2013 yang lalu di PC, FF XIV ARR akhirnya tiba di Playstation 4 bulan lalu. Kualitas visual yang hampir setara dengan kontrol yang dimaksimalkan untuk DualShock 4 menjadi keunggulan. kamu yang sempat membaca preview crew domain sebelumnya tentu saja sudah punya sedikit gambaran akan apa yang ia tawarkan, dari sekedar aspek visual hingga sekedar bayangan sistem gameplay MMO seperti apa yang membuatnya tampil unik.

Lantas, apa yang sebenarnya diusung oleh Final Fantasy XIV: A Realm Reborn ini? Mengapa crew domain menyebutnya sebagai sebuah game MMO yang pantas untuk mengusung sistem langganan bulanan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Terlepas dari fakta bahwa ia adalah sebuah proyek rombak ulang untuk si seri original yang secara konsisten mendapatkan kritik pedas, Square Enix memuat A Realm Reborn sebagai sebuah seri sekuel langsung. Setelah event terakhir di Final Fantasy XIV, Bahamut – sang primal berhasil keluar dari kurungan yang selama ini membelenggunya, mmlemparkan serangan yang akhirnya menghancurkan sebagian besar dari Eorzea – dunia utama dari FF XIV itu sendiri. Lima tahun setelah event yang disebut sebagai “Seventh Umbral Era” tersebut, Eorzea kembali berbenah.

Sisa-sisa kehidupan yang tersebar di tiga wilayah utama Eorzea – Gridania, Limsa Lominsa, dan Ul’dah berusaha menemukan hidup mereka kembali setelah event mematikan tersebut. DI tengah gempuran kerajaan dari Utara – Garlean yang memang mengusung persenjataan super canggih, ketiga benua ini mulai membangun kekuatan untuk memastikan diri dapat terus bertahan hidup. Di atas perjuangan tersebut lah, karakter utama kamu hadir. Muncul sebagai seorang pengembara misterius yang terus-menerus terlibat dalam beragam event penting, kamu perlahan namun pasti, mulai menemukan jati diri di balik identitas kamu yang sebenarnya.

Bergerak dari satu benua ke benua lainnya, dengan serangkaian quest utama dan sampingan yang ditawarkan, plot FF XIV: ARR berjalan dalam satu garis cerita yang harus diakui, dibangun dengan baik. Tak ubahnya sebuah game JRPG single player, kamu akan terlibat dalam jalinan cerita yang dibangun dengan runtut yang pantas untuk diacungi jempol, dengan ekstra voice acts dan desain karakter krusial yang juga tidak kalah menarik.

Lantas, siapa sebenarnya karakter utama yang tengah kamu gunakan? Takdir seperti apa yang tengah menantinya? Mampukah Eorzea bertahan dari semua konflik yang menyelimutinya? Semua pertanyaan ini akan bisa kamu jawab dengan memainkan FF XIV: ARR ini.

Job Sebagai Identitas Unik!

Memainkan sebuah game MMORPG di sebuah konsol dengan desain kontroler yang terhitung konvensional, Square Enix memang harus diakui, berhasil menghadirkan user-interface yang cukup intuitif dengan DualShock 4. Desainnya sendiri memang terkesan “berantakan” di layar, namun memuat semua hal yang kamu butuhkan. kamu memiliki ruang shortcut yang cukup banyak untuk mengakses semua fungsi esensial kamu, dari sekedar skill, hingga beragam item. kamu juga bisa memanfaatkan touchpad yang ada tak ubahnya mouse, untuk mengakses informasi yang kamu lihat di layar. Dengan menggunakan tombol options, kamu juga akan disuguhkan sebuah drop-down menu yang terbagi ke dalam berbagai kategori dan bisa diakses secara langsung. Satu-satunya kelemahan terbesar mungkin ada pada kesulitan untuk mengakses fungsi chat dan mengetik apapun yang kamu inginkan dengan cepat. FF XIV: ARR memang mendukung fungsi keyboard untuk mengatasi masalah yang satu ini.

