Fatal Frame : Maiden of Black Water

fatal frame maiden of black water

Fatal Frame, mendengar nama yang satu ini saja sudah cukup untuk membuat gamer yang sempat tumbuh besar dengan konsol Playstation bernostalgia. Ketika game-game horror lain menawarkan senjata api dan melee sebagai senjata, ia menjadikan kamera sebagai satu-satunya alat untuk menghadapi setiap ancaman yang ada. Ada sesuatu yang berbeda dengan implementasi sistem gameplay seperti ini. Ketika game horor racikan developer barat seperti Oulast atau Amnesia justru meminta kalian untuk menghindari sumber ancaman, Fatal Frame justru membalik psikologis tersebut. Satu-satunya cara kalian untuk menang adalah justru dengan menghadapi sumber ketakutan kalian secara langsung, semakin dekat, semakin baik.

kalian yang sudah sempat membaca preview tim domain sebelumnya tentu sudah punya gambaran yang lebih jelas soal Fatal Frame: Maiden of Black Water yang dirilis secara eksklusif untuk Nintendo Wii U ini. Lupakan sementara fakta bahwa Nintendo, entah karena alasan apa, memutuskan untuk membuat game eksklusif yang begitu diantisipasi ini hanya tersedia dalam format digital. Keputusan bodoh yang membuat banyak gamer Wii U dengan kapasitas storage terbatas harus menyediakan storage eksternal ekstra untuk menampung game Wii U dengan data terbesar sejauh ini tersebut. Sementara dari sisi gameplay, Koei Tecmo memperlihatkan tajinya untuk urusan desain karakter wanita yang memanjakan mata. Cita rasa Fatal Frame juga masih mengalir kuat dan tak melenceng dari identitas franchise yang selama ini kita kenal.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Fatal Frame: Maiden of Black Water ini? Mengapa tim domain menyebutnya sebagai sebuah game yang memawarkan kembali teror hantu Asia? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kalian.

Plot

Kompleks, ini mungkin kata yang langsung meluncur dari mulut kalian ketika pertama kali belajar memerhatikan plot yang ditawarkan oleh Fatal Frame: Maiden of Black Water ini. Memang, benang merahnya masih sama, bahwa kalian menjadi seorang karakter protagonis yang harus bertarung melawan para setan dan beragam fenomenal paranormal denganmenggunakan kamera khusus – Obscura. Bedanya? Tak lagi dua, kalian kini akan berperan sebagai tiga karakter utama dengan latar belakang cerita dan motif masing-masing. kalian akan berhadapan dengan mimpi buruk ini sebagai Yuri Kozukata, Ren Hojo, dan Miu Hinasaki.

Semuanya berkisar pada sebuah gunung angker bernama Hikami yang tak ragu untuk meminta korban jiwa jika siapapun berani untuk mendakinya ketika malam. Yuri berusaha mencari sahabat dekatnya – Hisoko Kurosawa yang menghilang tanpa jejak di gunung tersebut, sementara Miu mencari sang ibu – Miku Hinasaki yang juga mengalami nasib serupa. Sementara Hojo lebih berfokus pada usaha untuk membongkar misteri apa yang sebenarnya terjadi di balik angkernya Hikami. Apa yang membuat aktivitas paranormal di gunung yang melekat dengan aktivitas bunuh diri ini begitu kuat, apalagi ketika informasi yang didapat mulai membuka sebuah fakta yang mengejutkan.

Plot di Fatal Frame: Maiden of Black Water tak sesederhana yang dibayangkan. Walaupun pada akhirnya kalian akan menemukan benang merah pasti antara ketiga karakter ini, ia dipresentasikan lewat alur cerita maju mundur dengan pengenalan karakter-karakter baru yang tak sekuat yang dibayangkan. Satu-satunya cara utama untuk mengerti apa yang tengah terjadi hanyalah dengan membaca secara detail semua catatan yang kalian temukan di sepanjang perjalanan. Melewatinya? Selamat tinggal pada pemahaman dengan baik apa yang sebenarnya tengah terjadi. Karena kalian akan bertemu dengan budaya, aktivitas sekte sesat, pembunuhan secara brutal yang tentu saja butuh motif kuat untuk dirangkai.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan gunung Hikami ini? Mampukah Yuri, Miu , dan Ren mencapai misi mereka masing-masing? Misteri yang menunggu mereka? Tantangan seperti apa yang harus dihadapi? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kalian temukan dengan memainkan Fatal Frame: Maiden of Black Water ini.