Seperti tipikal sebuah game MMORPG, FF XIV: ARR tentu saja menyediakan kesempatan bagi kamu untuk menciptakan karakter dan “cerita” unik kamu sendiri. Proses kustomisasi karakternya sendiri boleh terbilang mumpuni, dengan kesempatan untuk membangunnya dari beragam ras yang ditawarkan – Hyur, Elezen, Lalafell, Roegadyn, dan Miqo’te (yang akhirnya menjadi pilihan utama crew domain). Namun terlepas dari ukuran masing-masing ras yang mungkin bisa diasoasikan dengan peran dan kelas di game MMO lain, FF XIV: ARR tidak mengusung prejudice tersebut. Pada akhirnya, peran kamu di dalam pertarungan berbasis tim akan sangat bergantung pada job yang kamu pilih. Mungkinkah menemukan si ras imut – Lalafell sebagai seorang tanker yang mumpuni? Sangat mungkin. Ras tidak berasosiasi dengan karakteristik karakter yang bisa kamu kembangkan.

Intisari FF XIV: ARR terletak pada sistem jobnya yang luar biasa luas, yang bahkan mencirikan seolah kamu tengah mengembangkan tidak hanya satu karakter, tetapi banyak karakter dalam satu kali permainan. Apa pasal? Berbeda dengan game MMORPG lain yang menuntut kamu untuk hanya memilih satu job – satu karakter dan terus bertahan dengan itu hingga akhir permainan, FF XIV: ARR memungkinkan kamu untuk mengganti job sesuka hati kamu. Tentu saja, selama kamu sudah mendapatkan job tersebut dari side-quest yang ada. Setiap job akan hadir dengan timeline cerita uniknya tersendiri yang berujung pada eksistensi quest-quest baru nan unik. kamu bisa mengubah job yang ada sesederhana dengan mengganti equipment senjata kamu dengan varian senjata yang memang menjadi milik job tertentu. Misalnya? Menggunakan kapak untuk langsung menjadi Marauder atau Staff sebagai Conjurer.

Bukankah sistem seperti ini tergolong “biasa”? Memang, namun keunikan lahir dari fakta bahwa Square Enix membangun sistem experience dan level berdasarkan job yang tengah kamu gunakan. Benar sekali, alih-alih satu karakter dengan sistem satu level, progress level karakter kamu sangat bergantung pada job yang mendapatkan experience tersebut. Misalnya? Ketika kamu menyelesaikan sebagian besar quest dengan job Conjurer yang kamu gunakan, maka hanya job tersebut yang mengalami kenaikan level. Ketika kamu berganti ke Marauder, kamu akan mengikuti level Marauder tersebut, dan status yang menyelimutinya.

Bukankah hal ini seperti memerangkap kamu untuk terus bertahan di satu area lemah hanya untuk mengembangkan job yang kamu inginkan? Square Enix membangun setiap wilayah utama – Gridania, Limsa Lominsa, dan Ul’dah sebagai kontinen terpisah yang mengusung ekosistem monsternya sendiri-sendiri. Ini berarti, setiap wilayah akan mengusung varian monster dari level yang paling rendah hingga yang paling tinggi, sehingga ada ekstra kebebasan dan kesempatan bagi kamu untuk mengembangkan level job karakter yang ada, termasuk ketika mengikuti aspek cerita yang ada. Hal inilah yang menjadi identitas FF XIV: ARR, dimana terlepas dari satu karakter utama yang kamu gunakan, kamu seperti tengah mengembangkan sejumlah karakter secara bersamaan. Kombinasi job yang dipilih juga esensial untuk mendapatkan level job yang lebih tinggi. Sebagai contoh, White Mage, misalnya, membutuhkan kamu memiliki job Conjurer level 30 dan Archanist di level 15 untuk dapat diakses. Mencari informasi lebih dahulu terkait job yang kamu inginkan di masa depan akan sangat membantu, sehingga kamu tidak menghabiskan waktu untuk mengembangkan job yang ternyata tidak berkontribusi pada job di level lebih tinggi.