Gamepad + Kamera Obscura = Luar Biasa!

Fatal Frame: Maiden of Black Water tetaplah seri Fatal Frame yang selama ini kalian kenal. Sebuah dunia misterius penuh dengan makhluk halus yang hanya bisa ditundukkkan dengan satu senjata – kamera Obscura. Inti gameplaynya sederhana. Seperti game survival horror pada umumnya, kalian akan berkutat untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya untuk mencapai progress cerita, melawan boss, menghadapi setiap ancaman yang muncul, dan berupaya untuk bertahan hidup. Satu-satunya cara untuk menghasilkan damage adalah dengan memotret makhluk-makhluk halus ini. Semakin dekat posisi mereka, atau semakin banyak target yang muncul di layar yang sama, maka semakin besar pula damage yang bisa “dipanen”. Fatal Frame: Maiden of Black Water masihlah sebuah seri Fatal Frame yang kalian kenal.

Bedanya? Kini kalian bisa menggunakan tiga karakter berbeda. Namun sayangnya, tidak dalam format ala GTA misalnya, yang memungkinkan kalian untuk menggunakannya kapanpun dan dimanapun kalian inginkan. Karakter yang kalian gunakan akan sangat bergantung pada chapter cerita yang tengah kalian jelajahi tanpa kesempatan untuk menggantinya. Tak hanya sekedar visual, karakter-karakter ini juga punya kemampuan berbeda yang bisa dimaksimalkan sesuai dengan chapter mereka. Hojo misalnya, diperkuat dengan sebuah lensa yang memungkinkan dirinya untuk melakukan Burst Mode, namun dengan waktu reload lebih tinggi. Sementara Miu bisa menggunakan Spirit untuk melambatkan waktu ketika memotret, meninggakan akurasi yang ada.

Sementara dari sisi Obscura-nya sendiri, kalian akan bertemu dengan mekanik super sederhana. Memotret makhluk halus dari beragam bentuk ini akan menghasilkan damage, sekaligus membuat kepingan jiwa mereka terpecah perlahan. Ia tumbuh menjadi sebuah target baru yang bisa dihancurkan dengan cara yang sama, dipotret. Jika gagal, ia akan kembali ke jiwa sang target dan memulihkan nyawa mereka. Berita baiknya? Ia jadi ekstra target yang jika dipotret bersama 4 target lainnya, ia akan menghasilkan damage ekstra.

Ada beberapa mekanik baru seperti Fatal Frame – sistem counter attack yang bisa dipicu jika kalian memotret para target ketika dalam posisi menyerang, tak hanya memberikan ekstra damage, tetapi waktu singkat untuk terus memotret tanpa reload. Sementara itu, ada pula Fatal Glance – dimana kalian bisa menyentuh arwah sekarat yang ada untuk menangkap kejadian masa lampau sebelum mereka berakhir jadi roh gentayangan. Mengumpulkan point dari serangan dan penyelesaian misi, kalian juga bisa memperkuat kamera kalian untuk meningkatkan damage atau sekedar mempercepat proses reload, dan tentu juga membuat beragam efek lensa kalian semakin efektif. Sebuah mekanisme yang tampaknya tak akan asing lagi untuk para gamer pecinta genre survival horror.

Lantas, apa yang membuat Fatal Frame: Maiden of Black Water ini terasa sangat spesial? Kunci utamanya terletak pada satu kata: GamePad Nintendo Wii U. kalian ingat kontroler raksasa ala tablet dengan layar besarnya tersebut? Tak sekedar bisa memperlihatkan peta perjalanan kalian atau menjadi layar kedua dengan konten yang sama, ia juga “jadi” kamera Obscura kalian sendiri. Benar sekali, ketika kalian masuk ke dalam mode memotret, GamePad kalian adalah kamera kalian!

Dengan melihat langsung ke GamePad, kalian bisa membidik, memotret, sekaligus memerhatikan seberapa efektif serangan kalian. Kerennya lagi? Mendukung fitur gyro yang ia usung, kalian seperti tengah memainkan sebuah game tablet ketika berusaha membidik dan menghancurkan mereka satu per satu. Seluruh ruangan adalah tempat bermain kalian karena kalian selalu bisa mengarahkan “kamera” kalian ini ke setiap sudut ruangan untuk mencari para makhluk halus yang seringkali berakhir muncul dan tenggelam sesuka hati. Ditambah dengan fakta bahwa mereka tak pernah dibatasi hukum fisika untuk tidak bisa menembus objek padat, ada keseruan tersendiri dengan implementasi fungsi seperti ini. Salah satu yang terbaik di Wii U, tak perlu diragukan lagi. Sayangnya, mengangkat gamepad ini dalam waktu lama, lengan kalian bisa jadi korban.