Tidak hanya sekedar kelas untuk bertarung, karakter kamu juga bisa menjalani peran untuk job yang lebih “damai” – Disciple of the Hand and Disciple of Land yang tugasnya berkisar pada mengumpulkan resource dan melakukan crafting item, equipment, dan makanan untuk buff. Seperti halnya sistem job untuk bertarung, mekanisme yang ditawarkan juga tetap serupa. Semakin sering kamu melakukan crafting, semakin tinggi pula level kamu, dan semakin terbuka juga alternatif item dan equipment yang bisa kamu bangun. kamu bisa sekedar menggunakannya atau menjualnya via retainer – pegawai eksklusif kamu untuk menjualnya ke pasar terbuka. Dan seperti halnya sebuah job di dalam arena pertempuran, job-job “damai” ini juga memiliki guild dan quest uniknya sendiri-sendiri.

Gaya bermain kamu akan sangat ditentukan oleh job yang kamu gunakan. Terlepas dari faktanya sebagai sebuah game MMORPG, ada sedikit elemen action real-time yang dirasa kentara untuk FF XIV: ARR ini. Alih-alih hanya sekedar berdiri dan mengakses beragam skill dan terdiam menerima serangan, setiap musuh biasanya hadir dengan indikator serangan kuat yang memberikan kesempatan bagi kamu untuk lari menghindar. Terus-menerus melancarkan serangan terkuat sembari bergerak aktif akan menjadi kunci bertahan hidup. Setiap job tentu saja hadir dengan gaya bermain yang berbeda, dengan tata kelola resource yang juga unik. Conjurer yang notabene seorang healer misalnya, bermain dalam jarak aman dan MP sebagai fokus resource, sementara Marauder bergantung pada Stamina dan pertarungan jarak super dekat. Tidak sulit untuk menguasai setiap kelas ini, mengingat deskripsi setiap skill dan trait yang juga dibahas di dalamnya.

Dunia Tanpa Batas

Jika ada satu hal yang menjadi justifikasi terbaik mengapa FF XIV: ARR pantas mengusung sistem langganan bulanan, adalah fakta bahwa game MMO yang satu ini menyediakan begitu banyak konten hingga membuatnya seperti sebuah dunia tanpa batas. Dunia yang ia tawarkan memang terdengar begitu minim, dengan hanya tiga kontinen yang bisa diakses: Gridania, Limsa Lominsa, dan Ul’dah, namun petualangan seperti apa yang kamu temukan di dalamnya cukup untuk membuat kamu menghabiskan waktu puluhan jam satu kali main, dan tidak mengalami progress cerita yang signifikan. Mengapa? Karena ada begitu banyak hal yang akan mendorong kamu keluar dari jalan cerita utama.

Bergerak dari satu kota ke kota lainnya berarti bersiap untuk menghabiskan waktu menyelesaikan segudang quest yang ditawarkan. Mengusung sistem MMO yang lebih modern dimana experience points memang lebih bergantung pada quest yang berhasil kamu selesaikan, proses yang satu ini memang menjadi lebih esensial. Varian misi yang memang tidak begitu banyak dan sebagian besar masih terasa monoton – memusnahkan musuh dalam jumlah tertentu, berbicara dengan orang khusus, atau sekedar mengumpulkan item, seperti sebagian besar MMO yang ada. Quest ini seperti tak berbatas, dimana ia selalu muncul di setiap kota yang kamu temui.

Ditambah dengan semua job yang bisa kamu gunakan dan naikkan, kamu akan terus dituntut untuk mencari peluang untuk mendapatkan ekstra experience points, yang untungnya disediakan dengan sangat baik oleh Square Enix sendiri. Untuk memfasilitasi jeda waktu permainan yang mungkin tercipta karena kamu sibuk dan tidak bisa mengakses game ini dalam waktu tertentu, FF XIV: ARR hadir dengan sistem “Allowances” yang memungkinkan kamu untuk mengakses dan memicu sebuah quest khusus yang disebut dengan Levequest. Levequest terbagi atas tiga: Battlecraft, Fieldcraft, dan Tradecraft yang masing-masing membutuhkan aksi tertentu. Levequest menyediakan quest “sederhana” dengan reward experience points yang lebih masif. kamu hanya bisa mengakses quest selama jumlah Allowances kamu masih ada. Allowances akan terisi kembali dalam kurun waktu 12 jam sekali, untuk 3 allowances.

Menyelesaikan satu quest di Levemete sendiri sudah memakan waktu sekitar 15-20 menit. Membutuhkan hampir 1 jam untuk menyelesaikan hanya 4 buah allowances. Bayangkan jika kamu terpanggil untuk menghabiskan 16 allowances yang terhimpun selama vakumnya kamu bermain di hari kerja? Ini sudah memakan waktu yang lebih lama. Alternatif lain adalah ikut dengan quest lain bernama “Dungeons” dan “Guildhest”. Dungeons adalah sebuah quest berbasis tim yang meminta kamu menyusuri satu level tersendiri, yang biasanya berkaitan dengan cerita, dengan reward experience points paling masif. Menyelesaikan satu dungeons membutuhkan waktu lebih dari 40 menit. Sistem Guildhest yang lebih sederhana juga ditawarkan, dengan waktu penyelesaian lebih dari 30 menit untuk satu kali permainan. Berusaha mencari level dari semua sistem ini, tidak mengherankan jika hari kamu terasa sangat cepat berlalu. Apalagi ada banyak random event bernama FATE yang menuntut kamu menyelesaikan quest tertentu secara real-time bersama dengan player lain. Dengan reward exp yang signifikan, ada sensasi epic tersendiri ketika kamu terlibat dalam perang masif ini.

Jika sistem seperti Guildhest, Dungeons, dan Levemate sudah terasa lebih dari cukup untuk membuat kamu sibuk, Square Enix masih menyediakan serangkaian aktivitas ekstra lain yang berkaitan dengan job kamu yang lain dengan satu tujuan – berburu experience points yang lebih mudah. Ada Hunting Log, misalnya, yang meminta kamu untuk menemukan monster-monster spesifik yang tersebar di sudut Eorzea dan mengalahkannya dalam kuantitas tertentu. Terbagi ke dalam 10 kategori monster untuk setiap 10 level kamu, menyelesaikan Hunting Log akan membantu kamu mendapatkan points experience yang bisa lebih dikamulkan. Coverage untuk setiap area ini sendiri juga sangat luas, dimana kamu terkadang dituntut untuk bergerak dari satu kontinen ke kontinen yang lain. Ini hanya satu log saja, masih ada empat log dengan tugas-tugas ekstra lainnya menanti untuk kamu selesaikan, begitu kamu mendapatkan job yang tepat.

Sangat bisa dimengerti jika pada akhirnya, semua aktivitas ini akhirnya mendorong kamu menjauh dari quest utama, dan seperti halnya Skyrim, justru membuat kamu lebih sibuk untuk mengeksplorasi luasnya Eorzea dan terlibat dalam beragam side quest yang ia tawarkan. Saking tidak terbatasnya, cukup untuk membuat progress review FF XIV: ARR ini ternyata tidak berjalan sesignifikan yang crew domain bayangkan. Dua minggu dengan ekstra hari libur dan terus terlibat dengan game yang satu ini, crew domain hanya berhasil mencapai level 32 di job utama dengan satu ekstra job level tinggi yang akhirnya berhasil diakses.

Namun ada begitu banyak hal lain yang belum sempat crew domain akses, termasuk pertarungan melawan Primal yang lebih buas serta PvP yang sayangnya, menjadi tantangan tersendiri. Dan atas alasan yang sama puialah, kesimpulan di atas diambil. FF XIV: ARR berhasil membuktikan diri sebagai game yang pantas untuk mengusung sistem langganan bulanan, hanya karena dari fakta, bahwa kamu tidak akan pernah bisa berhenti memainkannya. Ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan, terlalu sedikit waktu untuk menjamin kamu bisa menyelesaikannya.

Solo atau Party?