Walaupun demikian, sayangnya, ada beberapa masalah yang masih mengakar kuat di game yang satu ini. Pertama, adalah masalah kamera. Untuk sebuah game yang terkadang menuntut kalian bergerak cepat, apalagi ketika harus lari dari kejaran para roh dan berbalik menyerang, atau sekedar mencari clue yang ada, kamera di Fatal Frame: Maiden of Black Water adalah bencana besar. Kebanyakan yang terjadi adalah zoom yang terlalu dekat ke karakter dan tanpa memberikan detail lingkungan yang penting.

Keluhan kedua yang paling utama? Sistem kontrol gerak. Mereka mungkin terlihat seperti karakter wanita super manis yang lemah, namun menggerakkan karakter-karakter ini tak terasa berbeda dengan menggerakkan sebuah tank seberat puluhan ton di game-game perang terbuka. Geraknya tak seleluasa game action, namun tak sekaku survival horror di masa lalu. kalian mendapatkan kombinasi setengah-setengah yang kadang butuh waktu hanya untuk sekedar memutar karakter. Dikombinasikan dengan sistem kamera yang tak kalah buruk? Horor dalam pengertian teknis yang sesungguhnya.

Namun terlepas dari semua kekurangan tersebut, Fatal Frame: Maiden of Black Water tetap memenuhi apa yang dirindukan oleh gamer dari franchise yang sudah lama tak muncul ini. Apalagi, tak hanya sekedar menawarkan atmsofer yang mencekam, ia juga hadir dengan desain-desain makhluk halus yang fantastis. Favorit tim domain? Ketika kalian harus bertarung dengan roh wanita dengan jubah putih yang bergerak seolah ia tengah tenggelam di dalam air. Anggun, menyeramkan, dan memanjakan mata di saat yang sama. Desain-desain musuh yang harus kalian hadapi, terlepas dari minimnya keunikan yang ada, pantas untuk diacungi jempol.

Basah? Bukan Sekedar Sensualitas!

Air adalah elemen utama yang menjadi identitas Fatal Frame: Maiden of Black Water itu sendiri. Kita tidak sekedar membicarakan bagaimana air, basah, dan pakaian yang lengket ke tubuh dan transparan di beberapa tempat membuat karakter wanita memanjakan mata khas Koei Tecmo semakin bersinar di seri ini, tetapi juga bagaimana ia memainkan peran yang cukup penting dalam cerita dan gameplay. Air di sini bukanlah sekedar untuk memperkuat elemen sensualitas yang oleh Nintendo, sudah berusaha dikurangi dengan meniadakan kostum bikin untuk membungkam kritik yang mungkin muncul dari gamer Barat yang sensitif.

Di dalam cerita, air disimbolkan sesuatu yang suci tetapi juga terkutuk di Maiden of Black Water ini. Sebagian besar korban yang kalian temui dari sekte sesat yang aktif di sana tewas karena ditenggelamkan secara paksa d dalam air, menjadikannya sebagai sebuah elemen yang punya nilai horror tersendiri. Namun bukan itu saja, ia juga punya andil dalam gameplay. Karakter kalian yang terkena air, baik karena hujan, jatuh di kubangan, atau diserang oleh makhluk halus akan memperlihatkan efek basah yang tercermin lewat pakaian yang mulai transparan di beberapa titik. Efek basah yang ia tawarkan memang pantas diacungi jempol dengan efek rambut yang juga sama fantastisnya. Namun berhati-hatilah, karena basah bisa jadi akhir hidup kalian.

Sebuah status bernama “Wetness” diperkenalkan. Intinya, semakin basah karakter kalian yang tercermin lewat indikator dengan sebuah lambang bunga di dalamnya, semakin kuat pula serangan yang bisa dimunculkan dari Obscura. Berita buruknya? Efek serangan dengan damage tinggi ini harus dikompensasi dengan pertahanan yang jauh lebih buruk, yang berarti kalian akan menerima damage lebih besar. kalian juga akan lebih sering bertemu dengan makhluk halus yang ingin menyerang kalian di kondisi yang satu ini.

Untungnya, tak hanya Obscura, karakter kalian juga akan dibekali dengan segudang item penyembuh untuk meningkatkan kesempatan untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah Purifying Flame yang akan mengeringkan tubuh karakter kalian secara instan, atau sekedar Herbal Medicine yang akan menambah health kalian dalam persentase tertentu. kalian bisa “berburu” item-item ini atau menjadikannya sebagai prioritas belanja setiap kali berganti chapter dan level.

Terasa Repetitif

Ini mungkin sebuah keluhan ekstra lain yang pantas mendapatkan porsi pembicaraannya sendiri. Sebagai sebuah game yang dirilis di era modern saat ini, Fatal Frame: Maiden of Black Water memang menawarkan porsi waktu gameplay yang cukup panjang. Mereka harus memastikan bahwa setiap karakter yang muncul ini memiliki penjelasan yang lebih kuat soal latar belakang cerita, misteri, konflik, dan tentu saja “ending” untuk kisah mereka sendiri-sendiri. Untuk sebuah game dengan harga AAA, kalian yang melihat seberapa pantas sebuah game dimiliki hanya dari waktu gameplay mungkin akan melihatnya sebagai sesuatu yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Namun kalian yang mudah bosan mungkin harus sedikit waspada.

Dari sisi gameplay, tidak ada hal baru yang bisa kalian antisipasi dari Fatal Frame: Maiden of Black Water ini. Hampir sebagian besar varian musuh yang kalian hadapi memang memiliki bentuk dan aksi yang berbeda satu sama lain, namun semuanya bisa ditundukkan dengan strategi serupa yang berulang-ulang. Ketemu, foto satu-dua kali, lari menjauh, foto lagi satu-dua kali, menghindar jika dibutuhkan, dan seterusnya. Strategi sederhana ini akan bisa menyelesaikan hampir sebagian besar makhluk halus menyeramkan yang terlepas dari kecepatan atau motif geraknya, hampir tak butuh otak untuk ditundukkan sama sekali.

Rasa repetitif ini juga mengalir kuat dari desain level yang ada. Memang, waktu permainan yang ditawarkannya memang terhitung cukup lama, namun sebagian besar darinya akan dihabiskan dengan mengeksplorasi tempat yang sama berulang-ulang. Berita buruknya? Ini hampir terjadi di 3 karakter yang sama. Jika Yuri sudah mengeksplorasi sebuah kuil angker misalnya, maka besar kemungkinan 1-2 chapter setelahnya akan berisikan Hojo atau Miu yang mengeksplorasi tempat yang sama. Strategi desainnya? Ketika Yuri mengeksplorasinya, beberapa pintu akan terbuka dan beberapa misteri terlewatkan. Pintu-pintu ini akan terbuka ketika Hojo atau Miu mengunjunginya kembali, memperlihatkan puzzle atau tempat baru. Walaupun demikian, tetap harus dicatat, bahwa kalian akan sering tiba di tempat yang sama terlepas apakah progress cerita akan menawarkan kalian tempat yang baru atau tidak.

Apakah Fatal Frame: Maiden of Black Water minim variasi lingkungan? Tidak juga. Hanya setengah chapter saja kalian sudah menemukan bahwa ia sebenarnya menawarkan cukup banyak desain level yang menarik untuk dijelajahi. Berita buruknya? Desain seperti ini juga menihilkan kesempatan untuk berjalan dan bergerak bebas. Jika kalian bergerak ke sebuah jalan yang tidak semestinya kalian lalui, ia akan terhalang dengan peringatan tertentu dan meminta kalian untuk kembali ke tempat yang seharusnya. Tak hanya repetitif, ia juga terasa linear.

Apakah Menyeramkan?