Solo atau Party, ini mungkin menjadi pertanyaan esensial yang seharusnya dijawab terlebih dahulu, sebelum kamu memutuskan untuk berkomitmen untuk ikut dalam sebuah game MMORPG berbayar atau tidak. Mengapa? Karena terlepas dari nama yang ia usung – sebuah game multiplayer masif berbasis RPG, ada banyak gamer MMO yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain secara solo dan hanya ikut dalam party begitu memang dibutuhkan. Sementara di sisi lain, tidak sedikit MMORPG yang memang lebih optimal untuk dimainkan bersama dengan teman kamu di dunia nyata, untuk membangun strategi atau sekedar melakukan quest bersama. Lantas, dari dua ciri berbeda ini, masuk ke dalam kategori manakah FF XIV: ARR ini? Apakah ia game MMORPG yang bisa dimainkan secara solo atau menuntut kamu untuk melakukan party dengan gamer yang lain?

Bermain sebagai seorang Conjurer yang notabene merupakan seorang healer dalam pertarungan tim, Square Enix menyuntikkan list skill yang tetap membuka kesempatan bagi crew domain untuk melakukan farming dan quest yang ada sendirian, tentu dengan ekstra tantangan tersendiri. Di level-level awal, kesempatan untuk melakukan quest berbasis party juga tidak terlalu sulit. Square Enix menyuntikkan sebuah fitur bernama Duty Finder, yang akan membantu kamu mendapatkan party yang sesuai. Ia akan menggabungkan user lain yang tengah berusaha menjajal quest yang sama, dan memastikan setiap role dalam permainan – Healer dan Tanker memenuhi kuota yang ada. Sembari menunggu proses match-making ini, kamu bisa melakukan quest yang lain, setidaknya sebelum notificationnya keluar untuk langsung untuk menarik kamu ke quest yang bersangkutan. kamu juga bisa mengulang quest berbasis party yang sudah kamu selesaikan sebelumnya. Walaupun kamu bermain solo, kamu tetap akan mendapatkan party yang bisa dikamulkan, tentu saja, selama semua user ini memainkan perannya dengan sangat baik.

Sayangnya, fitur manis yang satu ini terasa sedikit “memble” ketika kamu mulai terlibat dalam quest-quest level tinggi, seperti yang crew domain rasakan. Baru saja memasuki level 32, kesempatan untuk mengakses quest Guildhest level 30 akhirnya terbuka via Duty Finder, bersama dengan kesempatan untuk ikut terlibat dalam arena pertempuran PvP yang tentu saja terdengar menarik. Jika proses matchmaking ini berjalan sangat mulus, apalagi mengingat job Healer crew domain yang terhitung “langka” untuk memenuhi kuota tersebut, crew domain masih gagal mengakses dan menyelesaikan kedua misi ini. Di momen paling ramai sekalipun – Sabtu dan Minggu, setelah menunggu lebih dari 45 menit, tidak satupun quest ini yang akhirnya berhasil diakses. Oieh karena itu, menjadi hal yang lebih rasional untuk mencari party secara manual, baik lewat situs sosial media ataupun lewat fitur Party Finder yang sayangnya, tidak banyak membantu. Alternatif terbaik adalah bergabung dengan server-server permainan yang didominasi oleh gamer FF XIV: ARR Indonesia yang lain – seperti Tonberry dan Tiamat, sehingga kamu bisa lebih mudah mencari bantuan dan orang, pastinya.

Selain sistem guild seperti ini, FF XIV: ARR juga mengusung satu konsep unik bernama Free Company. Guild yang dibangun oleh player sendiri ini memang difokuskan sebagai sebuah media bagi players dari beragam latar belakang job untuk saling membantu satu sama lain, apalagi ketika terlibat dalam quest yang membutuhkan party. kamu bisa membangun Free Company kamu sendiri atau ikut bergabung dengan FC yang sudah ada. kamu bisa mengumpulkan ekstra uang bersama, terutama untuk membeli sebuah rumah bersama di area yang sudah disediakan. Benar sekali, FF XIV: ARR memungkinkan kamu memiliki tempat peristirahatan kamu sendiri di sebuah area khusus, bahkan mendekorasinya dengan item-item super unik yang dibangun oleh karakter-karakter dengan job seperti Carpenter.