Hampir sebagian besar dari kalian yang sudah sering membaca JagatPlay tentu sudah mengerti, bahwa saya pribadi – sang reviewer, bukanlah tipikal gamer yang senang dengan game horror. Cukup 1-2 buah jump scare di momen yang tepat sudah cukup untuk membuat popok orang dewasa ini basah dan menggantinya. Pertanyaannya kini, apakah Fatal Frame: Maiden of Black Water yang menawarkan atmosfer horror Asia bisa lebih menyeramkan dari game-game horror Barat selama ini? Jawabannya, tidak. tim domain sama sekali tidak merasa ketakutan atau cemas selama mencicipi game yang satu ini.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin berangkat dari psikologis bahwa berbeda dengan Amnesia atau Outlast yang meminta kalian untuk lari, kalian dibekali dengan kemampuan untuk mempertahankan diri atau melawan balik di Fatal Frame, menghasilkan sebuah sensasi yang lebih ke survival horror daripada sekedar sebuah game horor murni. Berdiam diri di pojok ruangan dengan keringat dingin tak akan menyelesaikan apapun di Fatal Frame, yang justru sangat mendorong kalian untuk berhadapan sedekat mungkin dengan sumber ketakutan. Kondisi psikologis seperti inilah yang mungkin membangun benteng pertahanan sendiri.

Sementara dari desainnya sendiri, ia tak berada dalam tahap yang cukup untuk membuat kalian harus terus merasa cemas dan takut. Hutan, kuil, ataupun sebuah panggung penuh boneka yang ada memang cukup membuat atmosfer terasa tidak mengenakkan, namun tak akan sampai pada batas membuat kalian hendak lari. Desain makhluk halus yang kalian temukan justru keren dan jauh dari kata menyeramkan. Beberapa momen jump scare yang seharusnya efektif juga ternyata tak didukung dengan kualitas audio yang memadai, sehingga berujung meleset dari respon yang diinginkan gamer, termasuk tim domain. kalian memang akan mengalami beberapa momen terkejut, namun tak akan sampai batas menolak untuk melanjutkan game ini hingga selesai.

Fatal Frame: Maiden of Black Water adalah sebuah game survival horror yang lebih kental dengan suasana survival daripada horrornya sendiri. kalian memang akan menemukan makhluk halus yang bergentayangan dengan segudang aktivitas di kiri dan kanan untuk kalian tangkap momennya, namun hingga membuat bulu kuduk kalian merinding? Sejauh ini, tak sekuat itu.

Kesimpulan

Jadi, apa yang bisa disimpulkan dari Fatal Frame: Maiden of Black Water ini? Sebuah rasa lega dan senang untuk melihat bahwa franchise klasik yang begitu luar biasa di masa lalu ini akhirnya menemukan jalannya kembali ke pasar Barat. Walaupun tak banyak berbeda secara mekanik gameplay, namun fakta bahwa ia mengimplementasikan kamera Obscura dengan GamePad Wii U melahirkan pengalaman bermain yang unik dan menegangkan. Apalagi ketika dengan fitur gyro yang ada, kalian mulai memutar tubuh kalian untuk bisa membidik para makhluk halus ini dengan lebih efektif. Apalagi kalian bisa menangkap foto mereka tak hanya secara horizontal, tetapi juga vertikal untuk area cakup serangan lebih efektif. Kostum ekstra, upgrade kamera, atmosfer dunia yang pantas diacungi jempol, dengan desain karakter wanita yang memanjakan mata, jadi nilai jual tersendiri.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir tanpa kekurangan sama sekali. Selain keluhan soal kamera, kontrol yang kaku, dan desain misi yang terasa sangat repetitif, game ini juga memuat masalah pelik lainnya – plot yang terlalu kompleks. Terlalu banyak pihak terlibat, terlalu banyak karakter yang muncul seolah sebagai “The Big Bad Wolf” dan berakhir tak signifikan tanpa latar belakang yang jelas, dan tak menawarkan apapun untuk menjadi pegangan kuat yang kalian penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak akan mengherankan jika gamer yang tidak senang dengan gameplay repetitif mungkin akan meninggalkan game ini begitu saja tanpa pernah menyelesaikannya.

Namun terlepas dari kekurangan tersebut, Fatal Frame: Maiden of Black Water tetaplah sebuah produk game survival horror yang menarik untuk dimiliki, terutama oleh gamer Wii U. Menjadi sesuatu yang membahagiakan bahwa setelah dikuasai oleh developer barat untuk waktu yang lama, sebuah game horror bertema Asia akhirnya mengemuka dengan identitas franchise yang tetap kuat. Tapi, tim domain sendiri tidak menyarankan kalian untuk membeli game ini secepat mungkin dengan harga tinggi, apalagi mengingat statusnya yang hanya tersedia secara digital saja. tim domain lebih merekomendasikan kalian untuk menunggu harga game ini turun ke tingkat yang lebih rasional sebelum dijajal.