Jadi Solo atau Party? Tidak ada halangan berarti sebenarnya untuk menikmati game ini secara solo karena Square Enix sendiri menyediakan fitur untuk menggabungkan kamu dengan party secara acak ketika memang dibutuhkan. Sayangnya, seiring dengan level yang meninggi, fitur ini sendiri semakin tidak reliable untuk digunakan, apalagi jika Job yang kamu gunakan terhitung awam di pasaran – seperti Damager atau Tanker misalnya. Waktu antri yang super lama akan menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan, bahkan berujung menjadi masalah yang menjengkelkan. kamu yang bermain bersama dengan gamer lain dalam party tetap akan lebih diuntungkan. Pastikan dahulu kamu bermain di server yang sama.

It’s A Multiplayer Final Fantasy!

Terlepas dari semua alasan yang bisa dilontarkan, ada satu ekstra justifikasi untuk melirik FF XIV: ARR adalah ketika kamu terhitung gamer yang sudah familiar dengan franchise kamulan Square Enix ini di masa lalu. Mengapa? Karena bukan sebuah game yang hanya sekedar meminjam nama Final Fantasy sebagai nilai jual, FF XIV: ARR memang terasa seperti sebuah game Final Fantasy, hanya saja, kini dalam format multiplayer. Ada begitu banyak identitas unik franchise yang terus dipertahankan dan bahkan dieksploitasi lebih jauh. Tidak mengherankan jika kamu bisa merasakan sensasi familiar dan nostalgia di saat yang sama ketika memainkan game yang satu ini.

Tidak perlu jauh membicarakan mekanik gameplay atau cerita, tetapi hanya dari sekedar desain karakter dan kota yang hidup di dalam Eorzea. Ras unik dengan tampil wajah detail memanjakan mata, dengan serangkaian kostum dan job yang sangat identik dengan seri Final Fantasy masa lampau, FF XIV: ARR juga mengusung kota-kota penuh Crystal yang selama ini memang menjadi identitas utamanya. Selama perjalanan, kamu juga akan bertemu dengan musuh-musuh dan desain yang tentu saja tidak terasa asing lagi. Pertempuran melawan para monster yang dahulu menjadi “summon” di seri FF lawas seperti Ifrit, Bahamut, Ramuh, atau Titan menghasilkan pengalaman bermain super epic yang selama ini kita nantikan.

Beberapa tema utama juga mendukung sensasi ini. kamu bisa mengendarai Chocobo untuk bergerak lebih cepat melintasi dunia, sembari bertarung melawan Cactuar – misalnya, yang notabane merupakan salah satu desain monster Final Fantasy paling memorable. Setiap kali kamu mengendari Chocobo, sang theme song uniknya akan mengalun di latar belakang, seperti game FF yang pernah kamu mainkan di platform generasi yang lalu. Ketika kamu butuhkan? kamu juga bisa memanggil Chocobo ini sebagai teman bertarung dengan peran yang berbeda-beda. Chocobo ini bahkan mendapatkan skil dan set perintahnya tersendiri. Jika kamu memiliki dana ekstra dan merupakan salah satu pemain lawas FF XIV: ARR, kamu bahkan berkesempatan mengendarai Behemoth atau bahkan Magitek sebagai kendaraan utama. Looks badass! Nilai jual ekstra lainnya? Musik! Elemen yang satu ini juga dibangun dengan sangat baik.

Terkadang, Langganan Lebih Baik

Ini mungkin menjadi opini yang tidak terlalu populer, namun harus diakui, ada saatnya sebuah sistem langganan bulanan menjadi format yang paling tepat untuk menjamin kualitas sebuah game MMORPG, alih-alih bertahan dengan sistem free to play. FF XIV: ARR menjadi bukti yang paling valid.

kamu memang harus membayar dana ekstra untuk setiap bulannya, namun pengorbanan ini terasa jauh lebih nikmat daripada harus berhadapan dengan sebuah game MMO free to play yang mengusung sistem item mall dan mengeksploitasinya secara brutal. FF XIV: ARR menyediakan kepastian pengalaman yang super maksimal, tanpa bug signifikan, dan sistem item mall yang mungkin berpengaruh signifikan pada balancing permainan. Setidaknya progress permainan kamu yang sudah setengah mati dibangun selama beberapa bulan terakhir ini tidak akan tercederai oleh fakta bahwa gamer lain bisa saja sekedar membayar lebih mahal untuk mendapatkan level dan equipment lebih keren secara instan, sesuatu yang seringkali ditemukan di game F2P.

Kesimpulan

Sebuah penantian yang manis, sebuah penebusan yang luar biasa dari Square Enix, dan sebuah pengalaman MMORPG yang kuat dan berkualitas, tiga kalimat ini tampaknya sudah cukup untuk mengekspresikan sensasi yang ditawarkan Square Enix di FF XIV: ARR ini. Ada begitu banyak hal yang bisa kamu lakukan, dari sekedar memilih job, menyelesaikan sidequest, bergabung dalam guild, atau hanya sekedar memenuhi log yang tersedia di dalam permainan untuk extra experience points. Atau kamu termasuk gamer yang lebih suka menyelesaikan garis cerita utama, yang dibangun FF XIV: ARR dengan sangat baik lewat desain karakter, dunia, dan plot yang baik. Fakta bahwa ia mengusung begitu banyak identitas franchise Final Fantasy selama ini juga tidak bisa dipkamung sebelah mata, menjadikannya sebagai sebuah seri yang akan memuaskan hasrat para pencinta franchise JRPG fenomenal ini, terutama bagi mereka yang kecewa dengan seri Final Fantasy XIII.

Walaupun demikian, ada satu kekurangan cukup fatal yang crew domain rasakan ketika menjajal FF XIV: ARR selama dua minggu terakhir ini. Salah satu yang paling menyebalkan adalah fakta bahwa semakin tinggi level kamu, semakin tidak efektif pula sistem match-making untuk mencarikan kamu sebuah tim secara otomatis. Penantian bisa memakan waktu berpuluh-puluh menit, bahkan hitungan jam, tanpa hasil yang signifikan. Kekurangan yang lain juga dirasakan pada beberapa fungsi yang masih sulit diakomodasi oleh kontroler konvensional seperti DualShock 4, terutama ketika kamu berperan sebagai seorang healer. Bolak balik memilih target teman untuk heal dan musuh untuk membantu melontarkan damage menjadi sesuatu yang membingungkan, apalagi ketika kondisi pertarungan sangat hectic di FATE. Bencana besar.

Namun terlepas dari semua kekurangan tersebut, FF XIV: ARR terhitung sangat berhasil membuktikan diri sebagai sebuah game MMORPG yang pantas untuk ditawarkan dengan sistem langganan bulanan. Mengikuti stkamur “ada harga, ada kualitas”, FF XIV: ARR menawarkan sebuah kualitas game MMO yang pantas untuk diacungi jempol. Kebebasan eksplorasi, segudang aktivitas yang bisa dilakukan, dunia dan kesibukan yang hampir tanpa batas, dan desain “kosmetik” yang memanjakan mata, FF XIV: ARR adalah sebuah bukti, bahwa terlepas dari gerak free to play yang kini berubah menjadi gelombang mainstream, sebuah game MMO berbasis langganan bulanan masih menjadi sesuatu yang sangat relevan. Apalagi jika ia menawarkan pengalaman yang luar biasa!

Kelebihan

  • Desain karakter dan dunia yang luar biasa
  • Progress karakter berbasis job
  • Segudang side quest dan aktivitas yang bisa kamu lakukan
  • Duty Finder untuk mengakomodasi player solo
  • Sistem ekonomi yang seimbang
  • Minim bug
  • Identitas franchise Final Fantasy yang tetap dipertahankan

Kekurangan

  • Antrian Duty Finder yang terkadang terlalu lama
  • Beberapa fungsi permainan yang sulit diakomodasi DualShock 4